-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Usaha dalam memerangi Pemanasan Global


Udara disekeliling semakin panas?
Nyamuk-nyamuk semakin banyak?
Semakin banyak wabah penyakit yang muncul?

Ya. Hal-hal tersebut adalah efek sebagian kecil dari pemanasan global atau Global warming. Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi yang disebabkan efek gas rumah kaca. Suhu peningkatan tersebut mencakup atmosfir, laut dan daratan Bumi. Gas rumah kaca yang dimaksud disini bukanlah rumah kaca, tapi merupakan proses pemanasan permukaan bumi yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.

Efek rumah kaca oleh sebagian ilmuwan dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (ini yang menyebabkan pemanasan global).

Tahapan proses terjadinya efek rumah kaca kurang lebih ialah sebagai berikut:
Laut dan daratan memanas karena sinar matahari. Permukaan bumi yang memanas ini, kemudian meradiasikan panas dalam bentuk sinar inframerah keruang angkasa. Sebagian sinar inframerah tersebut diserap oleh gas-gas rumah kaca yang terdapat di atmosfer, seperti uap air dan karbon dioksida. Dengan demikian panas terperangkap, tidak dapat lepas keruang angkasa, sehingga suhu permukaan bumi menjadi bertambah.

Jika efek rumah kaca tidak ada, suhu permukaan bumi akan menjadi 33 derajat celcius lebih rendah dibandingkan sekarang, sehingga berada dibawah titik beku air. Jadi dalam kondisi normal, efek rumah kaca ini sebenarnya diperlukan, agar bumi menjadi nyaman untuk dihuni. Tetapi dalam kadar yang optimal.

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya. Jumlah pertumbuhan manusia dan semakin pesatnya teknologi merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan emisi karbon ini.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Pemakaian freon AC (Air Conditioning), pupuk NPK pada pertanian merupakan salah satu aktivitas manusia yang menambah gas rumah kaca.


Pada kenyataannya saat ini yang terjadi adalah aktifitas manusia yang melepaskan karbon berlebihan, telah mengganggu daur karbon ini. Akibatnya kadar karbondioksida di atmosfer bertambah tinggi. Kemudian meningkatkan efek rumah kaca yang menyebabkan naiknya suhu rata-rata permukaan bumi

Global Warming sendiri kini sudah tidak lagi menjadi isu tapi kenyataan yang perlu segera disikapi dan ditanggapi dengan serius.

Dengan pengalaman saya sampai saat ini, dengan hanya melakukan dan mengikuti beberapa pelatihan-pelatihan. Seperti pada tahun 2008 saya mengikuti Youth Leaders Conference di International Binus University. Pada acara tersebut diberikan pelatihan-pelatihan yang membuat pesertanya yang tidak lain adalah masyarakat Indonesia menjadi tersadar bahwa lingkungan kini telah “berteriak meminta tolong” untuk segera dibenahi. Padahal setelah kita pelajari lebih lanjut yang membuat rusak lingkungan itu sendiri adalah manusia. Dan hanya yang bisa mengubahnya adalah kita, maka dari itu di pelatihan itu diminta kami sebagai kaum muda untuk “bergerak”. Di tahun yang sama, saya mengikuti seminar ”Global Warming” Universitas Bina Nusantara. Pada acara itu, benar-benar mata hati saya terbuka untuk menjaga bumi tempat tinggal manusia satu-satunya di dunia ini. Mulai pada saat itu saya mulai menggalakkan hemat air untuk saya dan keluarga saya, walau itu hanya satu tetes tapi itu adalah salah satu bentuk upaya untuk melestarikan air. Kenapa tidak langsung saya berteriak keluar atau berdemo ke jalanan untuk menggalakkan gerakan hemat air ini? Karena pada dasarnya perubahan dapat terjadi dari hal yang paling kecil dan dasar, yaitu diri kita sendiri. Setelah diri sendiri dapat melakukan perubahan, barulah sebarkan ke lingkungan yang terdekat yaitu keluarga dan teman-teman sekitar. Setelah diri kita dan lingkungan telah berubah, di saat itu lah titik kita bisa mengubah bangsa kita.

Akhirnya pada tahun 2009, kami mulai mendirikan sebuah wadah sebagai inspirasi mahasiswa, khususnya mahasiswa UAI. Terinspirasi dari seminar, pelatihan dan kesadaran yang ada, bahwa kita memang perlu “bergerak”. Young Leader Forum(YLF), merupakan wadah yang diciptakan sebagai cetakan mahasiswa yang siap memimpin dan mengembangkan minat dan bakat mereka. Baik dalam bidang ekonomi, komunikasi, jurnalistik bahkan biologi sekalipun. Cetakan ini, tidak hanya ingin membuat mahasiswa UAI berkembang,tetapi ingin mempraktekkan dalam diri sendiri, lingkungan kampus bahkan ke luar kampus. Tidak menutup kemungkinan, hadirnya mahasiswa luar ataupun masyarakat umum pada YLF. Munculnya YLF juga cukup mendapatkan simpat yang baik dari bapak rektor dan wakil rektor UAI beserta seluruh staf civitas akademika UAI.

Pada tanggal 22 Januari 2011 lalu, tepatnya di Putera Sampoerna School of Education (SSE) dilaksanakan sebuah conference yang bertujuan mencetak kader-kader yang menciptakan aksi nyata untuk sustainable development yaitu IYMC (Indonesian Youth Mini Conference) 2011 dihadiri sekitar 70 Anak muda yang dilatarbelakangi background bermacam-macam baik dalam jurusan sains maupun sosial. Hasil dari conference itu ialah sama pada intinya yaitu. Jika anda ingin mengubah bangsa ini untuk menghadapi pemanasan global yang bukan menjadi sekedar issue tapi sebagai kenyataan dan fakta yang telah hadir di depan mata kepala kita sekarang. Dari setiap sesi-sesi conference itu semakin membuka mata bahwa begitu banyak usaha yang dilakukan anak bangsa. Pada cluster inovasi teknologi lingkungan,salah satu pertama bangsa negara ini telah meriset bagaimana mereduksi cemaran pada air dengan menggunakan teknologi photoportable untuk cemaran bakteri, logam berat dan senyawa kimia. Kemudian salah satu bibit-bibit pemimpin bangsa ini mengemukan penelitiannya tentang electronic plant prototype.

Mereka adalah salah sedikit dari karya anak bangsa ini. IYMC 2011 hanyalah segelintiran conference,seminar ataupun workshop yang berlandaskan “climate change” ataupun “sustainable environment”. Dipastikan masih banyak karya anak indonesia yang berazaskan green care.

Hanya perlu satu teori yang ditancapkan ke dalam otak kita itu semua akan berguna apabila kita implemantasikan secara nyata ke dalam hidup kita. Artinya pemanasan global tidak menunggu janji-janji manis anda, ia hanya perlu sati yaitu langkah kongkret kita. Inovasi ataupun teknologi pendukungnya sangat mendukung juga, tetapi hasil itu akan menjadi nihil apabila seluruh lapisan masyarakat tidak dapat melakukan gerakan nyata dalam memerangi fakta pemanasan global ini.

Apa saja langkah nyata yang bisa lakukan?

1. Hematlah penggunaan kertas

Setiap lembar atau setiap sentimeter kertas yang kita pakai, maka kita telah menebang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Sebagaimana kita tahu di dalam dunia sekolah, perkuliahan dan perkantoran tidak dapat dihindari yaitu penggunaan kertas. Mulai dari tugas, catatan dan laporan. Semua itu pasti menggunakan kertas, karena saya mahasiswa usaha yang bisa saya lakukan adalah menggunakan kertas bekas layak pakai seperti bekas print untuk dipakai dalam memakai catatan. Bayangkan saja jika kita selalu memakai kertas baru terus, kalau satu mahasiswa mengambil 7 mata kuliah dan setiap satu mata kuliah menghabiskan 3 lembar kertas A4 tiap minggunya, berapa kertas yang dihabiskan oleh satu mahasiswa setiap semesternya? Bagaimana dengan 100 mahasiswa? Apalagi dengan seluruh mahasiswa di Indonesia.
Solusi ini yang diterapkan di Universitas saya yaitu Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), jurusan Bioteknologi. Setiap semesternya selalu ada praktikum dan setiap minggunya pasti akan menggumpulkan laporan praktikum. Oleh karena itu mulai tahun 2010 ini asisten praktikum memberikan kebijakan untuk setiap laporan praktikum struktur hewan dan struktur tumbuhan dapat menggunakan kertas bekas layak pakai seperti bekas print. Hal ini bukan karena tanpa tujuan apapun. Jelas hal ini sangat berguna, selain menghemat pengeluaran mahasiswa dengan hal tersebut penggurangan pemakaian kertas yang berlebihan pun terjadi. Setiap mahasiswa perminggunya rata-rata harus menggeluarkan 10 halaman kertas ukuran A4 hanya untuk membuat laporan. Bagaimana untuk catatan mata kuliah dan keperluan lainnya?

Catatan kuliah dapat memanfaatkan dari kertas bekas print tadi, maupun bekas kalender yang berbahan jenis kertas. Penggunaan kertas bekas mulai digalakkan kembali, mulai dari saya dan teman-teman seangkatan di kelas saya. Walaupun usaha kami tergolong hanya minim dan hanya mengurangi hanya berapa 0,..% saja, tetapi setidaknya kami mengurangi bukan menambah.

2. Pakai baju bekas

Apalagi banyak bahan kain sintetis yang mengandung minyak bumi. Bahkan katun yang berasal dari kapas ternyata mengandung pestisida. Semakin banyak baju yang kita pakai berati kita menambah beban pestisida menyebar di muka bumi ini kan? Selain efek rumah kaca, pemiskinan sumber daya hayati pun dapat terjadi.

3. Mengganti pemakaian tissu dengan sapu tangan

Sebagaimana yang kita tahui bersama,penjualan tisu semakin marak dengan harga yang cukup murah sebesar Rp 2000 per kemasan dengan 50 lembar tiap kemasannya. Semakin banyak konsumen yang membeli barang tersebut. Selain murah, tisu memang lebih praktis penggunaannya. Baik untuk mengelap keringat ataupun aktivitas di toilet.
Pernah terbayang ternyata aktivitas di toilet sangat berpengaruh terhadap pemanasan global. Tissue terbuat dari pulp (bubur kertas) yang berasal dari batang pohon akasia dan eucalyptus yang diproses secara kimia. Jutaan ton tisu toilet diproduksi dari sebuah lahan hutan tropis yang digantikan kebun kayu akasia dan eucalyptus. Selain mengurangi pohon sebagai “penghisap gas rumah kaca”, Semakin menyusutnya luas hutan akan berdampak erosi tanah yang menandakan ketidakmampuan tanah untuk menyerap air tanah.

4. Mengganti lampu.

Lampu pijar membutuhkan energi yang lebih banyak dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya daya listrik yang kita pakai maka kita turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Sumber bahan bakar fosil yang bersifat tidak dapat diperbaharui dan terbatas karena bahan bakar fosil ini termasuk bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis. Tentu kita tidak ingin anak cucu cicit kita nanti kehabisan sumber penerangan.


5. Menghindari Screen Saver
Matikan atau shut down Komputer, jika tidak akan digunakan dalam jangka lam. Atau apabila terpaksa meninggalkan komputer dalam keadaan menyala, matikan screen saver karena mengaktifkan screen saver komputer akan memakan energi dan mengeluarkan emisi CO2.

6. Menghentikan pemakaian kantong plastik
Pada beberapa waktu yang lalu di penghujung tahun 2010, sekitar tanggal 29 Desember 2010. UAI mendapatkan kunjungan luar negeri yaitu dari USM (Universitas Sains Malaysia) mereka bercerita bahwa di universitas mereka pemakaian kantong plastik dan steroform telah dilarang dengan keras. Bahkan di beberapa Negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bahkan sampai dibuat undang-undangnya segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah Negara setempat unutk melarang penggunaan kantong plastic sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah dikarenakan efek Gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Alternatif lain untuk menghindari pemakaian kantong plastik dengan menggunakan kantong-kantong yang dapat memuat barang bawaan kita.

7.  Membuka jendela
Di Amerika , sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Membuka jendela rumah lebar-lebar dapat meminimalkan gas buang yang berasal dari peralatan rumah tangga, sirkulasi udara yang terjebak dapat mengkonsumsi energi.

8. Gunakan pupuk organik.
Semakin banyak pertambahan populasi penduduk dunia, maka semakin banyak keperluan konsumsi pangan dunia. Hal ini terhubung dengan pertanian. Oleh karena itu, pertanian dapat semakin besar dan itupula yang menyebabkan permintaan pupuk makin bertambah. Pupuk yang digunakan kebanyakan petani selama ini mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada CO2. Selain itu pupuk organik mampu menyuburkan tanah.

9. Menanam rumpun bambu
Hal yang telah kita tahui bersama bahwa pepohonan terbukti mampu menyerap CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerap CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lain.

10. Mengurangi makan daging sapi
Apa hubungannya daging sapi dan gas rumah kaca? Setiap kilogaram daging sapi yang kita makan, setara dengan menyalakan bola lampu 20 watt selama 20 hari. Hal ini diakibatkan produksi ternah menghasilkan 51% GRK karena menghasilkan gas buangan metana (CH4) yang terakumulasi. Dengan mengurangi konsumsi daging sapi. Selain mengurangi asupan kalori yang tinggi, kita juga dapat mengurangi sumbagan emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan ke atmosfer.

11. Membeli produk lokal
Produk lokal tentu tidak memerlukan jalur distribusi yang panjang dan membutuhkan banyak bahan bakar. Ini berarti mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan mobil-mobil pengangkutnya. Dengan membeli produk sayuran atau buah-buahan sesuai musimnya. Hal ini akan menghemat biaya transportasi dan menghindari harga jual yang mahal.

12. Hidup efisien
Baik dari segi pola konsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya sangat mempengaruhi dan berdampak bagi bumi kita. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya.

13. Memeriksa tekanan ban
Setiap sebelum berpergian, hal yang sangat krusial yakni memeriksa tekanan ban kendaraan. Kenapa? Karena ban yang kurang angin akan memperlambat laju kendaraan dan akhirnya akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak.

14. Gunakan kendaraan umum
Transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Apabila kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang. Hal tersebut tentu sangat hemat energi. Dibandingkan dengan kendaraan pribadi sperti sedan yang hanya mengangkut maksimal empat orang. Selain mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, hal ini dapat mengurangi tingkat kemacetan di jalan raya.

15. Mengemudi dengan cerdas
Mengurangi aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi seperti menghindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, ataupun mungkin memotong jalan. Hal-hal tersebut sangat berguna bagi penggurangan efek rumah kaca. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. ketika menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai.

16. berpikir cerdas, Make it change!
Jangan berpikir mumpungisme,mumpung ada tisu, mumpung kertas banyak, mumpung ada diskon kemudian beli baju baru. Berfikirlah cerdas sebagai kaum muda. Bagaimana kalau pola pikir seperti ini menjerat 10, 100 atau bahkan seluruh anak muda bangsa ini. Bumi akan segera mengalami kerusakan yang lebih parah tentunya. Bergerak lah dan membuat perubahan, harus dimulai dari diri sendiri

Harapan saya ke depan, masyarakat Indonesia menyadari tentang permasalah lingkungan kini yang sangat nyata. Bukan menyelenggarakan seminar yang dananya berpuluh-puluh juta, tapi action langsung yang sangat dibutuhan oleh lingkungan hidup. Memang seminar adalah salah satu bentuk penyalur ilmu, tapi alangkah baiknya jika dana tersebut lebih dialokasikan ke arah yang lebih real untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Lingkungan tidak membutuhkan manusia yang no action talk only. Mulai dari diri sendiri, kalau bukan kita siapa lagi?
Hidup seperti gaung, kau akan mendapatkan apa yang kau pantulkan.
Lets walk the talk, don’t be NATO (No Action Talk Only)
Make it change!!
Salam,
Shafira Adlina
Related Posts
Lebih baru Terlama

Related Posts

Posting Komentar