-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Social Distance dan Ketidaksiapan Warga Indonesia




Akhir akhir ini kita dihebohkan dengan merebaknya penyebaran virus corona di seluruh dunia. Awalnya kebanyakan orang indonesia yang antipati dengan virus tersebut karena meraaa jauh jaraknya dengan Cina, namun hingga akhir statusnya ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 12 Maret 2020 menimbulkan begitu banyak
kecemasan dan spekulasi dari berbagai pihak.




Apa itu virus corona?

Istilah virus corona adalah pada virus yang sering ditemukan menginfeksi binatang dan bisa menyebar ke manusia.

Virus corona yang saat ini mewabah bernama SARS-CoV-2 dan menyebabkan penyakit COVID-19 merupakan jenis virus corona ke-7 yang menginfeksi manusia. Nama penyakit berbeda dengan nama virus seperti penyakit cacar air disebabkan virus Varicella zoster.

Bagaimana virus corona menyebar ke manusia?

Virus Corona yang menyerang manusia baru ditemukan pada 1960-an.

- Dalam kasus Mers ditularkan dari unta ke manusia

- Dalam kasus SARS ditularkan dari musang ke manusia

- Dalam kasus COVID 19 diduga ditularkan dari kelelawar ke manusia

- Dalam kasus penularan antar manusia melalui kontak droplet/ air liur ketika bersin ketika penderita batuk atau bersin

Berapa lama inkubasi virus? 2-12 hari. jadi ketika hari pertama terinfeksi virus, gejala-gejala baru bermunculan setelah 2-12 hari ya Temans.

Seperti yang kita ketahui beberapa waktu ini, secara perlahan pemerintah pusat juga daerah bertahap melakukan kebijakan-kebijakan yang terukur. Mulai dari menutup tempat-tempat umum. Kemudian sekolah-sekolah diliburkan bahkan kebijakan untuk work from home.

Ternyata masih ada orang-orang yang ignorance atau merasa sakti mandraguna sehingga mengacuhkan warning social distance di saat begini. Sabtu kemarin, Senior saya di komunitas Forum Indonesia Muda (FIM) bercerita bahwa di MRT banyak rombongan para orang tua yang hendak pergi reuni dengan seragam yang sama, anak-anak yang diajak jalan-jalan orang tuanya atau flyer-flyer bertebaran di grup-grup WhatsApp ajakan senam bersama atau kumpul-kumpul bersama bertajuk “tidak takut corona”.


Panik akan menurunkan imunitas
Rasa cemas, panik akan memberikan respon pada tubuh untuk cepat melakukan perlindungan untuk memastikan keamanan. Reaksi emosi cemas ini positif dan baik apabila dirasakan dan direspon sewajarnya. Tetapi apabila direspon secara berlebihan atau reaktif akan menyebabkan suatu Gangguan Cemas (ANSIETAS)
(dr.Lahargo Kembaren, SpKJ )


Setuju, panik memang tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi masa iya, segitu banyaknya informasi dan berita yang beredar hadir tidak membuat skala prioritas. Jangan sampai hanya menuntut kesigapan pemerintah, tetapi kita tidak punya regulasi diri untuk menahan diri.

Karena meski daya tahan tubuh kita tunggu, tapi kita bisa sebagai pembawa/carrier virus corona yang bisa menularkan ke orang lain seperti orang tua yang sedang memiliki imunitas rendah.

Apa sih itu social distance?

Beberapa hari ini kita mendengar istilah social distance, membuat kita bertanya-tanya apakah social distance itu? Definisi singkatnya adalah menjaga jarak antar warga. Menahan diri untuk menjauhi kerumunan dan membatasi keinginan untuk keluar rumah tanpa keperluan yang penting. Memindahkan pekerjaan, sistem pendidikan secara online/ daring, membatalkan atau menunda rekreasi dan kegiatan-kegiatan yang bersifat massal. Mungkin hal tersebut sulit atau membuat tidak nyaman, menjengkelkan, dan mengecewakan. Tetapi hal tersebut itu layak kita lakukan dengan resiko yang akan kita hadapi, tengoklah ke negara-negara yang sudah mengalami wabah ini terlebih dahulu.

Banyak yang berkelih mengenai karena data fatality rendah. "Wong data kematiannya kecil kok cuma 2%"

Tapi yang membuat kekhawatiran adalah penyebarannya. Coba kita pikirkan semakin banyak yang sakit semakin banyak yang ingin mendapatkan fasilitas kesehatan baik di rumah sakit, klinik, puskesmas ataupun itu. Bagaimana dengan orang-orang yang menderita penyakit lain yang lebih penting dan fatality rate/ angka kematian yang jauh lebih tinggi? Apakah mereka bisa mendapatkan pertolongan memadai.

Jangan sampai kita mendapatkan situasi dimana para tenaga kesehatan terpaksa memilih pasien yang mana yang harus menunggu. Tentu semua orang tidak menginginkan hal tersebut kan.


Adakah yang sudah membaca berita bahwa Deputi V BIN(Badan Intelejensi Negara) Afini Boer mengatakan puncak penyebaran infeksi virus Corona diprediksi terjadi 60-80 hari sejak pertama kali diumumkan. Kalau kita hitung berarti pada April-Mei saat memasuki bulan Ramadhan berdasarkan permodelan yang dilakukan mereka. Ya Salam.


Sebelum outbreak di Indonesia (jangan sampai ya) masa kita tidak bisa menahan diri untuk mengurangi aktivitas keluar rumah? Kalau ga penting-penting amat, atau minimal jaga kebersihan lebih baik dengan cuci tangan sehabis memegang barang-barang yang dipegang banyak orang/fasilitas umum. atau jalanin etika hidup bersih seperti

1. Tutup hidung ketika bersin atau dengan bagian dalam sikut

2. Buang tisu setelah bersin pada tempatnya

3. Segera cuci tangan dengan air dan sabun atau pembersih tangan

4. Jangan meludah sembarangan

Selain DISPLIN menjaga kebersihan diri dan lingkungan sesuai panduan yang diberikan oleh pihak kesehatan masyarakat usahakan di ruang terbuka dan berjemur matahari. Serta hindari tempat tertutup & lembab seperti ruangan berAC.


Mulai dari diri kita, mulai dari yang kecil dan mulai sekarang ya!


Salam


Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

26 komentar

  1. Wah bener nih panik membuat imunitas menurun, waspada yes panik no ya mba. Semoga segera mereda wabah ini, Aamiin ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Mbak Steffi, jangan oanik tetap waspada hehe

      Hapus
  2. keep calm. keep strong. banyak berdoa agar selalu diberikan kesehatan dan dijauhkan dari segala macam virus yang berbahaya

    BalasHapus
  3. Siap tidak siap kita harus siap... mulai dari social distance, bersih bersih tubuh dan tidak panik, tetap tenang dan tetap berfikir positif..semoga kita semua sehat dan dijauhkan dari sakit penyakit

    BalasHapus
  4. Iya bener banget mbak, menghadapi virus ini kita tidak boleh panik. Sebab akan menurunkan imun. Yang harus kita lakukan adalah menjaga kesehatan dan juga kebersihan. Semoga penyakit ini cepat berlalu dan kita bisa beraktifitas kembali seperti biasa

    BalasHapus
  5. Kemaren sedih lihat berita. Begitu pemprov Jakarta umumin work from home dan school from home, Puncak langsung macet gila 2 hari kemudian. Eh ladalah orang tua pada ngajak anak liburaaaaaaan. Pengen ketawa takut #rossa saya. Semoga pandemi ini cepat berakhir. Kalo benar puncaknya Ramadhan, ya salam, alamat gak mudik ke Jakarta saya ini.

    BalasHapus
  6. Saya berada di wilayah yang berstatus waspada jadi sebagian masih beraktivitas seperti biasa cuma emang kerasa bgt sepinya. Dan sepertinya minggu depan mulai ada kebijakan baru, anak-anak sekolah diliburkan. Semoga segera berlalu ya teh

    BalasHapus
  7. Di Kaltim sudah siaga juga Mbak karena Pak Wali dan Gubernur sudah mengumumkan ada warga yang terinfeksi di beberapa daerahnya termasuk di Balikpapan. Duhh. Kalau sekolah anak-anak saya sudah meniadakan berjabat tangan Mom.

    BalasHapus
  8. Xixixi.. sakti manda guna ya mbak. Padahal social distance ini adalah bentuk ikhtiar kita ya. Walaupun sekarang persentasenya kecil sangat memungkinkan menjadi besar seperti di china, korsel dan italia.

    BalasHapus
  9. Sebaiknya memang nggak panik. Tapi jangan juga jumawa hingga ada kata-kata nggak takut corona atau sejenisnya. Karena itu juga kurang menyenangkan sih. Menurut Yuni begitu.

    BalasHapus
  10. benar banget kak, untuk menghadapi virus corona kita tidak boleh panik, di kantorku juga sudah di antisipasi untuk tidak boleh panik dan belakangan ini mendapatkan kabar untuk kerja di rumah saja

    BalasHapus
  11. Benar walau kelihatannya simple tapi jarak jarak membantu sesama loh.Apalagi jadi punya waktu yang banyak dengan keluarga.

    BalasHapus
  12. Kesadaran masyarakatnya perlu ditingkatkan nih supaya gak berbuat aneh-aneh. Disuruh kerja dan belajar dari rumah malah ada yang keluyuran hiks. Waah makasih mba, aku gak kepikiran nutup bersin pake siku :)

    BalasHapus
  13. Bener nih jangan panik dan stay safe. Melakukan hal kecil dengan rajin cuci tangan semoga kita semua dilindungi olehNya. Aamiin

    BalasHapus
  14. Saya juga akhirnya membatalkan rencana liburan di tanggal 25-29, agak susah juga awalnya menjelaskan pada anak-anak. Alhamdulillah lama-lama mereka bisa mengerti juga setelah sering lihat berita di TV tentang corona

    BalasHapus
  15. Bener banget panik membuat sistem imun kita menurun, kmrn aja biasanya aku ketemu bule seneng ya deket2 hahaha, ini malah menjauhkan diri dari rekan kerja, ada kawan flu aja disuruh pulang euyy sama pihak kantor.semoga masalah corona ini cepet usai ya kak.

    BalasHapus
  16. sebenarnya dari awal sudah banyak himbauan dari WHO dan lainnya, tetapi banyak masyarakat yang menghiraukan keadaan tersebut dan beranggapan Indonesia kebal lah dan sebagainya. Sekarang saat penyebaran sudah sampai sini terlihat ketidaksiapan.

    BalasHapus
  17. Aku nih, gara-gara virus, left group dua WAG. Ngeselin bikin panik. Kalau kerja di rumah sih terpaksa dijalankan aja. Gimana lagi...

    BalasHapus
  18. Setuju banget, pasti pemerintah dan pihak-pihak garda depan begitu mempersiapkan agar penyebaran virus ini segera berakhir. Semoga kita bisa mensupport dengan memulai dari hal yg kecil ya....

    BalasHapus
  19. Paling sebel adalah saat sudah berusaha menerapkan social distancing, tetapi kemudian dianggap nggak mau dekat-dekat dalam arti anti sosial oleh mereka yang merasa bahwa gk akan kena. Haduh.

    BalasHapus
  20. Penting banget kita untuk social distancing ini, masih banyak orang yang menganggap sepele hal ini, apalagi kalau sampai yang sudah bersinggungan dengan agama, sulit untuk diedukasi. Tapi setidaknya kita bisa memberikan contoh yang baik untuk tidak keluar rumah apalagi keluar kota kalau tidak benar-benar diperlukan, semoga wabah ini segera reda dan jangan sampai outbreak terjadi di Indonesia

    BalasHapus
  21. Mari kita sama-sama stay at home and study from ya mbak. Kecuali buat tim medis sebagai garda terdepan atau yang masih bekerja karena sektor pelayanan publik. Demi memutus mata rantai penyebaran dan penularan virus covid-19 ini. Semoga kondisi membaik seperti semula ya mbak.

    BalasHapus
  22. Mungkin budaya kita yg ga biasa menyendiri..palagi yg tinggal di pemukiman yg akrab satu sama lain..klo ga ngumpul ga guyub gitu rasanya..walopun sdh ada gawai dan inet tetep aja budaya bercengkrama org +62 itu susah klo dibatasi...tp semoga dengan adanya wabah ini kesadaran untuk social distancing semakin meningkat ya..dan semoga badai ini cepat berlalu Amin YRA

    BalasHapus
  23. ambil hikmahnya saja. gegara ini kita akhirnya makin rutin cuci tangan kan. anak jg gak asal2an lagi cuci tangan pakai sabunnya. belajar disiplin

    BalasHapus
  24. Semoga musibah ini segera berakhir ya secepatnya. Agar kita bisa beraktivitas seperti biasa. Kalau saya selalu di rumah saja biar aman

    BalasHapus
  25. Bener bangeeeet. Social distancing bisa memutus mata rantai penyebaran virus. Sayangnya masyarakat kita masih sulit menjalankannya. Semoga wabah ini segera berakhir. Aamiin.

    BalasHapus