-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Cara Mengenalkan Ramadan Kepada Anak Balita


Ramadan Kareem!
Cara Mengenalkan Ramadan Kepada Anak Balita

Bulan Ramadan tinggal menghitung hari nih, Teman-Teman. Persiapan apa saja yang sudah Kalian lakukan? Sudahkah Mamah mengenalkan kewajiban berpuasa pada anak-anak?
Saya sendiri mempunyai 2 anak, 1 masih bayi dan sang kakak balita berusia 4,5 tahun. Usia yang cukup kritis, Pribadinya yang selalu beragumen calon negosiator ulung yang amanah, Aamiin. Ia selalu bertanya jika melihat keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang biasanya ia ketahui terlebih dahulu. Contoh ketika kami sedang berjalan-jalan di salah satu kampus kenamaan Indonesia di daerah Depok, Ia melihat banyak Mahasiswa atau Mahasiswi yang makan sambil berjalan. Bahkan banyak di antaranya yang santai memasukkan makanan ke dalam mulutnya menggunakan tangan kiri. Sontak si sulung langsung bertanya 

“Mah kenapa orang itu pakai tangan kirinya? “Mah kenapa orang itu minumnya berdiri?”

Pada awalnya saya bingung merespon sikap anak ini yang tiba-tiba bertanya demikian,ingin rasanya Mamah langsung bercerita padamu bahwa di luar sana banyak orang dewasa yang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Mereka sekedar belajar tanpa mengamalkan. Sebagai banteng nomer 1 anak-anak, menjadi Mamah memanng terlihat berat tapi Allah kan menciptakan pundak untuk dipakai bukan?
Kembali lagi ke si sulung, kali ini sebagai orang tua ada beberapa catatan dalam menjawab pesan anak yang mendadak membuat kita bingung atau gugup, sebagai pengingat bersama.

Cara Merespon Anak, yaitu:

1. Jangan Panik

Panik membuat imunitas turun, yes. Energi emosi yang tidak seimbang di dalam tubuh Mamah akan merembet alias nyamber alias nular ke anak. Pesan legendaris dari Suami adalah jadilah Kalem. Walau bibir seakan bergetar, jantung dag dig dug. Berusahalah tenang, karena level selanjutnya anak-anak selalu menyemburkan pertanyaan atau penyataan yang fantastic.

2. Bernapaslah

Ini yang sering dilupakan para orang tua, bernapas! Loh kok bisa lupa? Kadang kita pikir usia anak itu seperti kita, otak anak seperti kita. Jadi ketika anak maunya dibalas langsung, padahal bukan lagi balas pantun. LOL. Tarik napas 3 detik membuat otak kita teraliri oksigen yang dibawa sel darah merah di dalam darah. So Jangan lupa napas ya, Gaes.

3. Berikan sentuhan/usapan saat berbicara

Saat menjelaskan kepada Anak usahakan posisi mata lita sejajar dengannya. Mengapa? Karena dengan memberikan posisi yang sejajar, informasi yang diterima anak-anak akan lebih mudah masuk. Selain sering menerapkan hal ini, berikan sentuhan atau usapan di kepala atau daerah punggungnya. Kedua hal tersebut membuat informasi apa yang kita sampaikan lebih cepat dari sekedar kata-kata. Menurut teori komunikasi produktif terdapat Kaidah 7 - 38 - 55 yang dikenalkan oleh Albert Mehrabian, seorang guru besar Emeritus Psikologi UCLA (lahir tahun 1939).Dalam penelitiannya, Mehrabian (1971) menghasilkan dua kesimpulan. Yang pertama ada 3 elemen dalam komunikasi yaitu;

kata-kata hanya berperan 7% intonasi suara 38% dan bahasa tubuh atau ekspresi wajah sebesar 55%.

Kesimpulan Kedua, elemen non verbal yang sangat penting untuk mengkomunikasikan perasaan dan sikap, khususnya ketika terjadi ketidakselarasan, jika kata dan bahasa tubuh tidak sesuai, maka orang akan lebih condong percaya pada bahasa tubuh. So hati-hati ya Teman. "Jangan manis di bibir saja" tapi mata melotot sampai mau keluar, heheh.

4. Lembutkan Suara

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Intonasi juga memegang peranan penting dalam komunikasi produktif. Menjawab pertanyaan pertama Sakha mengenai orang lain yang makan minum berdiri biasanya saya jawab dengan lembut seperti ini

“Sakha, mungkin Kakaknya lupa” “Sakha mungkin Kakaknya khilaf” “Mungkin Kakaknya ga sengaja ya”

Kadang saya pancing juga agar kita sama-sama berpikir

“Kira-kira kenapa ya Ka?”

5. Jujur

Jika memang Kita tidak tahu akan jawaban pertanyaan anak, sebaik jujur lah pada anak. Jangan sekali-kali mengarang karena ini bukan ujian mengarang pelajaran Bahasa Indonesia. Anak akan berlajar dari respon orang terdekatnya dalam hal ini kedua orang tuanya. Ketika saya mengakui pada Sakha akan ketidaktahuan saya terhadap pertanyaannya

“Mah mesin cuci bikinnya gimana sih?”

“Mamah gatau Kha, maaf, nanti kita tanya Ayah atau cari tahu ya sama-sama ya”

Meski hanya dijawab melongo atau anggukan, dari respon kita yang menyatakan kekurangan kita akan ketidak tahuan kita membuat anak belajar bahwa “Oh gapapa loh kalau kita gatau, karena bisa dicari tahu” selain itu belajar untuk tidak malu untuk berkata tidak tahu karena hal tersebut berlatih untuk berkata jujur.


Tips Merespon Anak

Sama halnya dalam mengajarkan sesuatu kepada anak, tiada yang instan tentunya. Harapannya dengan mengenalkan secara perlahan hadirnya bulan suci Ramadan ini, tumbuh cinta dalam dirinya sehingga melakukan ibadah secara sukarela.

Cara memperkenalkan puasa bertujuan untuk mengajarkan puasa pada anak sejak dini. Dengan harapan saat menginjak masa baligh ananda dapat menjalankan puasa Ramadan dengan baik. Ya, memperkenalkan anak pada ibadah puasa bukanlah hal yang mudah. Namun ini merupakan salah satu tanggung jawab sebagai orangtua untuk mengajarkan anak berpuasa secara bertahap dan perlahan. Mengenalkan ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan stimulasi agar menjadi bekal anak tumbuh dengan karakter positif dalam hal agama.
Bulan penuh berkah ini sudah selayaknya disambut dengan kebahagiaan dan diisi dengan amalan-amalan kebaikan. Sebagai orang tua, Kami berharap anak-anak setidaknya merasakan kebahagiaan Kami dengan datangnya bulan suci ini.
Mengenalkan ibadah puasa di bulan Ramadan pada anak tentu sangat penting bagi kita para orangtua. Kenapa anak harus dikenalkan dengan bulan Ramadan khususnya ibadah puasa ini? Kan mereka belum baliqh, belum wajib menjalankan puasa Ramadan.

Saya teringat di dalam kelas Fitrah Based Education bersama Ustad Harry Santosa bahwa Usia Dini (0-7 tahun) secara fitrah perkembangannya berada masa imajinasi dan abstraksi berada pada puncaknya, alam bawah sadar masih terbuka sangat lebar sehingga imaji imaji tentang Allah, tentang Rasulullah, tentang kebaikan mudah dibangkitkan pada usia ini.

Dengan mengenalkan ibadah puasa Ramadan ini kita akan menciptakan atmosfir keshalihan, kebaikan, kecintaan dan keridhaan terhadap perintah Allah di rumah. Bukan berarti mereka harus ikutan puasa ya, Teman. Tapi tumbuhkan cinta mereka kepada Allah dengan ridhonya kita dalam menjalani setiap ibadah. Bangun cintanya, insyaAllah kalau sudah cinta, gunung pun akan didakinya!

Sebagai guru pertama dalam kehidupan anak, Kita perlu untuk memahami cara mengajarkan puasa pada anak.

Lalu, bagaimana cara mengajarkan puasa pada anak yang tepat agar menjadi hal yang biasa untuk anak? 


1. Jelaskan Ibadah Puasa dan Keutamaan Bulan Ramadan

Tentu yang pertama kita jelaskan apa itu puasa. Sederhananya Puasa adalah Ibadah menahan makan, minum dan hawa nafsu lainnya dari terbitnya hingga terbenamnya matahari. Lalu fungsi dan tujuan puasa itu sendiri. 
Menumbuhkan cinta terhadap agama pada anak usia dini bukan dengan cara menakuti-nakuti anak dengan dosa apalagi Neraka. Rasanya saya suka sedih deh Teman, kalau lihat orang tua yang sedikit-sedikit menakuti anaknya dengan dosa dan Neraka. 
Adalah sebuah kebohongan jika menakuti mereka dengan Neraka karena mereka adalah makhluk yang belum terkena dosa. Alangkah lebih bijak jika kita sebagai orangtua menumbuhkan cinta anak-anak pada agama Islam yang Rahmatlilalamin “rahmat bagi seluruh makhluk”. Buat anak terpukau dengan keindahan Syurga, Besarnya kasih sayang Allah. Ustad Harry Santosa pun berpesan TUNDA menjelaskan perihal tentang Neraka, dosa, perang apalagi dajjal kepada anak-anak di bawah usia 7 tahun. 
Nah dalam mengenalkan Ramadan kepada anak balita, kita dapat menceritakan kisah-kisah Rasul di bulan Ramadan. Apa kebiasaan Beliau, apa saja kegiatan yang biasa Beliau lakukan dengan para sahabat. Selain itu kita dapat menjelaskan apa janji Allah terhadap hamba-Nya yang beribadah puasa dan sebagainya.

2. Selalu semangat bergegas setiap sahur dan berbuka

Sebagai orang tua kita adalah kamus pertama bagi anak-anak. Sebagai orang tua kita sebagai Role Model (Keteladanan) bagi mereka. Sederhananya jika melihat anak kita “bertingkah” coba tengok “tingkah” kedua orang tuanya dulu, jangan-jangan mereka meniru kita.
Setelah menjelaskan konsep berpuasa, Kita bisa juga mengajarkan anak untuk ikut puasa yang dimulai dengan memberikan teladan atau contoh. Hal ini akan membuat anak-anak lebih mudah mempraktikkannya. 

Nah pernah mendengar dong pepatah children see children do

ROLE MODEL (Keteladanan) menjadi metode untuk ibadah ini karena dari keteladanan sederhana akan menguatkan fitrah keimanan anak. Dengan langsung mempraktikannya anak pasti akan muncul rasa penasarannya sehingga anak ingin mencobanya sendiri.
Keteladanan ini yang harus kita bawa saat melakukan ibadah sahur dan berbuka, lakukan dengan semangat dan mimik wajah yang bahagia. Anak akan belajr dari atmosfer keshalihan yang kita berikan kepadanya. Serta jelaskan apa fungsi sahur dan berbuka puasa juga doa-doa nya ya.

3. Memulainya Secara Bertahap

Siapa yang di sini waktu masa kecilnya pernah puasa setengah hari? Pasti pada ngacung. Yap apapun lakukan secara bertahap, ibarat belajar berjalan sewaktu kecil, kita lakukan dengan bertahap mulai dari berdiri, merambat baru melangkah. Ibadah puasa pun sama, kita ajarkan mereka secara bertahap sesuai kemampuan fisik.
Sakha mulanya dari usia 3 tahun hanya ikut sahur dan berbuka, walaupun seringnya hanya berbuka. Nah di usia 4 tahun ini juga dia akan terlibat banyak dalam sahur dan berbuka. Meskipun dia selalu bilang mau ikut berpuasa, tetapi kami tidak pernah memaksa. Hanya saja membuatnya terlibat dengan menanyakan atau berdiskusi tentang menu apa untuk sahur dan berbuka.
Di usia TK, anak dapat diawali berpuasa yang hanya dilakukan sampai waktu Zuhur terlebih dahulu. Kemudian bertahap bisa melanjutkan berpuasa hingga waktu Asar. Bisa juga dilatih untuk berpuasa hingga Zuhur, makan siang terlebih dahulu, lalu melanjutkan puasanya hingga Maghrib. 

4. Ciptakan aktivitas seru mengenai Ramadan

Hal terakhir yang membuat anak-anak (iya anak-anak, kan Hafsah juga meski masih umur 10 bulan hahah) juga bersemangat, apalagi sedang School from Home seperti ini adalah bermain bersama. Sebelum Bulan Ramadan tiba, Saya menyiapkan Sakha untuk menyambutnya. Karena bulan ini adalah bulan yang sangat istimewa, Kami ingin anak juga merasakan keistimewaannya dan menyambutnya dengan kebahagiaan. Salah satu ikhtiarnya adalah mendekorasi rumah dengan suasana ramadan (wall art).

Ide dekorasinya sederhana dari begitu banyaknya sampah kardus di Rumah akibat belanja online. Hal itu menambah volume sampah membuat saya menjadi terlanjur kreatif. Ini kardus bekas harus diapakan ya? 
Alhasil salah duanya adalah dibuat wall art alias hiasan dinding.



Dekorasi ini kami buat dengan:

1. membuat hiasan tembok bertulisankan "RAMADAN"

Tutorialnya ada di channel youtube Cerita Mamah :


Notes: pinggiran hiasan bisa di download di website canon di sana banyak printable wall art beraneka ragam tema, termasuk Ramadan.

2. Mengantung papan waktu sholat
Tutorialnya ada di sini ya klik tautan ini :  Cara Membuat Papan Waktu Sholat

3. Mengantungkan kalender buatan dari kardus  (pengennya disulap jadi kalender hijriah, next ya InsyaAllah tutorialnya)

Jam yang terbuat dari kardus monde dan kalender bekas dari kardus buku

4. Hiasan 25 Nabi dari kardus bekas juga
Nah aktivitas menghias dinding rumah ini dapat meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak. Selain itu juga dapat melatih motorik halus ananda tercinta dan tentu InsyaAllah mempererat bounding antara anak-anak dengan Orangtua.
Kuncinya yang perlu Sahabat Mamah perhatikan dalam mengenalkan Ramadan kepada anak balita adalah orangtua harus sabar, tidak tergesa-gesa. Berpikir kreatif dalam beraktivitas menyenangkan supaya anak dan anggota keluarga lainnya pun terlibat. Semoga bisa menjadi inspirasi dan khazanah ya, selamat mencoba selamat membersamai anak-anak.

MasyaAllah TabarakAllah.
Salam,




Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

66 komentar

  1. Boleh di coba nih idenya, memang anak saya baru 1 tahun sih tapi konsep-konsep agama islam harus sudah ditanamkan sejak kecil, supaya besok2 paham seperti apa istimewanya bulan Ramadhan itu .

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Ima,semangat kita tanamkan kebaikan

      Hapus
  2. Suka banget liat foto kartun memeluk anaknya.
    Lembutkan suara!
    Ini masih PR, tapi selalu saja saya usahakan.
    Sama nggak cerewet kayaknya.
    Anak saya udah bosan dengar omelan cerewet saya hahaha.

    Btw excited juga menyambut Ramadan kali ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. fitrah wanita memang cerewt Mbak, harus kita habiskan 20000 katanya hehe, iya semangat ya biar anak2 makin semangat

      Hapus
  3. Seruuuu banget iniii
    Ramadhan memang harus dibikin enjoy, ya!
    Apapun yang terjadi.... kita harus tunjukkan ke anak2 kalo Ramadhan itu bulan yg luaarrrrr biasa!

    BalasHapus
  4. Jadi inspirasi nih gimana cara melalui ramadan bersama anak. Semoga nanti lancar ramadannya ya..

    BalasHapus
  5. Inspiratif ! Bisa jadi panduan untuk para orang tua yg anaknya masih kecil. Makasih ya

    BalasHapus
  6. Sewaktu kecil saya juga diajarkan berpuasa oleh orang tua saya. Hingga akhirnya saya paham bahwa puasa hukumnya wajib bagi setiap muslim.

    BalasHapus
  7. Anak saya umur 4 tahun. Karena sering nonton Upin dan Ipin jadinya dia sudah tahu apa itu puasa, katanya, sebentar lagi puasa ya Bun. Akunya juga senang, kok dianya tau sendiri.
    Terima kasih atas mba, ini merupakan inspirasi juga buatku sehingga anak lebih paham lagi tentang bulan Ramadhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bagus juga ya kalau tau dari film yang menarik buat dia, justru lebih cepat nurut karena ada contoh langsung seumuran dia.

      Hapus
    2. Wah ide bagus tp ttp perlu diperhatikan kalau tontonan kadang ada nilai yg terselip yg disampaikam. Seperti upin ipin sy blm sreg krn ada karakter sally yg melambai

      Hapus
  8. Nanti akan saya terapkan kl saya punya anak. Tq tips2 nya yaaa

    BalasHapus
  9. Kreatif bun anak2nya, menyambut ramadhan dengan penuh suka cita. Lucu-lucu melihat kreasinya, dengan menerapkan penjelasan yang santun dan lembut kepada memang menjadi ilmu parenting bagi orang tua. Dengan sentuhan yang ramah anak bisa mnegerti dan tidak tumbuh menjadi anak yang mudah marah. Keren ulasan seluruhnya.

    BalasHapus
  10. Bunda yg kreatif. Hebat loo bisa sempat bikin pernak pernik gituan.

    BalasHapus
  11. Bagus banget infonya, jadi reminder buat saya. Enggak kerasa bentar lagi ramadan. Anakku tahunya pas Ramadan salat tarawih bareng di masjid. Moga situasi cepat membaik, ya. Aamiin

    BalasHapus
  12. Terima kasih tipsnya, Mbak. Anak saya sudah 7 tahun sih tapi masih suka protes kalau waktunya puasa Ramadan. Tips mengenalkan Ramadan dan merespon anak akan saya praktikkan pelan-pelan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin bisa disisipi pada buku cerita atau dongeng sebelum tidrunya tentang kebaikan2 ramadan

      Hapus
  13. Wah sudah bersiap-siap mentambut ramadan ya Mbak. Kemarin anak saya juga berencana membuat kegiatan tarhib ramadan bersama teman satu kelasnya dalam bentuk video. Semoga ramadan ini penuh berkah, aamiin.

    BalasHapus
  14. Kali ini kita punya tugas tambahan juga, Mbak, memahamkan ke anak bahwa Ramadan kali ini mungkin kita lebih banyak di rumah dan masjid tak punya banyak aktivitas berkumpul

    BalasHapus
  15. Bagus banget ini k tips-tipsnya, anak jadi mudah dan belajar menerima apa adanya. Dalam rangka menjelang ramadhan saya pun belum mengingatkan anak-anak k, bisa jadi panduan ini cara-caranya, makasih ya

    BalasHapus
  16. Bagus banget ya aktivitasnya buat anak. Enggak kerasa Ramadan segera tiba. Mudah-mudahan kondisi cepat stabil kembali dan bisa beribadah tanpa ada rasa khawatir

    BalasHapus
  17. MasyaAllah kreatifnya. Aku gimana ya? Pas bulan puasa tahun kemarin, gurunya aja ngalah , anakku satu-satunya yang dibolehin bawa air! Wkwkk.. Semoga tahun ini, anakku udah mau belajar puasa meski dalam tahap mengenal puasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha MBak RAni emang usia anaknya brp? seblm 7 tahun yang penting hepi dulu ya, bisa karena biasa hehe

      Hapus
  18. Pas banget, di rumah saya ada keponakan yang masih balita, dan mereka emang kepoan orangnya sih, maksudnya suka bertanya-tanya gitu. Mungkin ini bisa jadi bahan referensi saya untuk menjelaskan kepada mereka apa itu ramadan.

    BalasHapus
  19. Bisa aku coba jika nanti aku sudah punya anak, untuk saat ini masih berjuang mencari pendamping dulu.

    BalasHapus
  20. Kreatif banget kak dekorasinya. Itu menarik banget buat anak-anak. Suasana 'Ramadan banget'-nya jadi lebih kental...

    BalasHapus
  21. seru juga menghias rumah. BTW, IIP to..hehe..pantesan keren, makasih Bu ilmunya. terutama tentang intonasi, mimik, dan gestur.

    BalasHapus
  22. Melembutkan suara.
    PR penting ini, mbak. Biasanya hanya bisa lembut kalo pas lagi nggak kesel dan capek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Wid, sebelum jernihin suara emg harus jernihin hati dulu huhu

      Hapus
  23. nice idea... practice can make be perfect

    BalasHapus
  24. Bersiap-siap nih sebentar lagi saya pun mengenalkan Ramadhan kepada anak kedua saya. Ramadhan tahun ini usianya 2.5 tahun, saya rasa dia akan excited juga melihat orang tuanya makan malam untuk saur dan juga waktu sore menyambut buka puasa.

    BalasHapus
  25. Mengajarkan anak itu sesuatu yang gampang2 susah ya, mbak. Harus tau banget karakternya, supaya bisa cepat dan mudah dimengerti.
    Bener banget nih, saat memberitahu anak intonasi dan mimik wajah itu sangat mempengaruhi banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak 1 anak dengan yang lainnya pasti berbeda, semangat terus mbak

      Hapus
  26. Waduh pas banget mba karena anakku mau ke 4 tahun habis Ramadhan. Insya Allah mulai dikenalkan dengan Ramadhan. Memang iya dia mulai banyak bertanya. Kalau diikutkan sahur belum kayanya ya, tapi sudah mulai tahu soal puasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. diikutin buka aja Mbak, sambil dikasih tau mamah sm ayah lagi puasa. anakku jg pertama2 gt dr puasa sunnah, eh malah jadi pengen ikutan walaupun sahurny jam 7 pagi tar buka dulu kalau laper haha

      Hapus
  27. Wahhh menjelang puasa tinggal 2 minggu lagi nie , memang anak harus diajarkan dan diperlihatkan berpuasa sejak masih dini sehingga cepet masuknya, trs diimbangi dengan ide seperti kreatifitas bareng jadi ga berasa juga puasanya ya.

    BalasHapus
  28. Keren banget sih Mbak. Aku jadi punya gambaran nanti bagaimana menghadapi anak-anak yang bertanya. Anakku masih 2 tahun tapi harus bersiap dari sekarang ya

    BalasHapus
  29. Setuju kak..semuanya harus berawal dan berasal dari rumah dahulu dan mendapat penjelasan dari orang tua..jadi kalau ada kebingungan dan butuh penjelasan..anak ga sungkan bertanya ke orangtuanya

    BalasHapus
  30. memang kita sebagai orang tua harus bisa jadi role model yang baik untuk anak kita ya. jangan sampai anak disuruh belajar puasa, eh emaknya malah mokel. hayo... ada yang gitu gak? hihihi...

    BalasHapus
  31. memulai secara bertahap, merupakan kuncinya Mba ... Kalau di kami, memang mentargetkan anak puasa tahun ini adalah lebih baik daripada puasa tahun kemarin. Peningkatan sesedikit apapun, sudah merupakan progress .. :)

    BalasHapus
  32. Saya juga gitu Mbak ke 3 anak yg udah gedhe², dulu pas mereka kecil. Yg sekarang nih mulai lg mau ngajarin anak yg bungsu msh usia 2 tahunan ttg puasa. Kl sholat Alhamdulillah asal dgr azan dia heboh deh nyuruh smua ambil wudu, hehe

    BalasHapus
  33. Wah Masyaallah, anak-anak jadi semakin semangat menyambut bulan ramadhan ini ya mba, apalagi ibunya kreatif banget. Seneng deh, anak-anak. Ramadan jadi hal yang menyenangkan pastinya. semoga anak-anak juga paham keutamaan bulan Ramadan.

    BalasHapus
  34. Ya Allah.. seuka sekali lihat permainan-permainan yang dibuat buat anakmu, Mbak.

    Ini aku juga mulai mengenalkan Ramadhan ke anak keduaku yang usianya 4 thn. Bisa jadi tambahan masukan nih yang ada di artikel ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. makasih mbak, tetap semangat ya

      Hapus
  35. Mantap, makasih tipsnya mbak..
    Akan kucoba buat anak2ku.
    Biar ramadan mereka makin seru

    BalasHapus
  36. Kreatif banget mba mengenalkan anak untuk belajar agama. Jadi anak gk terbenani ya krn caranya slow to mengena. Mksh mba infonya bermanfaat...

    BalasHapus
  37. Tipsnya oke, Mbak.
    Sepertinya anakku bakalan tertarik kalau diajak membuat mainan seperti yang anak Mbak buat.

    BalasHapus
  38. wah idenya keren bgt mbak kalender ramadhan, jadwal sholat semuanya DIY, pasti asik apalagi ko bareng si kecil bikinnya

    BalasHapus
  39. Memang harus dengan cara yang menyenangkan ya mengenalkan puasa kepada anak-anak, agar mereka mau berpuasa tanpa ada paksaan. Dibikin hepi gini pastinya asyik tuh.

    BalasHapus
  40. Benar sekali ya, sebentar lagi Ramadan... Sudah waktunya yang punya baby yang tumbuh besar mengenalkan mereka pada arti Ramadan dan prosesnya biar mereka paham dan ikut menjalankannya

    BalasHapus
  41. Dulu anak-anak ya ngikut kebangun sih, kalau kami siapin makan sahur. Ya mereka ikut juga sahur, sambil pelan-pelan dikasih tahu, kenapa sahur, dll. Berproses sih semuanya...

    BalasHapus
  42. MaasyaAllah, salut banget sama marah-marah tangguh seperti ini. Kreatif banget menghadapi kelakuan anak yang memang masanya ingin tahu. Semoga saya bisa banyak belajar ya mah, jadi marah-marah yang tangguh juga. Heheheh

    BalasHapus
  43. Keseruan teesendiri kalauanak sudahmulai mengemal ramadhan
    Apalagi kalau antudias ikut sahur dan berbuka puasa

    BalasHapus
  44. Jadi ingat pepatah, " Mengajari sejak kecil seperti memahat di batu. Mengajari di usia remaja ke atas seperti melukis di air." Itulah pentingnya kita mengenalkan keimanan dan ketakwaaan sejak usia dini sekaligus melatih kedisiplinan beribadah.

    BalasHapus
  45. Anak-anak pasti heboh banget kalo ikutan sahur. Pengalamanku dulu juga gitu. Ada yang minta susu, ada yang minta bisikuit. Mereka pikir itu sarapan, jadi nggak ada yang mau makanan berat. Alhamdulillah, ketika beranjak remaja sekarang mereka sadar akan perintah puasa Ramadhan.

    BalasHapus