-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Selalu ada alasan untuk pulang kampung





Sebagian besar orang di antara kita pasti mengira, bahwa mudik lebaran alias pulang kampung ada kaitannya dengan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan bertepatan dengan momentum setalah ibadah bulan Ramadan. 
di antara kita pun banyak yang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan lailatul qadr. Dengan berbagai macam persiapan, mulai dari finansial, tenaga, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. 
Ditambah lagi bumbu gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang. 


Asal mula kata mudik

Saya ingat dulu waktu kecil pernah bertanya pada Mama, apa artinya mudik itu. Saat itu Mama berkata Mudik itu udik, pulang kampung. Jadi ingat kembali kontroversi pemimpin negeri ini yang membedakan terminologi mudik dan pulang kampung. aduh, dagelannya negeriku.

Jika melihat Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Sesungguhnya kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa. Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih dilik' yang artinya adalah pulang sebentar.

Artinya mudik sama sekali tidak ada hubungannya dengan Lebaran Idul Fitri. Namun seiring perkembangan, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna. Mudik dikaitkan dengan kata 'udik' yang artinya kampung, desa atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota. Dengan kata lain, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang pulang ke desa atau kampung halamannya.


Nah bagaimana lebaran di tengah pandemi? tentu berbeda. kali ini kita harus pulang kampung via online.
Sebenarnya saya pribadi tidak hanya momentum lebaran Idul Fitri. Mengunjungi orang tua yang tinggal jauh dari ibu kota bukan hanya saat lebaran. Di sisi lain suami selalu mengingatkan sebisa mungkin kita pulang menengok kedua orang tua di Sukabumi. Di tahun ini terakhir saya mengunjungi mereka di awal tahun di bulan Januari. Sedihnya belum bisa menengok mereka lagi.

Tahun ini adalah pertama kalinya Mama merayakan Idul Fitri berdua bersama Papa di Sukabumi tanpa anak-anaknya. Ketiga kakak saya pun merayakan Lebaran kali ini di rumah masing-masing, kami terpisah kota dan provinsi. Sementara si bungsu yang baru saja melahirkan juga merayakannya di kota Tangerang. 

Syukur, Alhamdulillahnya. kami masih bisa bertatap online via whatsapp messenger dan Google Duo.
Ah semoga lebaran kali ini saja yang seperti ini ya, semoga segera bisa menatap dan memeluk secara fisik saudara-saudara kita.


“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi“

Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita. Namun, silaturrahmi yang sebenarnya ialah menyambung hubungan dengan orang-orang yang telah memutuskan tali silaturahmi dengan kita. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 



Tetap semangat ya, Salam.




Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

Posting Komentar