-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Vitamin Ramadan di Masa Pandemik Covid-19


Hai Sahabat Mamah, Bagaimana kabarnya?
Tak terasa ya Bulan Ramadan sudah berada di sepertiga terakhir. Ketika Bulan Ramadan menghampiri kita. Kehadirannya harus kita sambut dengan suka cita dong. Kenapa? Bulan ini dimaknai sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Meski Saya yakin para sahabat pun masih merasa apa yang saya rasakan, ada rasa was-was di tengah wabah covid-19 ini. 

Ramadan hadir sesungguhnya menyuguhkan kepada kita aneka vitamin mental spiritual. Vitamin Shad atau vitamin hati yang dapat kita konsumsi guna menyehatkan batin. Meskipun kita harus beribadah dalam suasana Covid-19 pasti ada hal yang bisa disyukuri saat ini.

Salah satu karya tulis alm K.H Toto Tasmara pernah menyebutkan bahwa Shadr atau hati memiliki tugas memahami, memperhatikan , menghayati dan merasakan keagungan atas penciptaan alaam sekitarnya termasuk merasakan kesejarahan manusia, relasinya dengan orang lain serta kemampuannya untuk mengembangkan hubungan sosial trsebut (social skill). Sehingga di dalam shadr tersimpan kemampuan untuk berempati.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”( Az-zumar : 22)
Vitamin Hati

Di dalam potensi shadr bermukim pula kualitas emosi seperti kesabaran, istiqamah, dan tawakal. Di dalam shadr itu pula terbentang kesadaran iman, komitmen serta wawasan moral seseorang.

Ingat lagunya Opick yang dulu setiap mau Ramadan pasti selalu terdengar di penjuru TV. "Obat hati" Kalau sekarang gimana? apa masih ada ya lagu itu di TV, udah lama ga nonton TV nih hihi.

Vitamin Ramadhan ini sangat dibutuhkan spiritualitas kita, tanpa vitamin ini hidup kita menjadi tidak bermakna. Vitamin shad adalah shalat, shaum (puasa), shidq (kejujuran), shabr (sabar), shadaqah (sedekah), shilaturrahim dan shuhbatu shalih (berteman dengan orang yang shalih).

Ibadah yang berbeda

Sahabat masih ingat kan bahwa perintah shalat ditetapkan Allah SWT melalui isra’-mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedemikian pentingnya shalat, sehingga Allah SWT mengundang langsung Nabi-Nya hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah mulia ini. 

Shalat menjadi salah satu vitamin hati, ia menjadi parameter baik buruknya amal atau kinerja manusia selama hidupnya. Saya pernah dengar ceramah Ustad Adi Hidayat atau Abdul Somad ya, beliau berucap jika shalatnya beres  secara holistik artinya benar, rutin, efektif, dan super khusyu’, insya Allah akan membuahkan perilaku terpuji dan mulia. 
Nah selain vitamin shalat, untukmembentuk akhlak mulia pada diri Muslim, perlu dipadukan dengan vitamin shaum atau puasa.  
Dengan puasa, insya Allah spiritualitas Muslim dilatih menjadi hamba yang bisa menahan diri, mengendalikan dan mengelola emosi, menguasai hawa nafsu, dan melejitkan potensi ruhani dan Rabbani. 

Tentu berbeda sekali tahun ini, sajadah-sajadah yang biasanya rapat tergelar di setiap mushola bahkan lapangan masjid kini tak terlihat. Mencari tanda tangan Pak Ustad sesuai ceramah teraweh tak dilakukan anak-anak. Apalagi jajan telor gulung dan cilor usai teraweh, hufh. Tetapi teman daripada mengutuk kegelapan, mari fokus pada cahaya kecil yang menjadi terang. Masih banyak yang bisa kita syukuri. Betapa banyak gerakan-gerakan berbagi yang masif dilakukan banyak pihak. Mulai dari pembagian Alat Pelindung Diri sampai Sembako.
Seakan-akan Allah "memaksa" kita agar hidup lebih bersih, mendekatkan kepada keluarga dan peduli dengan lingkungan sekitar.
Bandara ditutup mungkin karena Allah ingin uang kita tidak disalurkan hanya sekedar jalan-jalan supaya uang itu mengalir membantu sesama. Mall-mall dibatasi untuk dikunjungi agar pos belanja kita hiburan di sana kita salurkan ke panti yatim dan dhuafa.

Memang selama ini mungkin di antara kita ada yang menyantuni mereka, membantu tapi tak sebesar biaya jalan-jalan keluar negeri. Kita memang memberi uang untuk orang dhuafa tapi tak sebesar untuk biaya bolak balik umroh.
Saat semua tertutup memang hati kita yang harus kita buka.


 Wallahu a’lam bi ash-shawab

Salam,



Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

3 komentar

  1. harapannya semoga puasa taun ini ibadah kita semua diterima Allah swt
    dan hati jadi lebih terbuka dengan adanya wabah ini

    BalasHapus
  2. MasyaaAllah betul-betul jadi pengingat. Makasih Mbak Shafira. Semoga kita semakin membuka hati untuk melihat hal-hal luar di sana

    BalasHapus