-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Mengelola Emosi Marah Selama di Rumah

cerita mamah
 “Adek, ayo beresin mainannya, masa setiap main Mamah harus ingetin mulu. Ayo dong diberesin, udah dibilang berapa kali sih”
Siapa yang di sini pernah marah sama anak, eh saya ganti deh pertanyaannya. Siapa yang belum pernah sama sekali marah-marah sama anaknya?

Hampir semua orang pasti pernah marah-marah ya. Hal ini sering terjadi pada kehidupan sehari-hari. Tingkah laku anak-anak sering membuat kita, selaku orang tua kehilangan kesabaran dan akhirnya marah. Rasanya sebagai orang tua apalagi Mamah kaya saya berusaha mengumpulkan stok sabar yang benar-benar buat anak.

Apalagi saat pandemi Covid-19 ini, semua aktivitas banyak dilakukan di rumah. Anak sekolah di rumah, Ayah dan Mamah di rumah. Kemunculan marah tidak bisa dihindari. Seringnya banyak dari kita sebagai orang tua dihadapkan pada situasi tidak terduga ya, antara keluguan dan kelucuan anak yang kemudia diartikan sebagai suatu hal yang annoying. Padahal sebenarnya anak-anak tidak benar-benar menyebalkan. Maka dari itu sangat penting bagi kita sebagai orang tua agar dapat memiliki ketrampilan cara mengelola emosi marah ini.

Kali ini saya mau sharing mengenai “Biar Gak Marah-Marah Selama di Rumah”ini hasil dari sebuah seminar yang saya ikuti di IG Live. Seminar ini diadakan awal Juni bersama psikolog dan coach Bu Aisyah Yuhanida dan Bu Wiwik Wulandari.

Profil Bu Aisya

Beliau adalah pembicara utama di sesi siang itu. Bu Aisya adalah seorang Psikolog, Profesional Coach dan Trainer yang memiliki minat dan kecintaan besar pada area pengembangan diri yang tersertifikasi. Menjadi people helper ia hayati sebagai panggilan hidup. Maka, melihat seseorang bertumbuh optimal dan menemukan kebahagiaan dalam menjalankan ragam perannya adalah hal yang ia rasakan sebagai kepuasan. Selama 8 tahun, panggilan hidup ini sudah ia wujudkan dalam melakukan banyak pendampingan terhadap siapapun yang ingin bertumbuh dan dalam konteks yang sangat beragam. Dari pribadi sampai perusahaan.

Profil Mbak Wiwik

Bu Wiwik atau yang sering disapa bubu ini saya tahu instagram beliau dari seorang bidan. Seorang praktisi home schooling ini suka sekali sharing mengenai self healing.

Pada Dasarnya, Marah Merupakan Bentuk Emosi yang Wajar dan Manusiawi

Pada awal sesi IG Live, Mbak Wiwik membuka dengan menanyakan perbedaan antara marah dengan marah-marah?
Bu Aisya menjelaskan marah adalah emosi yang alami terjadi di dalam tubuh. Marah juga sebagai pesan di dalam tubuh bahwa ada yang tidak sesuai atau adanya masalah. Emosi marah ini tentu ada manfaat dan gunanya.
Sedangkan marah-marah adalah reaksi emosi. Reaksi emosi bisa dikendalikan atau dipelajari yang bisa diganti dengan reaksi lain. Reaksi emosi yang tidak sehat apabila membuat kita tidak lega dan orang lain malah kena imbasnya. 

Mindset Tentang Marah yang Selama Ini Kita Pahami

Setuju ga selama ini kita selalu dilarang untuk marah atau menangis? 
“Jangan nangis! Kamu kan udah gede!”
“Ayo kamu jangan marah! Senyum…”

Saya sangat setuju karena mengalami langsung apa yang disampaikan Bu Aisya mengenai Stigma umum yang berkembang mengenai emosi. Dua kalimat di atas tentu sering kita dengar dari orang lain, orang tua atau malah kita yang menyampaikannya pada anak?

Kita selalu dituntut untuk merasakan emosi yang baik-baik saja. Kita harus senyum, bahagia tidak boleh nangis, tidak boleh marah. Sehingga asumsi yang tertanam di kepala kita adalah “oh jadi emosi yang harus dirasakan cuma yang bagus”

Bu Aisyah mengungkap itulah yang membuat saat kita marah menjadi double.
Double kenapa? Ketika ada persoalan kita marah dan kita marah karena kita merasakan marah.
Kebayang ya doublenya? Karena kita punya mindset tadi. “Kita tidak boleh marah”
Kita terlanjur tahu bahwa marah itu harus ditahan dan bisa meledak.

Lalu baiknya bagaimana saat kita merasakan marah?

Sebelum itu kita harus tahu, ada hal dasar yang harus kita ketahui. 

Apa sih yang membuat kita marah?

Marah adalah emosi sekunder yang merespon emosi lain. Jadi penyebab marah, atau emosi dasar penyebab marah berbeda-beda setiap orang. Emosi dasarnya bisa karena takut, cemas, frustasi, tidak berdaya, merasa bersalah, malu, takut atau overwhelmed dsb. Jadi sebelum kita tahu bagaimana baiknya kita mengekspresikan marah, kita harus tahu emosi dasar dari marah yang kita rasakan dulu.
Kita harus tahu emosi dasar apa yang menyebabkan kita marah

Contohnya kita clueless karena perkembangan anak, respon kita marah. Kita merasa bersalah respon kita marah.
Aku merasa bersalah ga jadi mamah yang baik,
Rasa bersalah ini yang membuat perasaan marah.
Perasaan marah ini sebenarnya pada diri sendiri. Tetapi keluarnya malah ke orang sekitar/lain.

Kenapa kita wajib tahu penyebabnya?
Karena jika kita sudah release dengan segala cara tapi tidak menyelesaikan sumber masalahnya. Marah akan datang lagi. Marah akan hadir terus pada kita. Marah itu pertanda atau alarm bahwa ada masalah.
Kalau sudah numpuk banyak banget gimana ya bu? Marah ke anak, suami, keluarga juga ke diri sendiri?

Langkah awal untuk menyelesaikan atau mengurai emosi marah

1. Tulis apa yang kamu rasakan. What do you think, what do you feel about that.. tentang anak, suami, mertua, keluarga besar. 
2. Harapan kepada mereka. Tulis keadaan sekaran dengan harapan yang kita inginkan. Jadi kelihatan di mana gapnya.
Jangan-jangan karena skill kita yang tidak bertambah untuk berkomunikasi dengan mereka.

MENULIS LAH
Supaya kita tidak terbawa gulungan dengan emosi. Dengan menulis kita dapat menaruh pikiran di kepala kita di luar. Dengan menulis apa yang kita pikirkan kita bisa mengamati, Jadi kita lebih objektif apa masalah yang terjadi dan lebih realistis.

Berjalan ke dalam, Refleksi ke diri sendiri

Setiap marah atau emosi sebenarnya membawa pesan. 
Misalnya aku marah karena merasa bersalah kepada anakku. Tahapan perkembangannya tidak sesuai dengan usianya.
Marah tadi sebenarnya membawa pesan “abu butuh melakukan apa?”
Refleksi ke diri sendiri apakah harapannya ketinggian dengan kondisi yang ada?
Ini harapan yang realistis : “oh kayanya rasa bersalah ini membuat pesan : supaya aku lebih rajin memberi stimulasi dan mencatat perkembangan anak. Rasa bersalah ini membuat pesan untuk aku lebih rajin membaca buku”
Nah setelah refleksi diri tentu kita harus action, memenuhi kebutuhan tadi. Setelah melakukan aksi dan memenuhi kebutuhan, emosi merasa bersalah tadi hilang dengan sendirinya.
Bu Aisya menambahkan kita bisa mencoba dengan bantuan Anger volcano seperti gambar di bawah ini yang coba saya googling. Agar kita tahu, kita tuh lagi merasakan marah karena apa. Karena sejatinya marah itu seperti emosi sekunder.

Mempelajari biar ga marah-marah

1. Eksplorasi Kamus Ekspresi

Yang perlu kita cari adalah alternatif ekspresi marah selain marah-marah.
Kita bisa mencoba membuat list atau sebuah skenario ketika terjadi emosi sedih atau marah. Misalnya kalau saya sedih saya akan apa saja. Kalau saya marah saya akan apa saja.
Eksplorasi kamus ekspresi. Karena setiap orang akan berbeda-beda, mana yang cocok buat kita masing-masing.
Ekspresi marah dilakukan, dengan syarat :
Tidak boleh menyakiti diri sendri
Tidak boleh menyakiti orang lain
Tidak boleh merusak barang orang lain.

2. Menyengaja berlatih supaya tidak marah-marah

Kita tidak akan terampil kalau cuma tahu
Kita tidak akan terampil kalau cuma 1-2 kali latihan
Kita butuh effort untuk mengubah ekspresi marah.

Emosi itu tamu yang akan datang dan pergi. Tapi kalau tamu itu kita tahan terus, bagaimana rasanya?

Beberapa pertanyaan dari teman-teman saat instagram live berlangsung

Apakah mencuci kamar mandi itu bisa dibilang ekspresi emosi marah?
Bisa saja, asal dengan syarat ketika melakukan ekspresi marah kita merefleksikan apa penyebab kita marah. Jadi bukan hanya perkara ekspresi, perlu juga refleksi. Namun bisa jadi percuma jika dilakukan “menyikat kamar mandi” tanpa dilakukannya refleksi apa penyebab kita marah.
Melakukan refleksi agar pesan emosi sampai berarti kita akan terjebak dengan pola yang serupa yang buat kita marah. Selain itu kita juga jadi tidak belajar ekspresi emosi yang lain selain ngosrek kamar mandi. Karena pada saat itu kita seolah sudah merelease emosi marah.

Bagaimana supaya tidak terpicu marah?
Kalau menahan marah artinya…
- Jangan sekadar menahan marah.
- Siapkan strategi kalau kita terpapar kondisi marah. Misalnya beri jeda. Setiap marah aku akan tarik napas 3 kali, rebahan di kamar, ke kamar mandi ambil air wudhu.
- Cari tahu apa penyebab kita marah

Marah harus diakui  yang harus diganti adalah ekspresi marah-marahnya.

Paradox emosi : semakin kita lawan semakin marah itu hadir
Terima emosi marah dan mengekspresikan emosi yang benar.

kenapa kita marah ketika melihat anak marah-marah?

Marah itu manusiawi. Mari kita ajarkan anak untuk mengeskpresikan marah dengan benar. Jangan sampai anak tantrum, kita ikut tantrum.

Kita marah-marah karena sedang PMS atau perubahan hormon habis lahiran

Bu Aisyah mencoba mengingatkan, apakah kita mau menyerahkan emosi pada hormon atau kita mau mengendalikan emosi dan hormon kita?
Apakah alasan ini hanya sebuah pembenaran apa kita mau menyerahkan diri sepenuhnya pada hormon?
Beberapa alternatif kita sedang PMS bisa melakukan olahraga yang membuat kita lebih bahagia. Atau menambah sumplai vitamin D3 dan berjemur.

Kalau lagi marah, pengennya makan, apa boleh?

Yang perlu disadari adalah emosi marahnya. Tidak apa-apa dilakukan sekali dua kali, tapi kalau dijadikan sebuah kebiasaan tentu tidak baik. Pola yang tidak sehat jangan dilakukan. Alternatif lainnya bisa mengganti dengan mengunyah permen karet.  Hal yang terpenting adalah melakukan refleksi, pesan apa yang dibawa dari emosi marah ini. “aku tuh harus ngapain?”

Bagaimana cara mengajarkan anak untuk mengekspresi marah yang baik?

Cara terbaik mengajarkan anak mengelola emosi marah adalah memberikan tauladan. Dengan memberi contoh kita menyampaikan pesan juga ke anak. Tetapi jangan hanya memberikan contoh tanpa memberi tahu ke anak, kalau ini tuh ekspresi marah kita. 

1. Ketika emosi marah hadir, kita sadar merasakan (awareness). Melabel aku tuh marah karena apa
2. Skala emosi. “mamah tuh marah dari skala 1 sampe 5, rasanya mamah marah di nomer 3.”
3. Strategi mengelola emosi, misalnya ketika marah kita ke kamar mandi untuk wudhu atau cuci muka. Atau kita berbaring bahkan sekedar mengambil nafas 3 kali.
4. Perasaan setelah melakukan itu.

Keempat hal di atas kita lakukan untuk mengekspresikan emosi marah kita, juga kita sampaikan kepada anak. Jadi anak tuh paham oh mamah aku tuh tadi marah terus ngambil napas dan wudhu. 

Penutup

Selama kita mencoba cara mengelola emosi marah pasti ada ujiannya. Pada akhirnya ujian itu ada di konsistensi dalam melatih diri sendiri. Kalau kita mogok di tengah jalan, atau merasa gagal-gagal terus. Coba cari tahu apa ya pentingnya skill ini? Atau jangan-jangan saya gak merasa rugi ketika tidak memiliki skill ga marah-marah ini?.

Kita juga diingatkan mbak wiwik belajar mengelola emosi ini pun selama 3 tahun. Prosesnya pun menjadi lebih ringan ketika sudah tidak memikirkan hasil. Karena sejatinya wilayah hasil itu kekuasaan Sang Pencipta, kita fokus pada wilayah proses. Wajar jika di awal-awal kepleset.

Jangan lupa untuk lebih realistis dalam menentukan target. Kalau kita biasanya marah-marah sehari bisa 10 kali tentu akan lebih sulit ketika kita memasang tujuan langsung ga marah-marah. Perlahan kurangi marah-marahnya dan fokus ke proses ya.

Selama kita punya niat yang kuat, sebagai orang dewasa kita pasti bisa melakukannya.
Yang tidak kalah penting penutup dari Bu Aisya adalah kita mulai mengasihi diri sendiri. Bagaimana kita mau menyayangi orang lain, kalau kita belum bisa menyayangi diri sendiri. 

Mulai mengasihi diri sendiri
  1. Berterimaksih pada diri sendiri sudah melakukan semua peran dan tugas
  2. Berterimakasih atas pilihan yang dibuat di masa lalu yang dulu dirasa baik walaupun sekarang ga baik
  3. Jangan hakimi masalalu dengan wawasan diri saat ini
  4. Fokus pada kelebihan bukan pada kekurangan
  5. Buat target yang realitis
Bu Aisya memberi contoh setelah kita belajar , kita dapat langsung mempraktekkan. 
“Terima kasih kamu mau belajar mengelola emosi, tidak semua orang sadar akan hal ini”

Itulah catatan tidak singkat mengenai cara mengelola emosi marah selama di rumah. Semoga mewakili banyak dari apa yang disampaikan kedua narasumber ya. Adapun tips cara mengelola emosi anak yang bisa menjadi referensi Sahabat semua. Semoga bermanfaat. Selamat dan semangat berproses, Salam.


Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

34 komentar

  1. Sepertinya saya harus banyak belajar untuk mengelola marah, jangan sampai cepat tua gara-gara bawaan marah. Jangan Marah Maka Untukmu Surga.

    BalasHapus
  2. Saya suka bagian, emosi adalah tamu. Ya, dipikir-pikir benar juga. Mau bagaimana, emosi pasti datang dan pergi. Kita hanya wajib mengelola saja. Terima kasih sudah nulis ini, Mbak :)

    BalasHapus
  3. PR banget nih buat aku, khususnya ketika memahami ekspresi marah tuh baiknya kayak gimana. Karena, selama ini pun sebenarnya tahu kalau marah itu enggak lebih hanya sebatas sikap aja, bukan digambarkan dalam tindakan. Ahh, reminder banget nih

    BalasHapus
  4. wuah emang penting banget menyiapkan diri ini buat melatih dan mengelola marah. Bisa bisa jadi gunung vulcanic yang meletus karena overwhelmed yg terakumulasi

    BalasHapus
  5. Terima kasih banyak sharingnya kak Bagaimana caranya agar bisa mengendalikan amarah biar tidak menjadi marah-marah yang berkelanjutan yang merugikan diri kita sendiri maupun orang lain di sekitar kita

    BalasHapus
  6. Wah makasih Mbak sudah sharing materi yang didapatkan. Bermanfaat sekali, semoga bisa saya aplikasikan tipsnya :)

    BalasHapus
  7. Jadi marah itu beda dengan marah-marah ya..Hm, saya banget ini , sebenarnya bisa dikontrol biar enggak marah-marah. Habis anak-anak (apalagi saat pandemi di rumah aja) jadinya ya gitu deh...Emaknya nyaris enggak punya waktu buat diri sendiri hihi, akhirnya marah-marah dah.
    Btw, materinya beneran daging ...makasih Mbak sudah sharing:)

    BalasHapus
  8. Bagus banget nih infonya. Saya selalu belajar buat menahan emosi supaya tidak marah-marah tetapi terkadang kalau yang pembuat masalah sudah keterlaluan, marah-marahnya muncul lagi. Tetap belajar menahan emosi supaya tetap sehat

    BalasHapus
  9. Mba shafira aku ngga bosan2 bilang kalau blognya selalu eye catching. Tulisannya juga bagus. Sukaaa bangeet. Apalagi artikel satu ini soal marah. Buat aku yg kadang stres hadapi anak wajib bangeet praktekkan ini. Sekaligus kasih tahu ke anak apa yg harus dilakukan kalau marah. Thanks for sharing mba

    BalasHapus
  10. Aku juga suka marah sama anak dan selalu diakhiri dengan penyesalan. Walau sudah minta maaf ke anak tapi penyesalannya itu lho mba suka membekas. Kita memang harus mengelola marah dengan baik agar tidak berujung dengan marah-marah ya, Mba.

    BalasHapus
  11. Ternyata ada tekniknya mengelola emosi marah? Awalnya saya pikir antara marah dan marah-marah tuh sama. Ternyata beda. Terima kasih sharing ilmunya, kak. Sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  12. Bole marah asal jangan marah marah ya kan mb?
    😁 Wah anger rules nya bisa nih aku donlot utk ditempel di dinding rumah, 👏

    BalasHapus
  13. Sebisanya saya menjalani hari-hari bersama buah hati dengan sesuatu yang menyenangkan. Jika sudah marah, apalagi marah-marah emosi ini nggak ke kontrol lagi. Bahkan berujung penyesalan. Makasi ilmunya ya kak.

    BalasHapus
  14. Seneng banget baca artikel ini. Makasih mba, reminder nih buat aku sering melampiaskan marah dengan ngosrek kamar mandi tanpa dilakukan refleksi kenapa aku marah. Aku mau cobain semua step yang ada di sini buat mengelola emosi biar gak gampang marah-marah lagi dan mulai mengasihi diri.

    BalasHapus
  15. Artikel ini sangat bagus untuk para orangtua apalagi di saat pandemi ini lebih sering bertemu dengan anak bahkan bisa 24 jam bertemu. Kadang ada kebiasaan anak yang harus pelan-pelan kita ubah , bukan dengan kemarahan semata

    BalasHapus
  16. Bener banget mbak kita butuh effort dan kekonsistenan untuk mengubah kebiasaan itu. Aku kemarin bahkan sudah ikut kelas khusus ini. Hasilnya tetap saja beberapa kali kelepasan. Ini terjadi biasanya kalau lagi kecapean.

    BalasHapus
  17. Hiks saya ini mba.. belum bisa mengelola emosi dan marah-marah menjadi marah yang positif. Mudah-mudahan sehabis ini bisa saya praktekkan ilmunya. Terimakasih mba..

    BalasHapus
  18. Saya merasakan betul ni. Sejak suami work from home, jadi lebih emosian. Bukan berantem sama suami sih. Tapi cara kami menghadapi anak yg kadang berbeda, dan perbedaan itu memicu perselisihan-perselisihan kecil. Saya kalo emosi, harus selesai hari itu juga, gak boleh dibawa tidur dan dilanjutin esok hari. Puyeng. Hehehe

    BalasHapus
  19. Bicara soal strategi untuk meredakan amarah itu memang sudah dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW ya, Mbak. Kalau sedang berdiri, ya duduk. Kalau ujungnya masih marah juga, ya berwudhu. Tapi terlepas dari itu, sebaiknya tidak menahan amarah, tapi mengelolanya saja

    BalasHapus
  20. mantap nih saya dapat pengetahuan baru. Makasih sharenya. Tak mencoba untuk mengaplikasikannya

    BalasHapus
  21. Wah, makasih mba sharingnya. Bermanfaat banget. Harus mencoba mencari ekspresi marah yang lebih baik ketimbang bentak dan teriak ke anak, ya. 🤭

    BalasHapus
  22. Wah bermanfaat nih. Saya kadang suka gak sabr dan gak jarang emosi juga sama anak². Bisa dicoba lain kali. Makasih ya mbak

    BalasHapus
  23. terima kasih kak untuk paparannya sangat bermanfaat banget untuk pengelolaan emosi saya. saya memang bukan tipikal yang gampang marah, kalaua da yang bikin kesal atau marah lebih cenderung diam dulu, hindari mereka, kalau orang terdekat saya akan memilih diskusi setelah keadaan tenang. dan karena jarang marah-marah saya suka trauma kalau lihat ada orang yang suka marah-marah

    BalasHapus
  24. Biasanya kalau pas PMS tuh selalu bawaannya marah, kadang aku sie diem aja , tapi pernah juga meledak hehehe . atau biasanya aku ke tempat gym sie olahraga udah gitu masuk sauna diem di sana sebentar hilang tuh hawa marahnya dan puyengnya di dalam sauna, tapi karena ada pandemic kaya gini ya biasanya diem aja sie solusinya paling istigfar aja biar santuy.

    BalasHapus
  25. makasih mbak sharingnya. kalo saya paling banyak pemicu marah adalah rasa bersalah pada anak. Jadi menyadari diri ini masih belum optimal dalam membersamai anak-anak, tapi malah muncul marah ketika melihat anak tantrum. Ini sy rasakan otomatis keluar kalo sy gak sanggup mengendalikan kekepoan anak...hiks.

    BalasHapus
  26. waaah makasih tulisannya kak seru dan bermanfaat banget
    memang kita boleh marah selama tidak menimbulkan kerugian
    PR banget nih mengelola emosi ini

    BalasHapus
  27. Stok sabar kayaknya harus ditambah. Seringkali saya menyesal setelah marah2 gak terkendali. Kenapa sih harus marah?

    BalasHapus
  28. Setiap emosi memang ada fungsinya sendiri-sendiri dan kita harus tepat menyalurkannya

    BalasHapus
  29. Ternyata beda ya marah dengan marah-marah. Sebagai ibu kondisi sekarang memang ujian ya, semoga kita tetap bisa mengendalikan emosi dengan cara yang lebih baik.

    BalasHapus
  30. Aku tuh lagi mau ngajarin anakku buat kontrol emosinya. Tapi, semakin mencoba untuk ngajarin dia, aku makin sadar kalau sebenernya yang butuh belajar buat ngendalikan emosinitubya aku sendiri.

    Thank you for sharing mama ina. Jadi dapat pencerahan.

    BalasHapus
  31. Bener banget Mbak. Mengelola marah itu masya Allah ya? sepakat saya bahwa sesungguhnya kita harus mengetahui dan fokus pada kelebihan ya?

    BalasHapus
  32. Ya ampun mbak baru baru ini aku buat artikel judulnya agar tidak stres menghadapi anak anak yang sering bertengkar. dari pengalaman pribadi, suka emosi mulu. Hiks. sedang belajar berdamai dengan diri sendiri. Alhamdulillah nemu tulisan mbak. Suka banget dengan tulisan ini.

    BalasHapus
  33. Marah kalau ditahan nggak bagus, diungkapkan pun juga mesti dengan cara yang bagus. Jadi kembali lagi pada diri sendiri bisakah kuat untuk menahan rasa amarah ya

    BalasHapus
  34. Waah marah memang hal yang sulit untuk ditahan. Bahkan spontan, tapi kala marah-marah sebenarnya bisa asal kita sslau sadar atau kontrol introspeksi kenapa mesti marah hehe

    BalasHapus