-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Menjaga Laut di Tengah Pandemi


Hai sahabat mamah. Tahu ga sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya, 8 Juni 2020 adalah hari Peringatan Hari Laut Sedunia? Salah satu tujuan Hari Laut Sedunia adalah untuk menyadarkan berbagai pihak agar merawat dan menghargai lautan sedunia. Laut merupakan sumber pangan, farmasi, energi, sumber daya mineral, tempat pariwisata, dan sebagai jalur pergerakan perdagangan dunia.
Nah kali ini mari membahas tentang laut yuk. Sebagai warga negara yang memiliki banyak pulau tentu harus tau dan sadar tentang manfaat, fungsi dari laut itu ya. Apa kabar ya laut kita di tengah pandemi ini? Yuk simak.

Wabah Corona, Waktunya Laut Istirahat

Dunia di masa pandemi mengalami banyak perubahan. Hampir memasuki setengah tahun ini, pandemi Covid-19 menyerang Dunia. Menurut data worldometers, sampai saat artikel ini ditulis, sudah 810.421.869 orang positif terjangkit corona dan 508.422 orang meninggal dunia. Wabah Pandemi Covid-19 tentu membuat gerak masyarakat keluar rumah terbatas demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Hal ini membawa dampak signifikan pada sektor wisata, khususnya wisata laut. 

Secara ekonomi, memang masyarakat yang mengandalkan 100% penghasilannya pada sektor wisata ini mengalami penurunan drastis. Namun di sisi lain, wabah virus corona ini menunjukkan sisi positif bagi alam termasuk laut. Penurunan aktivitas manusia dengan melakukan isolasi diri memberikan waktu bagi laut untuk beristirahat sementara waktu. Sahabat pernah lihat dong langit kota kita yang sempat biru saat Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB, tapi polusi langsung meroket usai pelonggaran PSBB.
menjaga laut

Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang. Dalam siaran talkshow Ruang Publik serial perubahan iklim “Menjaga Laut di Tengah Pandemi”, beliau menyebutkan, “tidak adanya aktivitas wisatawan ini juga membawa pengaruh terhadap pengurangan jumlah sampah yang dihasilkan saat berwisata. Selain itu, tingkat polusi suara atau kebisingan dari kapal-kapal laut yang mengangkut wisatawan maupun pengiriman barang berkurang. Menurutnya ini baik untuk alam dalam mencegah perubahan iklim.”

Hal ini juga diiyakan oleh Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat, Papua Barat. Beliau menyebutkan wabah pandemi ini adalah waktunya istirahat laut. Laut Raja Ampat menjadi bersih. Laut menjadi biru, sampai-sampai tuna dan hiu bisa dilihat jelas meski dari pesisir pantai. Ikan-ikan berkembang biak lebih banyak. Terumbu karang tumbuh dengan cepat. Pandemi corona Covid -19, membantu laut memulihkan dirinya.

Saatnya Memperhatikan Laut Kita

Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change  (IPCC), laut dinyatakan sebagai objek yang terdampak oleh akibat adanya perubahan iklim. Apakah betul laut Indonesia terkena dampak dari perubahan iklim?

Perubahan iklim di Lautan Indonesia

Sahabat sudah tahu belum apa saja dampak perubahan iklim yang sudah terjadi di lautan Indonesia, yuk simak di bawah ini :

1. Intrusi Air Laut

Intrusi air laut adalah naiknya batas antara permukaan air tanah dengan permukaan air laut ke arah daratan. Perbedaan tekanan air tanah yang lebih kecil dibandingkan air laut pada keadaan yang sama menyebabkan terjadinya intrusi air laut. Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan batas antara air tawar an air laut naik ke daratan, sehingga air tanah di wilayah pesisir pantai menjadi terasa asin.

Hal ini pun senada apa yang disampaikan pak Prof. Zainuri, bahwa banyaknya industri yang didirikan di tepi pantai membuat eksplorasi besar-besaran pada air tanah sehingga air laut masuk ke air tanah yang menyebabkan terjadinya intrusi air laut.

2. Menjoroknya Garis Pantai

Prof. Zainuri menyebutkan salah satu dampak perubahan iklim yang terjadi di lautan Indonesia adalah menjoroknya garis pantai dari laut menuju ke darat atau yang disebut dengan abrasi. Beliau menambahkan bahwa pada saat ini garis pantai utara jawa (Pantura) telah bergeser garis pantainya menuju daratan. Data yang beliau sebutkan dibanding dengan 30 tahun yang lalu, untuk daerah Brebes bergeser 800 m, Pekalongan 900 m dan Semarang 2,5 km.
Selaras dengan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah ada tiga wilayah di pesisir pantai utara Jawa Tengah telah mengalami abrasi dalam kurun waktu lima tahun. Wilayah tersebut adalah Kabupaten Brebes, Kabupaten Demak, dan Kota Semarang.

3. Meningkatnya Suhu Air Laut

Bumi semakin hangat karena perubahan iklim. Ternyata bukan hanya daratan yang merasakannya perubahan, lautan pun merespon perubahan tersebut. Sebuah penelitian ilmiah menemukan bahwa ekosistem laut menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suhu.
Karang termasuk organisme laut yang paling rentan terhadap perubahan suhu air laut. Sebuah penelitian membuktikan bahwa terumbu akan memutih walau perubahan suhu hanya sedikit. 

4. Pemutihan Karang

Kita tahu sendiri bahwa karang merupakan jantung kehidupan biota laut. Pemutihan karang atau coral bleaching adalah bentuk nyata perubahan iklim di suatu tempat.  Kondisi ini menandakan karang mengalami stress akibat dari perubahan kondisi lingkungan seperti cahaya, suhu dan nutrient. Alga yang harusnya bersimbiosis dengan karang terlepas, lalu karang menjadi putih. Pemutihan terumbu karang atau bleaching akan memperlambat pertumbuhan sehingga rentan penyakit dan menyebabkan kematian dalam skala besar.
Seperti yang disampaikan Githa Anathasia, pemutihan karang juga terjadi di beberapa titik di kawasan kampung wisata Arborek, Raja Ampat. 

5. Perubahan Bentuk Ikan

Perubahan Iklim Membuat Sebagian Spesies Ikan di Laut Mengecil, yang lainnya Membesar.
Richards A, dkk pada jurnalnya yang diterbitkan di Nature Ecology & Evolution (2020) menyebutkan perubahan iklim membuat sebagian spesies ikan laut mengecil dan yang lainnya membesar. Perubahan iklim ternyata berpengaruh pada biota di laut. Ketika suhu air meningkat, beberapa spesies ikan berubah ukuran. Beberapa menyusut, namun yang lain bertumbuh besar.

Studi yang dilakukan dengan menganalisis lebih dari 10 juta data hasil catatan survei visual untuk memahami fenomena penyusutan dan pertumbuhan ikan dalam kaitannya dengan perubahan iklim, dan efeknya pada lingkungan laut dan pengelolaan perikanan. Bagi para peneliti, salah satu temuan paling mengejutkan adalah bahwa beberapa ikan tumbuh, bukannya menyusut, sebagai respons terhadap pemanasan air.

Meski implikasi untuk perubahan ukuran ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi fluktuasi ini tentu akan berdampak pada jaring makanan laut. Kenapa? Karena saat ikan bertambah kecil, mereka lebih mudah ditangkap oleh predator.

WISATA BAHARI DALAM NEW NORMAL

Sahabat, tentu kita mengiyakan bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang paling berdampak saat pandemi Covid-19 ini. Pada masa new normal, beberapa sektor mulai dibuka atau diaktifkan kembali dengan memperhatikan protokol kesehatan. Termasuk salah satunya adalah pariwisata. 
Lantas bagaimana upaya-upaya menjaga kondisi laut yang sempat membaik saat pandemi ini di tengah upaya pemerintah membuka sektor wisata alam di tanah air?

Berwisata dengan Bijak

Ketika wisata bahari kembali dibuka, Mbak Gita mengingatkan agar kita bijak dalam berwisata dan tidak lapar traveling.

- Kenali daerah wisata dengan baik

Yang paling bikin saya gemas dengan perbuatan banyak orang akhir-akhir ini adalah hanya mencari daerah wisata yang instagrambel saja. Sesungguhnya tiada salah jika sahabat semua mau berwisata untuk mendapatkan spot foto yang menarik. Tetapi sangatlah tidak bijak jika kita hanya membuat tempat itu terkenal tanpa menjaga keasrian dan kebersian daerah wisata tersebut.
Jadi, sebelum kita mengunjungi tempat wisata, ada baiknya kita mencari tahu info tentang tempat yang akan kita kunjungi. Potensi apa yang berada di tempat terseubyt sehingga perjalanan kita jauh lebih bermakna. 

- Berbagi dengan penduduk lokal

Mbak Gita menambahkan perjalanan akan lebih bermakna ketika kita bisa berbagi dengan penduduk lokal. Entah itu berbagi sembako atau melakukan perekonomian di sana. Jadi jangan segan-segan untuk berbagi sambil melakukan traveling ya!

- Kurangin Sampah

Jangan buang sampah sembarangan, Laut bukan keranjang sampah

Prof Zainuri menyebutkan sampah industri di masa pandemi terindikasi menurun sebanding dengan menurunnya aktivitas industri. Namun timbul  permasalahan baru. Kini sampah terbagi menjadi 2 konsentrasi besar, yaitu sampah infeksius yang berasal dari rumah sakit, puskesmas, maupun wisma atlet di Jakarta, serta sampah rumah tangga yang memang sudah menjadi problematika setiap tahun.

Meningkatnya frekuensi jual-beli online, menyebabkan adanya indikasi bahwa adanya sampah plastik akibat dari pengiriman akan melonjak tajam dan belum bisa banyak di tangani karena merupakan sampah sekali pakai. Packaging dengan plastik  ataupun buble wrap yang dilakukan guna mengirimkan barang dari e-commerce juga bisa menjadi hal yang menyebabkan membludaknya sampah plastik. 

Apalagi ketika wabah Covid 19 ini merebak, seluruh lapisan masyarakat sudah mulai mengenakan masker bedah sebagai tindakan pencegahan. Bayangkan sahabat, 7 juta orang tiba-tiba mulai mengenakan satu atau beberapa masker setiap hari, sarung tangan sekali pakai dan hand sanitizer! 

Tentu jumlah sampah yang dihasilkan akan sangat besar. Perlu kita sadari dampak dari limbah medis tersebut sangat luas. Ketika semua limbah ini tetap dibuang di habitat alami hewan di daratan dan lautan, hewan dapat keliru memakan ini dan menyebabkan kematiannya (Hellewell et al., 2020)

Laut bukan keranjang sampah yang dapat menerima sampah-sampah manusia. Laut merupakan mutiara berharga sebagai titipan untuk anak cucu kita. Sudah sepatutnya pemerintah dan masyarakat mawas diri dengan ini. Dengan adanya pencemaran di laut maka kita mencederai aset berharga kita.


MENJAGA LAUT MESKI DI RUMAH AJA

Sebagai warga ibukota yang belum jajan melihat laut lagi kita jadi tersadar dong betapa laut penting bagi hidup kita. Kenapa? Secara kita masih memerlukan protein dari biota laut. Artinya meskipun kita tinggal di perkotaan kita tetap memerlukan laut. Dengan menjaga laut kita juga menjaga lumbung sumber protein diri dan sekeluarga.

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration ada 10 cara menjaga laut yang bisa kita lakukan Beberapa di antaranya bisa kita lakukan meskipun di rumah saja atau saat berada di daerah wisata, yaitu:

1. Melestarikan Air

Dengan menggunakan air dengan hemat itu berarti kita mengurangi sisa limbah air supaya tidak mengalir ke laut. 

2. Mengurangi Polutan

Sadar ga sahabat, banyak sekali polutan yang dihasilkan. Mulai dari sisa air cucian baju, cucian piring. Nah kita bisa menggunakan bahan kimia yang lebih ramah dan tidak berbahaya pada lingkungan. Serta membuang sampah polutan dengan semestinya.

3. Mengurangi Limbah

Sampah yang kita hasilkan sejatinya tak pernah menghilang. Sampah-sampah tersebut hanya berpindah tempat. Maka dari itu dengan mengurangi pembuangan limbah, kita juga menjaga laut dari sesaknya sampah.

4. Berbelanja dengan Bijak

Perlahan kami sekeluarga mulai mengurangi makanan kemasan yang memiliki proses pembuatanan yang panjang. Dengan memilih real food seperti makanan laut, mengurangi penggunaan plastik dan membawa tas belanja sendiri artinya kita menjaga laut. 

5. Mengurangi Polusi Kendaraan Bermotor

Ternyata apa-apa yang kita lakukan saling berhubungan. Dengan menggunakan kendaraan yang berbahan bakar ramah lingkungan, kita dapat mengurangi jejak karbon dan polusi udara.  Hal ini tentu dapat menekan perubahan iklim yang dapat mempengaruhi keberlangsungan biota laut

6. Mengurangi Penggunaan Energi

Yuk mulai kita tidak boros dalam menggunakan energi listrik, seperti tidak boros menggunakan pendingin ruangan atau alat elektronik yang memakan listrik banyak.

7. Bertanggung jawab dalam Memancing

Ternyata dengan melakukan teknik “memancing kemudian melepaskan” dan membiarkan lebih banyak ikan hidup sama dengan menjaga laut.

8. Mempraktikkan Berperahu dengan Aman

Jangan lupa ketika menggunakan perahu di atas laut untuk meletakkan jangkar di daerah berpasir, jauhkan dari terumbu karang dan rumput laut. Mematuhi aturan kecepatan minimum perahu di daerah pantai. Hal ini agar para biota laut tidak terganggu dengan kehadiran perahu atau sepit yang kita kenakan.

9. Menghormati Habitat

Habitat  yang sehat saling mempengaruhi keberlangsungan hidup. Mari kita rawat makhluk hidup dengan baik. Contohnya ketika kita sedang berwisata bahari, snrokling atau diving tidak merusak karang laut.

10. Sukarelawan

Menjadi volunteer atau sukarelawan membersihkan pantai. Ini dapat membuatmu berkontribusi lebih dalam melindungi daerah perairan.

Kesimpulan 

Laut memiliki arti dan fungsi besar bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Laut bukan saja merupakan sarana transportasi antar pulau. Bagi Indonesia, laut juga merupakan salah satu habitat utama keragaman hayati laut tropis di dunia serta sumber bahan pangan yang sangat penting. 
Ketika wisata laut mulai di buka jangan lupa untuk terus bijak dalam berwisata. Dan meski dari rumah kita bisa menjaga laut. Salah satunya dengan mengurangi sampah plastik.


Beberapa sumber data :
  • Hellewell et al., 2020. Feasibility of controlling COVID-19 outbreaks by isolation of cases and contacts. Lancet Glob. Health, 8 (4) (2020), pp. 488-496, 10.1016/S2214-109X(20)30074-7 
  • Audzijonyte, A., Richards, S. A., Stuart-Smith, R. D., Pecl, G., Edgar, G. J., Barrett, N. S., … Blanchard, J. L. (2020). Fish body sizes change with temperature but not all species shrink with warming. Nature Ecology & Evolution. doi:10.1038/s41559-020-1171-0
  • https://oceanservice.noaa.gov/ocean/help-our-ocean.html
  • https://regional.kompas.com/read/2020/02/04/16204461/8023-hektar-lahan-di-pantura-tenggelam-akibat-abrasi.
Disclaimer :

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.



Semoga Bermanfaat, Salam.

Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

41 komentar

  1. Pantai Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi sudah sangat kotor dan tercemar terutama oleh sampah plastik dari sisa pengunjung. Pemerintahnya hanya sibuk ngurusin pabrik. Sedih aku tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sukabumi kampungku...walaupun ujung genteng itu jauh sekali. iya mas sedih ya, mulai dari rumah jangan banyak pake plastik ya

      Hapus
  2. Lengkaaaaap mbaa hihi. Mudah-mudahan menang yaaa. Aamiin.
    Aku tuh ga bosan2nya liat templatenya. Lucu banget. Bikin betah bacanya. Maaf OOT 🙏

    Terlepas dari ancaman dari berbagai macam penjuru yang merusak laut, mudah2an ada jalan terbaik yaa. Sampai sekarang aku jg blm nemu bagaimana solusi yang pas biar sampah itu ngga banyak2 dibuang ke laut. Sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya Allah. makasih ya mbak jihan sholeha, aku doain juga mbak menang hehe. iya pada akhirnya sampah kita cuma pindah tempat ya mbak karena ga diolah huhu

      Hapus
  3. Semoga semakin banyak orang yang sadar akan lingkungannya, betapa indahnya jika semua wisatawan bisa menjaga kebersihan dan bisa turut serta melestarikannya

    BalasHapus
  4. Setuju bgtttt. Kita negara kelautan, jd harus kita jaga. Tapi kenyataannya banyak limbah bermuara ke laut. Semoga laut kita makin terjaga, sehingga kita makin kaya 🙏😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak, laut titipan buat anak cucu kita kan

      Hapus
  5. Keren ulasannya detail banget. Memang yang paling ngeselin dalam masalah ini tuh, sampah ya Mbak. Meskipun wisata ditutup tidak menutup kemungkinan sampah berasal dari limbah rumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, semoga kita menjadi salah satu solusi yaa..bukan menyumbang polusi huhu

      Hapus
  6. setuju ya, menjaga laut memang tugas bersama

    BalasHapus
  7. Bener, kalo bukan kita siapa lagi yang akan menjaga keindahan laut untuk diwariskan kepada anak cucu kita kelak.

    BalasHapus
  8. Aku sedih banget waktu ada berita yang paus sperma menelan sampah banyak banget itu mb ina, sedih sampai nangis. Begitu kejamnya manusia yaa mb, akibat ulahnya membuat sampah sembarangan dan tidak mengolahnya, makhluk lain jadi korban. Kabarnya pandemi ini membawa sedikit perubahan bagi alam termasuk laut. Sukses mb ina lombanya semoga menang, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mbak, terus ngeliat plastik2 bekas paket juga sedih. yuk mulai dr sekarang kita ngurangi plastik mbak lid. aamiin, makasih doanya ya mbak eheh

      Hapus
  9. Ternyata perkembangan iklim bisa pula berdampak pada perubahan tubuh ikan. Mungkin ini sama dengan hukum jaring-jaring makanan ya mbak.
    Btw, ke-10 cara menjaga laut meski di rumah saja adalah cara tepat ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bun...yuk kita mengurangi sampah plastik salah satunya

      Hapus
  10. Kadang suka sedih melihat pemandangan alam yang bagus di Indonesia terus pas liat pantainya masih banyak sampah, lalu coba snorkeling suka ga sengaja ketemu sampah, semoga para pengunjung wisata dapat dan makin sadar untuk lebih menjaga laut yang sudah bagus ini dengan tidak buang sampah sembarangan di laut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanda-tanda bumi sudah sesak sama sampah mbak hiks

      Hapus
  11. Ada ya peringatan hari laut. Raja ampat kena coral bleachig ya, semoga kondisinya bisa kembali seperti awal

    BalasHapus
  12. Banyak hikmah dibalik wabah corona... Ulasan yang lengkap.

    BalasHapus
  13. Nah harus ditanamkan nih kepada para pemancing. Mau gak memancing kemudian melepaskan ya Bunda Ina... artikelnya keren, good luck yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gimana yang mancing rela ga ya ngelepas ikannya lagi eh. tapi ya kita harus pilih2 ikan dipancing sih jangan yang masih kecil2 biar mereka hidupp

      Hapus
  14. Waduh aku nggak nyimak pas live saat itu. Jadi tanda tanya besar buat aku sebenarnya, bagaimana bisa sampah medis bisa hanyut sampai ke laut? Sementara yang aku lihat, orang-orang di masyarakat umum sudah pada memakai masker kain yang notabene bisa dicuci ulang.

    BalasHapus
  15. abrasi garis pantai itu mengerikan jika terus terjadi. Luas daratan akan semakin berkurang. Masa iya akhirnya manusia harus hidup di atas permukaan laut?

    BalasHapus
  16. Mungkin salah satu cara untuk mengurangi sampah di daerah wisata adalah dengan membawa pulang sampah. Artinya pengunjung bertanggung jawab terhadap sampah mereka sendiri, tidak membuang di tempat wisata, tetapi membawa dan membuangnya di rumah.
    Salah satu contoh aturan disini seperti itu.

    BalasHapus
  17. Penjelasannya detail sekali mba. Betul juga ya, dgn adanya pandemi laut bisa beristirahat sejenak. Sepi dari wisatawan bikin laut lebih bersihan..

    BalasHapus
  18. Mbak aku salah fokus sama infografisnya. Keren banget. Heu. Bicara soal laut memang sudah jadi peer kita bersama ya untuk terus Berusaha melestarikannya

    BalasHapus
  19. Pariwisata bertipe laut dan kepulauan nyaris terhenti. Membuat alam yang dijual bisa melakukan jeda sejenak, memulihkan diri. Pun demikian dengan laut dan biotanya ya. Jadi ada banyak juga perubahan bagus

    BalasHapus
  20. Iyah, semoga kita semua bisa menjaga laut meski dari rumah saja. Miris banget mendengar ada rumah yang setengah masuk ke pasir karena dampak pembuangan limbah ini :(

    BalasHapus
  21. Hikmah pandemi ini memang maksimal untuk alam ya mbak ina. Laut serasa tidak ada kegiatan selain di dalamnya saja. Ikan, terumbu karang bebas tanpa ada gangguan dari makhluk lain. Tapi, memang disayangkan ternyata masih ada sisa sampah masker sama sarung tangan. Huhuhu

    BalasHapus
  22. Air adalah sumber kehidupan yang bagi sy penting bgt. Karna sy merasakan hidup di pinggir sungai. Tp selalu masalah utamanya sampah rumah tangga. Gimana nasib sungai dan laut di masa depan jika sekarang saja sampah sudah sangat mengganggu.

    BalasHapus
  23. Meski selalu nampak indah, ternyata laut sekarang mengalami kerusakan yang cukup serius akibat ulah manusia dan perubahan iklim. Semoga dengan adanya kampanye seperti ini kita ikut berpartisipasi menjaga kelestarian laut.

    BalasHapus
  24. Suka sedih kalau ke tempat wisata, lalu ada botol-botol minum kemasan berceceran. Artikelnya keren, lengkap, dan terperinci. Makasih sharingnya...

    BalasHapus
  25. Informasinya lengkap banget mbak..
    Infografisnya juga oke..
    Good luck mbak

    BalasHapus
  26. Pernah nonton salah satu video di national geography tentang penjelajahan laut terdalam yang bisa dicapai manusia dan di situ ditemukan sampah plastik, huhu :( waktu liburan tahun lalu juga senpat lihat orang dengan seenaknya buang sampah di pantai. Kok bisa ya, katanya mau menikmati keindahan pantai, tapi malah merusak keindahan pantai itu sendiri. :(

    BalasHapus
  27. Ternyata covid-19 ada hikmah positifnya Juga ya mbak. Meski denger2 sampah plastik berkurang selama pandemi berkurang, tapi lebih banyak sampah masker Dan sampah sarung tangan..

    BalasHapus
  28. Beneran baru tau mba kalau perubahan iklim di laut pengaruh juga terhadap besar kecilnya ikan.
    Saya setuju banget dengan langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk menjaga laut. Harus peduli pada lingkungan ya agar tercipta kondisi alam yang tetap baik dari waktu ke waktu.

    BalasHapus
  29. Ooh ternyata pemutihan karang itu memperlambat pertumbuhan karang. Saya pikir dampak wabah Corona ini membuat karang menjadi putih bersih karena tidak adanya gangguan dari sektor wisata laut yang ditutup. Setelah baca tulisan ini saya jadi tau 😅

    BalasHapus
  30. Kapan itu aku lihat juga di televisi, suhu air naik dikit aja udah membuat jenis ikan di suatu perairan berubah ... sehingga ekosistem lokal berubah :(

    BalasHapus