-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

SATUKAN NADA UNTUK MELINDUNGI BUMI

Pemanasan global, mencairnya es kutub, naiknya muka air laut seolah belum bisa menyadarkan manusia betapa sakitnya bumi hari ini. Rentetan bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran dan penggundulan hutan, pencemaran dan lain terjadi di dalam maupun luar negeri. Mata kita tak bisa tertutup lagi dengan kenyataan bahwa alam yang kita tinggali ini semakin rusak.

Keseimbangan lingkungan hidup terganggu bukan lagi hal yang dipandang sebelah mata. Bencana alam yang terjadi baik di dalam negeri dan di belahan bumi lain terus terjadi. Kebutuhan manusia tumbuh dengan pesatnya dan menguasai peradaban. Demi memenuhi kepuasan hidupnya sering manusia mengesampingkan faktor alam dan cenderung menimbulkan kerusakan. Penemuan berbagai instrumen teknologi, bahkan telah mengubah lingkungan alam sesuai dengan keperluan manusia (Siahaan, 2007). Bumi dan lingkungan menjadi objek oleh manusia untuk dieksploitasi secara besar-besaran.

MUSIM YANG TIDAK TERATUR DAN EKSTREMNYA IKLIM

Musim hujan makin pendek tetapi puncak sangat intens. Begitu juga musim kemarau, interval durasi terkadang pendek dan ketika itu terjadi panasnya sangat ekstrem. Apa implikasinya? Begitu terjadinya unpredictable musim tersebut akan mempengaruhi pertanian kita. Tentu ini akan mempengaruhi pasokan kebutuhan pokok dan ekonomi manusia.

Jumat lalu tanggal 14 Agustus 2020, saya bersama teman-teman bloger lainnya berkesempatan mengikuti Webinar bertajuk "Suara Kita Tentang Perubahan Iklim" yang diadakan oleh Ruang Publik Kantor Berita Radio-KBR. Webinar tersebut merupakan episode terakhir dari series perubahan iklim yang telah diadakan sedari Bulan Mei lalu. Pada kesempatan itu kami berbincang bersama Pak Mubariq Ahmad (Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia). Beliau menambahkan bahwa musim yang tidak teratur mempengaruhi sektor pertanian seperti menurunya produktivitas karena kekurangan air dan musim tanam yang tidak bisa diperkirakan dengan tepat. 

RUSAKNYA HUTAN RUSAKNYA HABITAT HEWAN

Megadiversity Country begitulah yang tersemat di Negara kita. Mejadi kawasan hutan tropis ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Zaire. Julukan yang sangat membanggakan, dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Tapi artinya tanggung jawab yang melekat sangatlah besar.

Mirisnya salah satu hutan terbesar negeri ini di Kalimantan memeiliki laju deforestasi tertinggi di dunia lebih dua dekade. 56 persen dari hutan dataran rendah tropis yang dilindungi diperkirakan telah hilang antara periode 1985-2001. Laporan dari UNEP dan Universitas Liverpool serta Lembaga Kemitraan Kelangsungan Hidup Kera Besar (GRASP) juga menambahkan jika deforestasi di Asia Tenggara terus berlanjut, sebanyak 75 persen dari hutan asli akan hilang pada 2030. Dengan kata lain pembanguna alih fungsi hutan akan membuat kehidupan satwa terancam.

Pada Diskusi Ruang Publik Berita Radio-KBR lalu kami juga berbincang bersama Pegiat Lingkungan dan Perlindungan Satwa. Salah satunya adalah Davina Veronica seorang model yang aktif di NGO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Davina menceritakan bagaimana orang utan terancam kehilangan habitat mereka karena secara perlahan area hutan di Kalimantan berkurang. Padahal orang utan dan hewan lainnya adalah penduduk asli hutan. Tempat tinggal mereka diambil alih karena kepentingan manusia.

“Kita manusia, bukanlah makhluk yang superior tetapi adalah fakta kalau manusia merasa superior dan menjadi akar dari semua permasalahan yang ada di muka bumi ini,” jelas Davina. Jika saja semua makhluk memainkan perannya masing-masing, tidak ada yang mendominasi tentu keseimbangan alam tetap terjadi.

RUSAKNYA JANTUNG BUMI

Pak Mubariq Ahmad menambahkan tidak hanya orang utan, satwa lain seperti harimau utan membutuhkan wilayah luas untuk hidup. Bukan sekedar hidup, melainkan untuk mepertahankan keberlangsungan hidupnya. Selain merusak habitat para satwa, kerusakan hutan menjadi bumerang kepada manusia. Senada dengan yang disampaikan Pak Mubariq bahwa manusia merasakan dampak perubahan iklim tetapi sekaligus menyumbang terjadinya perubahan iklim.

Seperti banjir dan longsor yang marak terjadi. Pak Mubariq menjelaskan bencana alam yang terjadi biasanya terkait dengan dua hal yakni perubahan iklim dan kerusakan hutan di hulu. 
“Jadi di daerah aliran sungai yang hulunya rusak atau dirusak biasanya tahun depannya di hilirnya terjadi banjir. Dan bisa dipetakan dari Sabang sampai Merauke pola seperti itu banyak sekali.” Ucap Pak Mubariq.

SUMBANGNYA SUARA PARA PEMBANGKU KEBIJAKAN

Deforestasi dan konversi hutan Indonesia menjadi salah satu penyebab perubahan iklim yang kita rasakan saat ini. Selain itu Situasi bumi yang rusak kian diperparah dengan kebijakan para pemangku kepentingan. Sampai saat ini kita belum konsisten. Sampai hari ini Indonesia kita masih mengandalkan sumber energi dan masih membangun sumber-sumber energi yang berbasis fossil fuel yang menjadi penyebab emisi gas rumah kaca (GRK).

Ada ide kebijakan yang tidak selaras dengan praktek di dalam negeri. Di sisi lain Indonesia menyampaikan rencana penurunan emisi GRK sebesar 29% pada 2030 dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC) pada Paris Agreement. Sayangnya praktik di lapangan antar kementerian/lembaga pemerintah belum senada, masih terjadi perbedaan sikap. Di sisi lain Indonesia ingin mengurangi emisi GRK, di sisi lain kita masih mengandalkan energi fosil dan batu bara.

SATUKAN NADA UNTUK MELINDUNGI BUMI

Setiap dari kita punya suara, setiap kita menimbulkan dampak. Entah itu di dalam lingkup rumah, masyarakat, lembaga atau pemerintah. Daripada hanya mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan terang agar menjadi cahaya petunjuk minimal untuk diri sendiri. Berikut langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengurangi laju perubahan iklim di planet kita tercinta ini.

BERGERAK DALAM KOMUNITAS

Dalam Webinar tersebut hadir juga Pak Zul Karnedi, seorang penyelamat penyu Alun Utara Bengkulu. Meskipun pada awalnya selama 10 tahun (1990 – 2000) dirinya menjadi pemburu penyu dan telurnya namun sejak 2015 dirinya sudah berbalik menjadi penyelamat penyu. Sampah-sampah yang dihasilkan manusia bisa mengancam nyawa hewan laut tersebut. Pak Zul bercerita ia pernah menemukan penyu yang mati di pantai dan di dalam tubuhnya ditemukan sampah kaleng.

Walaupun perjalanan Pak Zul dalam 5 tahun ini tidak terbilang mudah, ia sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat karena aksinya melindungi hewan bertempurung tersebut. Tetapi usaha tak pernah mengkhianati hasil, beliau memaparkan sudah hampir 80% penduduk sekitarnya memiliki kesadaran untuk menyelamatkan penyu. Langkahnya kini bisa ia suarakan di depan para mahasiswa di daerah Bengkulu untuk membantunya untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik dan melestarikan penyu.

Kita semua pasti pernah mendengar perumpamaan bahwa sebatang lidi tidak bisa menyapu semua kotoran, tetapi jika lidi-lidi disatukan dengan sebuah ikatan mereka memiliki kekuatan untuk membersihkan kotoran. Sama halnya dengan sebuah komunitas. Dengan menyatukan visi dan misi untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan kita dapat lebih memberi arti untuk melindungi tempat tinggal kita ini.

Lembaga Swadaya atau NGO bisa menjadi salah satu roda penggerak untuk aksi melindungi perubahan iklim. Davina menjelaskan kalaupun kita tidak bisa terjun langsung ke lapangan bersama NGO kita bisa menyisihkan sebagian harta kita untuk ambil andil dalam kegiatan mereka. Salah satunya konservasi orang utan, tentu tidak memakan biaya yang sedikit untuk melakukannya. Kini banyak sekali model donasi online yang bisa kita ikuti untuk berpartisipasi dalam memulihkan lingkungan.

Pengelolaan lingkungan memang masalah yang kompleks. Ada peran yang harus ditegakkan dalam setiap aspek, baik pemerintah, lembaga, masyarakat maupun lingkup terkecil yakni keluarga.Harus ada keterlibatan semua pihak, tidak hanya menunggu peraturan pemerintah dalam mencegah perubahaan iklim dan melestarikan alam khususnya di Indonesia.

Apa yang sudah kita lakukan bumi? Apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi bumi? Tentu menjadi pertanyaan besar di dalam benak kita.

MULAI DARI DIRI SENDIRI

Ketua Umum Pusat Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Widyanti Yuliandari berbagi cerita bagaimana ia tertarik menuliskan ide-ide soal pelestarian lingkungan di blognya. Lebih dari 10 tahun ia menjadi bloger, ia selalu bersemangat dalam menyuarakan nada tentang isu lingkungan. Bloger memiliki tantangan bagaimana mengemas isu lingkungan ini agar menarik dan tidak garing dibaca oleh masyarakat.

Mengurangi Sampah Rumah Tangga

Mulai dari hal yang sederhana bisa kita lakukan seperti hal sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari. Contohnya membawa bekal, batasi konsumsi minuman kemasan, dan beralih membawa tempat minum daripada membeli air minum kemasan.

Saya mencoba menerapkan di rumah ketika ingin berbelanja ke warung sayur atau minimarket, selalu membawa kantong belanja. Sampai-sampai anak saya selalu hapal untuk selalu menginggatkan membawa kantong belanja atau kantong plastik jika hendak berbelanja ke warung atau minimarket.

Selain kantong plastik. Hal sederhana yang bisa dimulai dari diri sendiri adalah dengan mulai memisahkan sampah rumah tangga. Usahakan untuk mengurangi sampah makanan dan plastik. Jika memiliki sampah organik, kita bisa mencoba membuat kompos sebagai pupuk tanaman nantinya. Atau minimal mengubur smpah sisa makanan di tanah perkarangan rumah. Selain itu pergunakan plastik berulang kali ya, jangan mudah membuang plastik apalagi sterofoam yang sangat sulit untuk didegradasi bumi.

Mengurangi Limbah Pembalut dengan Menggunakan Menstrual Cup

Tak hanya Widyanti Yuliandari, bloger lainnya, salah satu bloger dari Yogyakarta, Siti Hairul menyerukan agar kaum perempuan menghentikan pemakaian pembalut sekali pakai dan menggalakkan pemakaian Menstrual Cup. Beliau pernah menuangkan pengalamannya di blog pribadinya dan memasuki halaman pertama di laman Google. Banyak yang bertanya baik melalui email maupun komentar di blognya tentang Menstrual Cup ini.

Ia merasa inilah salah satu sikap nyata yang bisa ia lakukan untuk menjaga bumi dari timbunan sampah. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pembalut sekali pakai tidak bisa diolah dan hanya jadi timbunan sampah fakta tersebut juga diketahui Mbak Siti dari hasil mewancarai salah satu pertugas sampah yang ia temui di dekatrumah (TPA Piyungan).

Bijak dalam Menggunakan Air Bersih

Salah satu langkah kecil yang bisa terapkan di rumah adalah dengan menghemat penggunaan air bersih. Dengan bijak dalam menggunakan air bersih, kita tidak perlu mengolah dan memompa begitu banyak air bersih. Otomatis lebih sedikit energi yang digunakan. 

Menghemat Energi

Enegi listrik di Indonesia masih banyak mengandalkan dengan energi fosil. Dengan menghemat penggunaan energi kita juga berkontribusi mengurangi kerusakan bumi. Mari kita mulai menghemat dan bijak dalam mengkonsumsi energi. Mulai dengan menggunakan lampu hemat energi dan mencabut steker listrik jika tidak terpakai.

Mendaur ulang

Ada hal sederhana yang saya lakukan bersama anak saya di rumah adalah membuat mainan atau berkreasi dengan barang bekas. Lonjakkan belanja online tentu dirasakan oleh setiap rumah tangga, selain karena mengurangi aktivitas keluar rumah, efisiensi waktu dan tergiurnya promo jadi alasan untuk sering menggunakannya. Tidak terkecuali saya. Namun akibatnya, sampah plastik dan kardus pembungkus paket sering kali menumpuk.

Salah satu ikhitiar kami adalah dengan memanfaatkannya untuk bermain dan belajar bersama. Berikut adalah beberapa hasil kreasi yang pernah kami buat dari beberapa sampah di rumah.

1. Jam dan kalender dari kardus bekas

Kami membuat ini saat usianya sekitar 3,5 tahun, ia baru mengenal kosep hari dan tanggal. Senang sekali bisa memanfaatkan kardus bekas kue kaleng dan buku untuk membuat benda ini.
2. Wayang kuman
Bulan lalu saya bermain tentang kuman bersama Sakha dengan media wayang yang ditempel dengan kardus bekas dan tusuk sate. 

3. Hiasan dinding 
Menyambut bulan ramadan lalu, saya dan Sakha pun membuat hiasan dinding dari kardus-kardus bekas.


4. Bermain dengan botol bekas


5. Papan waktu sholat


Sakha (4 tahun) dan anak seusia dini lainnya memiliki kemampuan untuk mengamati, mengeksplorasi, dan menemukan dunia di sekitar mereka. Kemampuan ini harus kita didorong dan didukung, apalagi kita sebagai orang tuanya.

Dengan menggunakan alat permainan edukatif dari bahan daur ulang dalam pembelajaran sejak dini tentu kita mengharapkan mampu menciptakan generasi mendatang yang lebih baik dalam hal pemeliharaan lingkungan sehingga tercapai lingkungan hidup yang sehat bagi seluruh alam. Mengasah kreativitas, mempererat bounding antar orang tua dan anak serta pembiasaan dalam mendaur ulang sampah menjadi salah satu manfaat kegiatan ini. Seperti yang diucapkan Pak Mubariq pada Webinar kemarin bahwa Jalur pendidikan rumah tangga adalah jalur pendidikan lingkungan yang paling efektif.

PENUTUP

Semakin hari kerusakan lingkungan hidup di bumi semakin parah. Manusia memerankan peran penting dalam kerusakan ini. Baik sebagai penyebab dan penyembuhnya. Meski permasalahan lingkungan ini sangat kompleks, butuh kerja sama dalam berbagai pihak baik pemerintah, lembaga maupun masyarakat. Mari kita mulai dari sekarang untuk bergerak untuk menyatukan nada agar bumi tidak semakin rusak. Mari selamatkan bumi mulaid dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Salam,

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Sumber data :
  • https://www.mongabay.co.id/2018/02/16/strategi-konservasi-orangutan-harus-perhatikan-segala-hal-mengapa/
  • https://www.mongabay.co.id/2018/12/02/laporan-sebut-ndcs-negara-g20-tak-sejalan-perjanjian-paris-bagaimana-indonesia/
  • https://media.neliti.com/media/publications/61092-ID-menggapai-pelestarian-lingkungan-hidup-d.pdf
Sumber gambar :
  • dibuat dan didisain oleh penulis
  • freepik.com
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

35 komentar

  1. kreatif sekali mama Ina.. Selama itu bisa dipakek, sampah akan jadi berguna ya mbak. Hal kecil yang kita buat di sekitar, bisa berdampak besar untuk bumi, dan wajib mengajak siapapun untuk lebih peduli sama bumi.

    Kalendernya lucuk, jadi pengen bikin bareng anak nih, kebetulan banyak kotak bekas paketan saya, ahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kreatif, kreate and active mbak rizky haha. hayuk atuh bikin hitung2 mengurangi volume sampah mbak.. hihi anak2 insyaAllah selalu senang dgn buatan ortunya

      Hapus
    2. iya mbak seru! saya pernah bikin ular tangga dari brosur mobil punya ayahnya Rasyiid, dia mainin dah tu tiap hari, haha.. sekalian belajar hitung juga kan, hehe..

      Hapus
  2. Wow super kreatif bikin DIY dari sampah kardus bekas paket!

    Sejujurnya aku pun sudah mulai sadar akan hal ini dan mulai ingin menerapkan hidup zero waste...Cuma sayang orang rumah ga begitu mendukung gaya hidup zero waste...Jadi saat aku ngumpulin sampah-sampah dengan dipilah-pilah, aku cuma bisa kumpulinnya kalau ga besar-besar amat. Misal sampah plastik yang ada aku gunting-gunting terus masukin ke sampah botol 1,5lt untuk dijadikan ecobrick. Terus sampah daun-daun sekarang aku coba untuk dijadikan komposs..

    Namun untuk pembalut sekali pakai, aku masih belum bisa geser ke menstrual cup, jadinya pakai menstrual pad untuk hari-hari akhir masa mestruasi...

    Dukungan dari keluarga sebetulnya penting untuk bisa menciptakan pola hidup yang zero waste ituuu... Semoga saja ke depannya banyak keluarga yang makin aware akan hal ini supaya bumi yang kita tinggali tidak semakin buruk kondisinyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bener mbak frisca kok aku ga kepikiran ya bikin ecobrick, segini aku msh suka bingunng sampah plastik diapain aja. krn neken konsumsi susah bgt, laju reuse sama konsumsinya msh gede. apalagi dr produk2 yg dijual kan itu plastik semua, bukan kantongnya tapi pembungkusnya yg lbh banyak. kaya detergen, refill sabun dll

      Hapus
    2. Iya sementara aku bisanya dijadiin ecobrick walau sebenarnya itu adalah langkah terakhir dalam mendaur ulang sampah plastik. At least sampah plastiknya ga kececer di tong sampah gitu..Karena sebenernya dengan buang ke tong sampah itu sama aja dengan mindahin dari depan mata doang..Tidak menyelesaikan masalah sampah plastik kan hahaha

      Hapus
  3. Kreatif banget mama ina mendaur ulang limbah rumah tangga jadi bahan kreativitas anak. Ayo kita satukan nada untuk jaga keindahan dan keberlanjutan ekosistem di bumi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ibu alhamdulillah, antara kreatif sama terpaksa hihi. biar ga merasa bersalah buang sampah hehe

      Hapus
  4. Mba Ina sumpaaah rajin banget. Hihi, aku bener-bener ngga bisa kalau suruh bikin2 prakarya model begitu. Keren euy. Palingan aku cuma bawa tumblr kemana-mana, kurangin air mineral kemasan dan ngga pakai pembalut sekali pakai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw ada yang kelupaan mba, pengin komen lagi tentang perubahan iklim yang memang sekarang kerasa banget. Akhir-akhir ini daerahku juga angin kenceng sering banget datang. Sampai ada suaranya wuzz wuzz gitu, ngeri lah pokoknya

      Hapus
    2. iya mbak jihan, gmn ya itu pembalut. aku belum berani pake menscup hihi. kalau di jakarta yg kerasa panasnyaaa terik bgt

      Hapus
  5. teh ina, saya auto ngiler liat aksi teh ina dan keluarga dalam recycle dan re use ini. apalagi ini bisa digunakan untuk play and learn anak - anak ya. aku tiru ya. hehehe

    back to the topic, aku setuju soal global warming yang banyak di koarkan oleh leonardo dicaprio dan greta thunberg. walo banyak yang gak care, tapi ini emang tanggung jawab kita bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener teh eka..yuk mulai yuk dari yang bisa dilakukan di rumah :)

      Hapus
  6. Halo teh Ina, moga komen yg ini masuk yaaa. udah kali ketiga ini, huhu

    Suka sekali dgn penjelasan teh ina, bagus banget ini kegiatan yang diadakan sama kBR, lewat blog yg dilakukan mba wida jg ternyata memiliki pengaruh besar yaa.

    Dengan semakin menggaungnya ketertarikan pada zero waste dan minimalis skrg ini, semoga semakin memperluas kesadaran masyarakat juga untuk turut serta menjaga bumi, dari hal terkecil yaa.

    Makanya, menurutku kerasa banget sih, ibu rumah tangga juga memiliki peran yg cukup besar dalam merawat bumi. Seperti yg dilakukan sama teh ina ini. Salut bgt dengan kreatifitasnya, nanti saya mau nyontek2 yaa kalu mau bebikinan gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya justru rumah itu pendidikan lingkungan dasar kan buat anak2 teh ghinaa

      Hapus
  7. Hallo Kak Ina, salam kenal...
    keren ide kreatifnya, ternyata sudah lama juga terlibat dalam kegiatan mendaur ulang barang. Plusnya kreativitas anak jadi terbangun, dia ngga hanya mencari barang yang sudah jadi tetapi juga mampu mengubah barang di sekelilingnya menjadi sesuatu lain yang lebih berguna. Semangat kak! Teruskan.

    Saya sendiri mulai concern dengan lingkungan sejak kerja di Bali tahun 2010, kami sering mengadakan program yang berkaitan dengan lingkungan hidup, kemudian pindah ke Jerman menjadi lebih aware lagi karena disini penduduknya sangat aware terhadap lingkungan.

    Makanya waktu kejadian hutan di Kalimantan, saya sedih banget, ngga kebayang ekosistem dan habitat di dalamnya.

    BalasHapus
  8. Be Smart and Creative untuk menjaga lingkungan kita. Agar tidak selamanya bumi menjadi sakit dengan segala permasalahannya.

    BalasHapus
  9. Huaa aku jadi malu baca ini. Betul sekali perbuatan kita itu antara menyelamatkan atau merusak bumi. Aku cuma baru bisa sebatas bawa botol minum dan kantong belanja keluar.

    Tapi penggunaan plastik untuk sampah tidak bisa terhindarkan huhu. Belum lagi pemanfaatan kardus bekas masih sering terbuang gitu aja. Beberapa digunakan sebagai tempat barang2 kecil tapi belum maksimal.

    Next jadi PR nih πŸ™ˆ

    BalasHapus
  10. MasyaAllah luar biasa kamu mbak eheheh enak ya kalau ada anak kita dituntut kreatif. Saya juga paling gitu nanti kalau sudah ada anak. Tambah seru ya mba, menjaga lingkungan dan bumi dari lingkungan sendiri dulu.

    BalasHapus
  11. MasyaAllah mbaknya rajin sekali, keren , kreatif banget, menginspirasi sekali

    BalasHapus
  12. Wah Masyaallah, emang bener ya mba semua itu berawal dari diri sendiri lalu keluarga baru deh lingkungan sekitar. kalau bukan kita sendiri mau siapa coba. keren nih, anak-anak sedini mungkin diajari untuk reuse.

    BalasHapus
  13. Kreatif sekali mba, jadi segala sampah di rumah ternyata bisa jadi bahan pembelajaran yang menyenangkan ya

    BalasHapus
  14. Idenya keren banget. Aku ya kumpulin tuh kardus-kardus bekas, buat bikin-bikin. Tapi engga dibikin-bikin. Halah haha...Buat inspirasi yaa DIY-nya. Makasiiii...

    BalasHapus
  15. Kreatif sekali mama Ina😍😍😍 pasti anaknya bangga dilahirkan dari mama Ina. Oh ya kalau aku pribadi masih menerapkan bawa botol sendiri kalau keluar rumah dan jarang nerima belanjaan menggunakan plastik hehe

    BalasHapus
  16. Halo Mba
    Saya udah lama banget pengen nerapin zero waste, tapi halangannya masya Allah banyak banget. pas masih ngekos dulu, saya memang ga terlalu banyak buat sampah, apalagi pas Corona lebih banyak masak sendiri di kosan. Abis sidang terus Corona, jadi saya tinggal sama Kakak. Kalau hidup sendiri sama orang lain beda ya, saya jadi tidak bisa menerapkan zero wastenya dengan maksimal. pun sekarang udah dirumah, masih juga susah zero waste karena sampah rumah banyak banget dan orangnya juga banyak. Orang rumah masih pelan-pelan belajar zero wastenya. semoga kami juga bisa kaya mba :)

    BalasHapus
  17. Di sekolah dasar dulu ada pelajaran bagaimana menghemat energi agar bumi menjadi lebih baik. Tapi makin ke sini pengetahuan itu jadi sering dikesampingkan dan banyak orang berpikir semua yang dilakukan tidak masalah dan baik-baik saja. Padahal perubahan yang bumi alami saat ini datang dari manusia juga.

    BalasHapus
  18. Kreasi daur ulangnya lucu-lucu ihhh. Selain mengasah kreatifitas juga bikin kedekatan orang tua dan buah hati makin erat nih.

    Klo ngomongin kerusakan hutan, aku tu jadi rakit sendiri, Mba. Sempat baca cerita juga tentang kondisi orang utan yang buruk karena tinggal bersama warga sekitar. Ga cuma pemerintah tapi kita juga bisa mulai bergerak menyelamatkan hutan dan satwanya

    BalasHapus
  19. cara sederhana yang bisa aku lakukan biasanya mendaur ulang barang bekas menjadi lebih bermanfaat untuk dipakai sehari hari.
    selama masih bisa dipakai akan menghemat pengeluaran uang juga

    BalasHapus
  20. menarik banget soal perubahan iklim ini ya mba, tulisannya juga sangat mengedukasi banget ini. Apalagi dalam hal daur ulang ini akan bantu untuk mengatasi perubahan iklim yg terus ekstrem

    BalasHapus
  21. Kreatif sekali si sakha. bisa bikin mainan dari kardus. mamanya juga kreatif bisa mengarahkan anaknya untuk membawa kantong sendiri saat belanja, bikin kalender. waah saya sih gak sempat dan gak bisa. hehe. memang bener ya harus dimulai dari diri sendiri dan saat ini. nanti akan banyak yang mencontoh dan menjadi gerakan bersama melindungi bumi.

    BalasHapus
  22. mbak, aku ingin melenceng sedikit yaitu membahas menstrual cup. Jujur aku belum siap menggunakannya, seperti masih risih aja sih. Tapi memang pakai pembalut juga menyebabkan pencemaran lingkungan ya mba. Dilema aku, hehehe

    BalasHapus
  23. Sebenarnya banyak hal2 sederhana yg bisa dilakukan utk menyelamatkan bumi. Dari artikel ini saya belajar utk tetap harus kreatif dan juga kritis dalam menyikapi hal ini, tinggal kita mau lebih aware aja atau nggak

    BalasHapus
  24. Aku iri sama kegiatan mbak Syafira mendaur ulang sampah rumah tangga, bisa melatih anak untuk kreatif dan peduli.

    BalasHapus
  25. Keren banget ide wayang kumannya, Mbak... Aku mau ikutan ah hehe...^^

    BalasHapus
  26. sebagai penghuni di bumi wajib manusia membuat gerakan go green agar bumi kembali hijau dan menyelamatkan bumi untuk anak cucu kita

    BalasHapus