-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Mengenal Fitrah Based Education

Fitrah-Based-Education
Sebagai orang tua, kita harus terus belajar agar memperkarya ilmu sebelum beramal. Banyak cara untuk belajar menjadi orang tua atau parenting. Namun, Kita harus belajat langsung pada sumbernya ya. Kita dapat belajar melalui buku seperti beberapa bloger satu ini yang senang menulis resensi buku. Selain itu kita juga langsung datang ke majelis ilmu seperti seminar ataupun workshop. 

Pada tahun 2018, saat mengikuti seminar Ustad Harry Hasan Santosa di salah satu masjid di daerah Jakarta Timur. Beruntung saat itu saya hadir bersama suami dan anak. Kami banyak belajar tentang fitrah manusia secara umum.

Selepas seminar tersebut saya mencoba untuk belajar mandiri dengan membaca buku setebal 404 halaman. Meskipun colourful tak mampu membuat otak saya colourful, hehe.  Setelah itu di tahun yang sama saya mencoba mengikuti workshop dua hari di universitas Indonesia.

Kali ini saya mencoba merangkum materi umum Fitrah Based Education.

Mengembalikan pendidikan sejati selaras fitrah, misi hidup dan tujuan hidup.

Fitrah-Based-Education
Mengapa ada Fitrah?

Sesungguhnya tujuan hidup kita sebagai manusia lebih besar dari memenuhi kebutuhan kita sendiri. Lebih besar dari sekedar ketenagan diri kita atau kebahagiaan diri kita.

Manusia adalah pusat peradaban. Manusia diberi tugas untuk membangun peradaban dengan peran peran peradaban baik peran individual maupun peran komunal di atasnya, termasuk peran keluarga, peran bangsa dstnya.

Bukankah tujuan hidup kita untuk beribadah di muka bumi? Ya betul, beribadah di muka bumi adalah “ultimate purpose” atau alasan penciptaan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan untuk menjadi khalifah.

Singkatnya Allah berkehendak agar kita menemukan peran atau misi hidup kita. Peran-peran tersebut adalah adalah “alasan keberadaan” kita sebagai manusia di muka bumi untuk memenuhi “ultimate purpose” tersebut.

Apabila manusia tidak memiliki atau tidak menjalani peran peradabannya di muka bumi, sulit rasanya dikatakan bahwa manusia sudah beribadah dan sudah menjadi khalifah.

Dalam skala individu peran tersebut seperti, peran sebagai ayah, peran sebagai ibu, peran sebagai pemakmur bumi, peran sebagai pemberi jasa atau solusi (profesi, bisnis, akademis). 

Ada pula peran dalam skala komunitas atau komunal, misalnya peran keluarga, peran organisasi, peran komunitas, peran bangsa dsbnya yang merupakan kolektifitas produktif dari peran peran individual.  

Jika semua peran itu tuntas atau “accomplished” dengan baik. Dengan ukuran banyak manfaat sesuai syariat dengan adab/akhlak mulia maka barulah kita dianggap menuntaskan alasan penciptaan kita yaitu sebagai Hamba Allah dan sebagai Khalifah.

Allah Ta’ala tentu memberi peran atau tugas bagi manusia bukan tanpa bekal, maka diberikanlah 4 bekal yaitu berupa Fitrah yang terinstal sejak lahir dalam diri manusia, bumi/alam semesta, umur/kehidupan dan Kitabullah.

Terkait fitrah manusia maka Allah memberikan landasannya di dalam Kitabullah, 

”Maka hadapkanlah wajahmu pada agama dengan hanif (lurus), (tetaplah) pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan (khalq) Allah. Itulah agama yang qoyim (kokoh). Namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS:30:30)

Hadits: 

“Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah, maka orangtua atay lingkungan lah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” 

Apa itu Fitrah?

Secara bahasa fitrah dapat berarti terbelah, rentan, kejadian, penciptaan. Secara istilah, fitrah bermakna menjadi dua hal. Pertama terkait dengan Allah, dalam hal ini Tauhid atau Dien. Kedua  jika dikaitkan dengan manusia, fitrah adalah potensi, innate goodness, origin goodness dstnya.

Fitrah merupakan hal yang luar biasa dalam pembahasan tentang manusia, alam, Tuhan dan agama. 

Fitrah adalah sifat pembawaan sejak lahir. Fitrah manusia berbeda dengan watak atau tabi’at. Fitrah juga berbeda dengan naluri. 

Berikut definisi fitrah menurut beberapa ulama (sumber buku FBE) :

Fitrah Based Education (FBE)

Fitrah based Education merupakan model pendidikan untuk mendidik, merawat, menumbuhkan potensi potensi fitrah manusia. Tujuannya agar tidak menyimpang dari potensi dasarnya bahkan menguatkan seluruh potensi itu menjadi peran-peran terbaik dan akhlak mulia.

Sebuah model pendidikan peradaban bagi generasi peradaban menuju peran peradaban.

Apa saja fitrah itu? 

Dari berbagai pendapat ulama dan tafsir, di dalam buku fitrah based education diklasifikasikan fitrah ke dalam 8 bagian. Agar mudah diingat dan di-breakdown dalam mendidik, yaitu

1. Fitrah keimanan

2. Fitrah belajar dan bernalar

3. Fitrah bakat dan kepemimpinan

4. Fitrah seksualitas dan cinta

5. Fitrah estetika dan bahasa

6. Fitrah individualitas dan sosialitas

7. Fitrah jasad dan gerak

8. Fitrah perkembangan 

Tidak hanya untuk mendidik fitrah anak, di dalam Fitrah based Education tetapi juga untuk mendidik fitrah kita sebagai orang tua. 

Dalam perjalanan menjalani FBE maka orang tua juga diminta untuk mendidik fitrahnya sendiri secara bersamaan dalam proses, agar fitrah baik dari dalam diri orang tua akan bertemu dengan fitrah baik yang indah dalam diri anak-anak.

Sebuah Kiasan Untuk Fitrah

Ustad Harry Santosa menjelasakan sebuah kiasan untuk fitrah. Fitrah itu seperti aplikasi atau fitur sebuah gawai yang sudah terpasang dan ter-install. Ketika kita menerima gawai tersebut, kita hanya perlu mengaktivasi saja dan dinteraksikan agar fungsinya maksimal.

Tidak perlu mengunduh aplikasi lain karena dapat memperburuk kinerja atau malah membuat gawai tersebut nge-hang. Sesungguhnya setiap anak itu telah ter-install fitrah. Kalau anak didik dengan benar sesuai fitrahnya maka kelak fitrah itu akan menjadi peran perasaban terbaiknya.

Kita dan Fitrah Hari ini

Hari ini coba kita tengok, berapa banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah untuk dibangunkan untuk salat? Coba mari kita ingat dulu waktu kecil ketika anak kita bangun subuh dini hari, siapa yang sibuk menidurkannya kembali?

Hari ini coba kita tengok, banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah menyucikan diri seperti bersih-bersih? Coba ingat siapa yang mengajarkan ia memakai diapers? (memakai diapers pun boleh asal dalam keadaan darurat)

Saat ini ustad, ustadzah atau guru di sekolah selalu menerima keluhan karena orang tua ingin anaknya saleh. Kebanyakan dari kita sebagai orang tua, tidak ingin repot. Sekolah, boarding school, Pesantren dianggap seperti laundry yang bisa membersihkan anak.

Kita lupa bahwa saleh atau keteladanan berasal dari rumah. Bahkan ustad Harry berkata bahwa saleh itu ada di rumah.

Hari ini orang tua banyak tidak mau berpikir penuh (mindfull), kenapa mereka diamanahkan buah hati?

Allah tidak mungkin salah orang untuk memberi anak ke kita.

Allah yakin kita mau dan sanggup untuk mendidik mereka.

Kita adalah orang tua terbaik versi Allah.

Sepakat?

“Sanggup jadi Ayah dan Ibu Sejati?” satu pertanyaan Ustad Harry yang terekam di buku catatan saya.

Penutup

Nah itu dia pengenalan dengan Fitrah Based Education. Semoga kita bukan menjadi orang yang lalai atau lebay dalam mendidik anak. Satu kutipan yang sangat saya suka dari Ustad Harry adalah “Raise your child, raise your self.

Yuk kita tumbuhkan fitrah anak kita, maka kita akan saksikan fitrah kita pun bersemi kembali.

Salam, 



Referensi
Buku Fitrah Based Education  (Harry Hasan Santosa)
Materi seminat Fitrah Based education
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

34 komentar

  1. memang fitrah bisa terjaga jika dibiasakan ya kak, aku tersindir nih, masih suka banget anak sudah bangun, supaya bisa beres-beres anak malah disuruh tidur lagi. padahal tidur sudah subuh tidak dibolehkan.

    BalasHapus
  2. masyaAllah, terimakasih udah share mbak.. aku penasaran gimana sebenernya metode fitrah base education itu, soalnya ust harry santosa ini suka seliweran di timeline, beberapa teman ada yang share :D semoga aku juga bisa belajar ya mba mendidik anak sesuai dengan fitrahnya, Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sama2 Mbak Cici. Yuk sama2 tumbuh merasa anak2 ;)

      Hapus
  3. Semoga nantinya bisa juga mendidik anak sesuai Fitrahnya, Aamin

    BalasHapus
  4. Suka sama kutipan terakhirnya. Sejatinya, membersamai anak sambil ngajarin mereka tuh ya sama dengan ngajarin diri sendiri. Daku pun banyak banget belajar saat membersamai anak. Terutama belajar sadar dan mengendalikan diri

    BalasHapus
  5. Informasi yang sangat bermanfaat. Selama ini saya kerap berpikir bagaimana nantinya saya bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak baik dari segi akhlak maupun pengetahuan. Hingga saya malah terlalu banyak berpikir dan tidak melakukan apapun.

    BalasHapus
  6. Fitrah based education untuk buah hati menarik banget :)
    Jangankan untuk buah hati, untuk melatih diri sendiri pastinya akan berbuah manis kedepannya

    BalasHapus
  7. Wah komplit tulisannya mbak.. jadi pengin baca buku referensinya itu lohh.. pelajaran buat aq sebagai ibu yang masih banyak kurangnya hiks..

    BalasHapus
  8. Saya udah lama nih tertarik dengan Fitrah based education,
    makasih banget infonya ya mbak. jadi sedikit tercerahkan.
    nanti bakalan kepoin ustadz harry biar makin banyak yang bisa diketahui

    BalasHapus
  9. Mba aku juga punya buku ini tapi kaya ga kelar-kelar deh bacanya. Harus diulang-ulang mulu karena full daging banget.

    BalasHapus
  10. Oh jadi fitrah itu bagai aplikasi yang sudah terinstall di gadget jadi hanya perlu aktivasi dan interaksi agar fungsi maksimal. Maka anak mesti dididik sesuai fitrah kelak ini jadi peran perasaan terbaiknya. Noted, sharing yang menarik ini Mbak

    BalasHapus
  11. Analogi luar biasa soal fitrah. Saya langsung jadi paham. Fitrah sudah terinstall pada semua manusia. Hanya perlu diaktivasi. Terima kasih berbaginga Mbak. Saya penasaran untuk tahu lebih mendalam soal fitrah based learning ini.

    BalasHapus
  12. Fitrah itu sifat pembawaan dari lahir, yang juga berkembang sesuai seiring dengan lingkungannya. Saya jadi ingat kalau setiap anak dilahirkan fitrah, hanya orang tua nya yang menjadikan mereka muslim, kristen, budha, yahudi atau agama lainnya.
    Makasih sharenya mbak, jadi pengen baca buku yang colorful itu.

    BalasHapus
  13. Halo mbak Shafira, salam kenal ya. Makasih banget udah sharing tentang fitrah based education ini. Saya malah baru tahu dari tulisan mbak Fira ini. Bisa buat bekal juga saat nanti saya punya anak

    BalasHapus
  14. Seminar parenting ini ya mba. Bagus banget sih menurutku apalagi sekarang permasalahan dalam keluarga ada aja ya. Belajar dari buku tersebut juga bisa diaplikasi ke kehidupan sehari2

    BalasHapus
  15. Fitrah Based Education ini mengembalikan orang tua pada kedudukannya. Siapa lagi yg bs mendidik anak sesuai dg fitrah²nya kl gak orang tuanya sendiri ya Bun

    BalasHapus
  16. pengingat, rutinitas duniawi seringkali membuat kita lupa dengan fitrahnya. setelah baca ini semiga kita bisa lebih semangat lg untuk kembali ke fitrah kita

    BalasHapus
  17. Masya Allah anak adalah titipan yg berharga. Dengan mendidik sesuai fitrah pasti hasilnya keren banget. Ini semacam metode homeschooling bukan mbak? Aku masih awam sih

    BalasHapus
  18. Saya belum menikah, namun informasi ini sangat bermanfaat. Sedikit bisa membuka wawasan saya nanti jika menikah n punya anak kelak..
    Nice sharingnya, mbak..

    BalasHapus
  19. Masyaa Allah... saya jadi berasa diingatkan kembali saat ikut komunitas berbasis fitrah ini. Sudh 3 tahun saya fakum, karena suatu alasan. Terima kasih sudah diingatkan

    BalasHapus
  20. fitrah merupakan potensi. pendidikan berbasis potensi. bahwa setiap anak memiliki potensi. tugas pendidik/orang tua menemukan potensi dan melejitkannya. gitu ya kesimpulnnnya

    BalasHapus
  21. Informasi yang sangat bermanfaat, terima kasih mba shafira

    BalasHapus
  22. Jadi mengenal fitrah manusia itu bukan cuma kesucian dan kemurnian ya. Tetapi ada cabang-cabang yang harua difahami. Semoga ketika kita kembali kepada-Nya kelak, saat itu kita dalam keadaan telah mneyelesaikan semua tugas kehambaan dengan baik. Dan pulang dalam keadaan fitrah yang diridhai.

    BalasHapus
  23. Beberapa kali pernah baca soal fitrah based education, hanya saja belum sampai praktik. Ya Allah susahnya move on jadi orang mager huhuh

    BalasHapus
  24. Aku sering bertanya-tanya mengapa Allah belum memberi kami amanah putra dan putri, pasti karena kami masih belum bisa menjaga amanah anak-anak yang terlahir secara fitrah pasti ya kak

    BalasHapus
  25. Ternyata fitrah ini ada cabangna ya mbak baru tau sy terimakasih sudah berbagi jadi tambah pengetahuan saya..

    BalasHapus
  26. Membaca ulasannya Saya jadi tercerahkan, meski blm dikasih momongan, namun setidaknya dari sini saya bisa belajar banyak hal. Dan, smg saat saya dan suami dikaruniai anak nanti kami dalam praktiknya kami bisa menjadi orangtua yg baik

    BalasHapus
  27. Meskipun bukunya tebal sebanyak 404 halaman tapi isinya daging seperti ini gak akan bosan membacanya ya, apalagi demi mengajarkan anak fitrah agar anak lebih memahami makna fitrah dan menerapkannya

    BalasHapus
  28. Semoga dengan fitrah base education ini kita menjadi pribadi pribadi baik yang bermanfaat bagi semua

    BalasHapus
  29. 8 Fitrah yang disebut diatas , masih minim nih aku, kadang keimanan juga masih naik turun, jadi suka malu sendiri sama Allah, kadang dunia ini membuat kita lupa akan fitrah kita, makasih kak.

    BalasHapus
  30. benar ya mba fitrah anak itu harus kita kembangkan, agar anak juga paham bahwa fitrah seorang manusia dan seorang beragama itu seperti apa. bagus nih bukunya jadi penasaran. makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
  31. Setuju kak, kesalehan dan keteladanan itu berasal dari rumah, jangan semuanya dibebankan pada guru di sekolah atau ustad/ustadzah di pesantren

    BalasHapus
  32. Ustadz Hari emang sering jadi referensi saya kak soal mendidik anak berdasarkan Fitra. Jabarannya enak didengar. Setiap status Facebook dia juga sering saya ikuti. Saya kasian kalo liat Instagram sekarang. Bukan cuma lelaki dewasa aja yang suka dandan jadi beauty blogger. Tapi juga anak remaja cowok. Kadang liatnya pengen nangis. Seriusan kak.. kok serem banget ya

    BalasHapus
  33. Menarik banget postingannya kak. Saya bookmark langsung nih, biar saya bisa baca lagi.

    BalasHapus