-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Anak Terlahir seperti Kertas Kosong, Apakah Benar?

fitrah pada anak
Kita tentu sering mendengar anak terlahir seperti kertas kosong. Oleh karena itu kita sebagai orang tua harus pandai menuliskan di atas kertas mereka. Apakah sahabat semua setuju dengan pendapat ini? 

Ada sebuah riset yang berjudul “Still Face Experiment oleh DR.EDWARD TRONICE”

Percobaan ini menunjukkan bagaimana bayi sejak berusia beberapa bulan sudah dapat membedakan “Wajah baik” dan mana “wajah dingin” dari kedua orang tuanya.

Siapa ya yang mengajarkan anak bayi ini? 

Ini adalah fitrah yang tertanam oleh Allah Ta’ala mengenai moralitas dan spiritualitas. Allah merancang hamba-Nya untuk mencintai kebaikan dan tidak menyukai keburukan. Masya Allah, pengambaran positif dan negative dapat membentuk persepsinya dan kemudian tingkah lakunya di kemudian hari.

Apakah anak terlahir dari kertas kosong?

Mari kita tengok salah satu ayat dari al-quran berikut ini :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) tetaplah di atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah dan tidak ada perubahan fitrah Allah (itulah) agama yang lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS Ar Ruum (30):30)

Setiap manusia yang terlahir di dunia ini dalam keadaan fitrah, yaitu dalam keadaan sudah Islam. Masing-masing dari kita sudah diisi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan kebaikan-kebaikan yang dibawa sejak lahir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah membekalkan kepada kita, semua makhluk-Nya pengetahuan tentang ke-Esaan-Nya, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia (Tafsir Ibnu Katsir)

Kondisi fitrah ini tidak dapat berubah kecuali manusia sendirilah yang mengubahnya sehingga manusia menjadi menyimpang seperti yahudi, nashrani, atau majusi.

Firman-Nya tentu sering kita dengar di surah Ar Rad ayat 11, yang artinya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’d:11).

Anak Bukanlah Kertas Kosong

Mendidik anak tidak seperti menulis pada kertas putih yang kosong. Kita tidak dapat ditulis sekehendak hati. Kita tidak dapat menggambar semaunya dan membentuk apapun yang kita inginkan. Apalagi kita ingin langsung dapat dilihat dengan segera.

Mendidik anak agar menemukan peran sejati peradabannya.

Mendidik anak ibarat menumbuhkan benih agar menjadi pohon yang besar. Kita harus menjaga, menyiram, memupuk dan merawatnya. Kita tidak dapat membentuk sekehendak hati. 

Kita harus belajar memperlakukan sesuai perkembangannya, dan hasilnya dapat dilihat setelah sekian lama hingga menjadi pohon dewasa yang kokoh akarnya, rimbun daunnya, serta lebat buahnya. Pohon dewasa itu dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terhadap seluruh makhluk yang berada disekitarnya.

Jika kaitkan dengan pendidikan dan anak yang bukan sebuah kertas kosong tentu kita tidak bisa melakukan penjejalan pengetahuan-pengetahuan sebanyak mungkin kepada anak atau kita sebut outside in.

Namun, pendidikan sejati adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi kebaikan atau karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir atau inside out.

Agar anak dapat menemukan dan mencapai peran sejati peradaban dengan semulia-mulianya akhlak. Anak itu ibarat tambang emas, yang di dalamnya sudah ada logam mulia tersebut kalau kita bisa gali dengan baik maka akan bersinar dan bernilai,

Tidak ada Anak Nakal

Saya pribadi tidak setuju dengan orang tua atau orang dewasa yang berkata “Jangan nakal ya!” pelabelan negatif pada anak sangat tidak baik untuk citra diri anak, meskipun kalimat itu larangan. Kalimat larangan itu sendiri tidak jelas di mata anak karena sebuah kata sifat. “Nak, berbagi ya sama teman, jangan rebutan.”

Tentu kalimat kedua lebih bisa dicerna anak daripada kita hanya pelarangan terhadap kata sifat yang sepenuhnya belum dimengerti anak. 

Jika kita merujuk pembahasan di atas bahwa semua anak lahir dalam keadaan fitrah, artinya tidak ada anak yang nakal. Ketika kita menemukan kenakalan anak, itu hanyalah refleksi dari potensi karakter yang ada pada diri anak yang belum disalurkan dengan baik. Potensi anak tersebut itu yang seharusnya ditumbuhkan sehingga berkembang menjadi pribadi yang baik. 

Bukan dengan melabel anak dengan sifat negatif ataupun memangkas habis harga diri anak sehingga anak merasa dirinya tidak memiliki potensi apa-apa. Hal ini juga membuat anak merasa tak berguna sepanjang hidupnya.

TUGAS KITA SEBAGAI ORANG TUA ADALAH MENJAGA DAN MENUMBUHKAN

Fitrah merupakan jalan yang lurus menuju kepada kesuksesan yang hakiki. Tugas utama kita sebagai orang tua dalam mendidik anak adalah menjaga fitrah anak dari penyimpangan dan menumbuhkannya. 

Penutup

Jadi, jika ada teori yang mengucapkan bahwa “manusia terlahir tidak dalam keadaan putih kosong yang tanpa ada apapun juga padanya” sangat berbanding terbalik atas firman-firman Allah dan riset di atas ya.

Keadaan setiap anak yang lahir adalah sudah Islam, sudah terisi dan memiliki kebaikan atau karakter. Maka, metode pembelajarannya pun tidak dapat diterapkan metode yang menganggap anak dalam keadaan kosong.

Namun, menjadi pengingat bersama bahwa penjagaan fitrah manusia berada pada kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala . Jadi, hal utama yang selalu suami saya ingatkan adalah BERDOA. 

Orang tua banyak yang lupa dengan konsep berdoa sebagaimana dulu kita dijaga oleh doa-doa orang tua. Hari ini kita sibuk melayangkan doa di setiap media sosial kita, tetapi lupa membangun kekhusyuan ketika berdoa kepada Allah Al-Mujiib. Kita, orang tua sebagai pengemban amanah dan pendidik adalah memohon  perlindungan kepada Allah untuk menjaga fitrah anak-anaknya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencontohkan doa untuk kedua cucunya:

 “Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan syaitan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk”. (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani).

Sumber pengetahuan :

  • Buku Fitrah Based Education (Ustad Harry Hasan Santosa)

Semoga bermanfaat, salam.

shafira adlina cerita mamah

Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

6 komentar

  1. Setuju sekali, mbak.. Aku ingat khotbah jumat beberapa waktu yg lalu kaloo Setiap Bayi yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani
    Itu lah sedari kecil, anak anak kudu diarahkan ke arah yg benar. Jangan sampe salah langkah, eh gedenya malah jauh dari agama. Semoga anak anak kita semua trhindar dari hal tersebut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas..sebagai orang tua kita juga harus banyak belajar agar menumbuhkan fitrah yang telah terinstall di dalam diri anak :)

      Hapus
    2. Kalau kata senior saya, anak justru akan tetap baik jika merasa dicintai oleh kedua orang tuanya.

      Hal serupa juga disampaikan oleh seorang Founder Kaskus, Ken. Ia tidak pernah goyah oleh pergaulan buruk di lingkungannya ketika kuliah di Australia. Ia ingat bagaimana cinta kedua orang tuanya. Smentara ia mengamati bahwa teman-teman nya yang terjerumus kenakalan remaja, rata-rata anak muda yang broken home, atau merasa tidak disayangi.

      Hapus
  2. Tulisan ini tulisan favorit saya minggu ini. Hehehe. Kadang dalam beberapa hal saya sepakat dengan pernyataan bahwa anak kecil mah biarkan saja sepuasnya bermain dulu. Nanti bisa baca tulisnya SD saja. Namun, ternyata guru mengaji saya tidak sepakat dengan hal ini. Beliau bilang, ajarkan Alquran pada anakmu sedini mungkin, tak perlu menunggu harus umur segini umur segitu. Biarkan otak anakmu bekerja memproses ilmunya sendiri. Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Demikian katanya. Hehehe. Terima kasih yaaa mba sharingnya.

    BalasHapus
  3. Mungkin penafsirannya adalah bahwa bayi masih asli, sebagaimana dia berasal ( dari surga). Kemudian orang tuanya yang akan membuat dia menjadi nasrani atau majusi, atau menjaga fitrahnya, dan selalu menjaganya untuk bisa menemukan jalan kembali ke surga

    BalasHapus
  4. Aku pun tak setuju sih, apa-apa dishare ke media sosial, sampai ke berdoa juga. Maksudnya anak sebagai kertas kosong, karena orang tua yang membentuk akhlaknya dari kecil. Kemudian lagi mencontohkan yang baik-baik juga...

    BalasHapus