-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Mengenal Tiga Tipe Anak

tipe-anak

Kehangatan menjadi dambaan setiap keluarga. Dengan mengenali tipe anak merupakan salah satu ikhitiar kita sebagai orang tua untuk menemukan pendekatan yang lebih efektif agar tercipta nya kehangatan keluarga. Hal ini pernah dibahas juga oleh seorang Blogger Balikpapan

Teringat satu tahun yang lalu, anak sulung saya, Sakha, masuk sekolah pertama kali. Saat itu, salah satu pertimbangan kami memasukkan ke kelompok bermain atau playgroup di PAUD adalah untuk mempertemukannya dengan lingkungan bermain di sekolah. 

Meskipun hari itu kami pergi berempat bersama Ayah, ketika itu adik Sakha masih berusia 1 bulan. Kebayang ya sambil gendong adiknya yang masih newborn dan ditempeli bocah belum genap 4 tahun hehe. Namun, ternyata saat hari pertama sekolah tiba semua berbeda. Sakha cenderung belum mau berbaris memisahkan jarak dengan saya. 

Sambil memerhatikan sekitar saya melihat ada seorang anak lelaki menggunakan kemeja berwarna cokelat berlari ke sana ke mari. Ibu dan pengasuhnya tampak kelelahan mengejar dan mengendalikannya. Anak tersebut sepertinya tidak takut dengan suasana baru dan cenderung mudah beradaptasi Ada juga anak yang total diam membeku di sebelah orang tuanya dan tidak ingin terjun untuk menyelami kegiatan hari itu.

Mengenal Tiga Tipe Anak

Semua kejadian tersebut mengingatkan saya pada pembahasan menarik tentang mengenal tiga tipe anak pada umumnya yang terjadi. 

Anak yang Mudah

Tipe anak-anak ini memiliki penampilan penuh keberanian dan terbuka. Singkatnya mereka mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dikenal dan bicara apa adanya. Kita tentu sering melihat anak model ini, mereka yang sama sekali tidak canggung berada di lingkungan baru dan sangat aktif.

Kebanyakan dari kita tentu mengharapkan anak seperti ini.  Sebagian dari kita pun akan terkagum-kagum “Senangnya punya anak seperti ini.

Pernah suatu ketika saat pertemuan panitia salah satu event  komunitas Ibu Profesional, yang mayoritas Ibu memiliki anak bayi dan balita seperti saya. Tentu banyak di antara kami harus membawa anak-anak ketika rapat offline.

Terlihat ada salah satu anak seumuran Sakha yang sangat lincah dan aktif. Meskipun sang Mamah sedang berbicara di depan, dengan luwesnya ia bermain dengan bocah yang lain. 

Bahkan saya sempat mengira ia anak dari Ibu yang lain karena terlalu dekat, padahal ia baru saja kenalan di hari itu. 

Namun, anak tipe ini juga memiliki tantangan tersendiri. Saat itu kami sedang rapat di salah satu Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta Pusat. Sementara kami rapat di aula terbuka. Jarak antara alat-alat pemainan seperti ayunan dan papan seluncur dipisahkan oleh lapangan sepak bola. Dengan mudahnya anak itu langsung meleos (pardon me;bahasanya) ke arah alat-alat permainan tersebut.

Ya anak tipe ini memang suka tantangan, sehingga para orang tua pun harus butuh pengamanan lebih karena menyukai tantangan yang berisiko. Dengan bahasa sederhadanya anak tipe mudah ini memang relatif sulit dikendalikan.

Anak yang Sulit

Alamiah setiap pribadi anak untuk merasa takut terhadap hal baru. Kita tetntu teringat pada anak kita yang dahulu bayi, ketika digendong oleh orang lain ia akan menangis ketakutan karena merasa asing.

Sayangnya, menginjak batita hingga balita porsi ketakutan setiap orang memang berbeda-beda. Tentu selain kepribadian, dan pola asuh, asih, asah orang tua memiliki porsi besar dalam proses tumbuh dan kembang anak.

Bagaimana kebiasaan pola interaksi sosial emosi di rumah juga sangat mempengaruhi perkembangan “sulit” si kecil.

Sebagian orang tua di TK Sakha hari itu ada yang harus menunggu anaknya hingga kegiatan belajar mengajar selesai. Padahal Ibu guru dan kepala sekolah sudah mewanti-wanti hanya untuk seminggu pertama. Sementara sang anak masih menangis ketakutan dan merajuk ingin ditemani sang mamah di sekolah tersebut.

Kebanyakan dari orang tua, malu, gemas dan merasa direpotkan dengan anak yang tergolong tipe ini.

Mari kita ubah sudut pandang lebih baik, anak tipe ini akan lebih mudah diatur dan dikendalikan karena sangat berganutng pada orang tua. Hanya saja butuh ekstra sabar dan stimulus agar anak bisa mengembangkan keberaniannya. 

Anak yang Perlu Pemanasan

Anak tipe ini berada di pertengahan. Mereka tidak terlalu berani atau penakut. Mereka lebih membutuhkan waktu dan negosiasi dari orang tuanya. 

Saya pribadi mengalami ini ketika membersamai Sakha dari usia bayi sampai balitanya. Cenderung sulit hingga perlu pemanasan.

Sayangnya memang di mata masyarakat selalu melabel negative kepada anak yang mempunyai tipe sulit hingga menengah ini.

“ih Sakha sombong banget sih sekarang ayo dong salam.”

Rasanya pengen saya lakban mulut bapak-bapak yang ngomong begitu. Saya yang bertengger di sebelah anak saya sepulang membeli sayur lantas tidak memaksa ia untuk salim dengan Bapak itu. Malah saya tegur kepada orang yang terlihat dewasa secara fisik tersebut, “bukan sombong Mbah, lagi gamau.”

Saya tidak masalah dicap lebay dan tidak bisa bercanda oleh orang lain (toh orang yang kenal saya juga tahu kalau saya bercanda kaya apa). Tetapi jangan pernah kita membiasakan mudah melabel anak dengan kata sifat negatif yang mereka sendiri belum paham artinya apa.

Jadi buat para pembaca cerita mamah juga mulai dari sekarang jangan mudah melabel anak-anak  dengan sifat negatif ya, seperti sombong, nakal, cerewet dan semacamnya. apalagi anak sendiri,ingat ucapan itu doa

Anak yang memerlukan tipe pemanasan seperti Sakha ini memang memerlukan sedikit waktu untuk beradaptasi dan memerlukan dorongan awal untuk mencoba sesuatu yang baru atau menghadapi tantangan.

Quotes-anak

Penutup

Setiap pribadi manusia, apalagi anak selalu unik. Tidak ada manusia yang sama 100% meskipun terlahir dari rahim yang sama. Jangankan rahim yang sama, anak yang kembar sekali pun pasti memiliki perbedaan sifat. 

Apapun jenis tipe anak kita, stimulasi terhadap tumbuh kembang anak sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Salah satunya seperti perkembangan keberanian anak. Keberanian anak harus selalu dilatih dan ditingkatkan, tentu disesuaikan dengan tahapan usianya.

Selain itu reaksi kita sebagai orang tua juga sangat mempengaruhi dalam mengarahkan anak. Hubungan batin dengan Mamahnya juga memperngaruhi kondisi emosi anak. Anak lebih mudah diarahkan jika hubungannya baik dengan orang tua, khususnya Mamah.

Teringat dulu saat kuliah jurusan bioteknologi, kami pernah mengkaji salah satu jurnal yang menjelaskan hubungan ibu dan anak mencit. Perlu diketahui kenapa tikus mencit sering dijadikan bahan percobaan karena salah satunya memiliki kesamaan genetis dengan manusia.

Dalam percobaan itu kelompok Ibu dan anak-anaknya  dipisahkan jarak sedemikian rupa. Salah satu kelompok itu diberi perlakuan stres. Hasilnya adalah jika ibu merasa stres, struktur gen yang terekspresi sama yang muncul di kelompok anak. Dengan kata lain, bahasa sederhananya. Apa yang dirasakan Ibu itu biasanya nyamber kepada anak.

Kita sebagai orang tua sewajarnya menerima apapun tipe anak kita. Peran kita adalah untuk memfasilitasi, menstimulasi dan membersamai tumbuh kembang mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat untuk agama, bangsa dan sesama.

Selamat membersamai  ananda, semoga bermanfaat, salam.


Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi blogger, asessor dan fasilitator. email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

21 komentar

  1. Anakku termasuk yang malu-malu dan takut kalau baru pertama kali. Tapi setelah beberapa kali malah jadi ceria dan susah diamnya. Memang setiap anak karakternya berbeda dan kita sebagai ortu bisa mengarahkannya sesuai karakter anak.

    BalasHapus
  2. Selalu suka baca tips parenting di ceritamamah. Bener2 bekal yang bagus buat saya nanti kalau sudah berumah tangga. Sepakat, semua anak unik, nggak boleh melabeli

    BalasHapus
  3. Wah sama kak Sakha, Zia juga tipe ketiga nih perlu distimulasi dulu. Beda dengan adiknya yang lebih berani walaupun baru dua tahun. Alhamdulillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kak Linda anaknya juga ada yang namanya Zia ya..
      Anak keempat ku namanya Zia.. masih beranjak mau tiga tahun.

      Hapus
    2. masya Allah keren deh kak udah empat anaknya. Siapa nama panjangnya. Kalau kakak Briliana Mumtazia. Briliana dari bahaa Inggris. Mumtazia dari bahasa Arab artinya pintar. Hihihi

      Hapus
  4. memang kalau lagi sama anak kecil, diusahakan ngomong yang baik baik, disahut seperti si bapak bapak itu tadi, si anak juga ga bakalan ngerti artinya apa
    karakter anak ada yang masih malu malu dengan orang asing, ada yang aktif jika ketemu orang baru. karena mereka semua unik

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah kelima anakku tipe yang mudah kak.

    Sekolah di hari pertama saya tinggal saja. Gak ada yang nangis semua dilakukan sendiri. Alhamdulillah.
    Tapi selalu saya ingatkan agar tidak terlalu dekat dengan orang yang tidak dikenal. Saya takut juga kalo mereka terlalu luwes .

    BalasHapus
  6. wah sering banget ketemu tipe anak yang perlu pemanasan dulu jadi kudu extra tenaga :p semangat untuk para mommies <3

    BalasHapus
  7. Anakku tipe yang butuh pemanasan, kak. Bahkan suka aku becandain, kaya mesin diesel, baru grengnya pas udah panas. Sampe pernah baru klop main pas udah mau say goodbye. Tapi, yaa kasian kalau dipaksa. Karena, dari pendampingnya pas di sekolah, dikasih tau, kalau dia tipe obeservasi lingkungan dulu sebelum nyemplung, gitu

    BalasHapus
  8. adek saya termasuk yang perlu pemanasan so lalod dia hehehe, nanti lama2 baru nyambung

    BalasHapus
  9. Anak sulung kami type pertama. Setiap mau keluar udah dipesenin, dijanji, jangan mau sama orang tak dikenal. Iya iya doank, setelah itu mah ya lupa. Soal mainan ya bikin was was terus. Makanya biarpun udah mau 4 tahun tetep kudu diawasin terus kemana pun dia melangkah

    BalasHapus
  10. beener banget ya mba, kita harus paham banget nih tipe anak seperti apa. jadi kita juga mendidiknya gak pakai emosi karena tahu sifatnya seperti apa. kadang kan ortu suka emosi karena kurang memahami sifat anak. kalau sudah tau tipenya bagaimana akan lebih mudah pasti ya mendidiknya. makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
  11. tugas orang tua menemukan potensi anak. karena setiap anak memang unik. orang tua juga harus mmenemukan karakter yg dimiliki anak. setelah mengetahuinya orang tua harus bisa memfasilitasi dan melejitkannya

    BalasHapus
  12. Aku lihat keponakanku nih termasuk yang mudah dan perlu pemanasan, tapi kalau masih kecil nanti dewasa tipenya akan berubah ga ya?

    BalasHapus
  13. Setuju sekali kak sebagai orang tua kita memang tidak boleh melabeli anak dengan kata nakal. Pemalas, dll ya kak. Kadang kebiasaan banget nih, hufh harus lebih banyak-banyak jaga lidah nih

    BalasHapus
  14. Meski belum punya anak, tetapi sempat dua Minggu jadi guru TK dan melihat kepribadian anak yang berbeda dan unik, tentunya jangan sampai membuat lebel pada anak, hal itu akan membuat anak kehilangan rasa percaya diri

    BalasHapus
  15. Emang ga semua anak punya sifat yg sama ya mbak walau dari 1 rahim lahirnya. Dan orang lain juga ga boleh menjustifikasi anak orang seperti itu juga

    BalasHapus
  16. Dulu anakku tipe anak yg sulit mom, tapi entah kenapa setelah pindah rumah tiba-tiba anak saya jadi gampang banget bergaulnya

    BalasHapus
  17. Penting jugga nih jadi pelajaran buat guru SD kayak saya gini. Makasih ya mah

    BalasHapus
  18. Pemahaman akan sifat anak akan memudahkan ortu untuk mendidik dan mengembangkan bakatnya kelak.. hmmm jadi curious... anak saya tipe apa ya.. sejauh ini sich tipe anak yang mudah

    BalasHapus
  19. Ilmu nih buat saya, jadi ketika punya anak saya bisa paham anak termasuk tipe yg mana dan bagaimana cara menanganinya.

    BalasHapus