-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Mengenal Fitrah Keimanan

Setiap anak terlahir dalam keadaan terinstall potensi fitrah keimanan, setiap kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb (Kholiqon/pencipta, Roziqon/pemberi rezeki, Malikan/ pemilik/pemelihara). Tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan dan kebenaran kecuali disimpangkan dan dikubur oleh pendidikan yang salah dan gegabah.

Alastu Birobbikum? Qoluu Balaa Syahidnaa (Al Araaf :172)

Begitu bunyi ayat di dalam Al Quran. Sesungguhnya sebelum kita dilahirkan di dunia, setiap kita pernah bertemu Allah dan bersaksi bahwa Allah benar adanya sebagai Rabb kita. Walaupun kita tidak akan bisa mengingatnya, namun itu semua terekam kuat bahkan terinstall dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir. 

Bayi Menangis Ketika Lahir Pertanda Merindukan Allah

Dalam salah satu hadits, dikatakan bahwa “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanya lah yang mengubah menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” 

Namun, dalam hadits ini tidak dikatakan merubahnya menjadi Muslim. Mengapa? Karena setiap bayi sudah lahir dalam keadaan Islam.

Setiap bayi lahir dalam keadaan menangis. Para ulama mengatakan bahwa bayi menangis karena “seeking Allah” atau mencari Allah, dalam hal ini adalah Rabb.  Pada dasarnya setiap bayi merindukan Zat Yang Mampu Memiliharanya, Zat Yang Maha Memberi Rizki, Zat Yang Maha Hebat tempat menyandarkan semua kebutuhan dan masalahnya. 

Inilah potensi fitrah keimanan, fitrah terpenting yang melingkupi fitrah lainnya seperti fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah kepemimpinan sehingga disempurnakan menjadi mulia.

Mengenal Fitrah Keimanan

Fitrah adalah konsep Islam tentang asal mula kejadian manusia (Islamic Concept of Human Nature). Sejak lahir manusia telah membawa kebaikan (innate goodness) yang sangat cukup untuk menjalani peran peradaban spesifiknya.

Betul peran peradaban spesifik kita masing-masing dalam rangka mencapai maksud penciptaan untuk Beribadah (Hamba Allah) dan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Diantara aspek fitrah adalah kecenderungan manusia untuk beriman atau bertuhan, yang disebut fitrah keimanan. Fitrah keimanan bahkan telah diinstal sejak di alam rahim (QS 7:172) dalam bentuk persaksian Allah sebagai Rabb.

Membandingkan Anak

Pernahkah kalian merasa minder bahkan insecure terhadap perkembangan anak sendiri? Apalagi dalam kapasitas ibadah dan agamanya?

Saya pernah merasakannya ketika melihat anak lain yang sudah hapal ke-99 asmaul husna. Lalu membatin, mengapa anakku belum bisa? Seketika rasa insecure itu tiba. Seolah anakku ketinggalan beberapa langkah dari yang lain. Sejenak ingin kuperlihatkan anak kenalanku itu agar anakku termotivasi, padahal usianya belum genap 5 tahun.

Kemudian Allah menegurku dengan lembut, bukankah selama ini anakku jauh lebih mencintai buku cerita asmaul husna dibanding sekadar menghapal 99 nama Allah?

Mungkin ia belum hapal urutannya  tetapi rasa senang untuk dibacakan cerita tentang cerita tokoh laki-laki yang menerapkan sifat-sifat Allah jauh lebih menenangkan. Buku itu ia ulang-ulang minta dibacakan setiap hari sebelum tidur. Seperti cerita dari Steffi Fauziah tentang pentingnya mengenal asmaul husna lebih dekat.

Kembali membuka catatan-catatan ilmu Fitrah Based Education yang dipelajari dari seminar, workshop dan kuliah whatsapp bersama Ustad Harry Santosa (founder fitrah based education). Sekali lagi saya diingatkan bahwa tidak ada kaidah "lebih cepat lebih baik" untuk fitrah keimanan.

fitrah keimanan

 

Mengubur Fitrah Keimanan

Ada sebuah contoh kasus yang diceritakan Ustad Harry:

Ada seorang ibu yang bertanya pada Ustad Harry 

“Anak saya usia 12 tahun, kenapa susah ya diajak sholat ya Ustad?”

“Memangnya tidak dididik sholat, Bu?”

“Dididik Ustad, pas 2 tahun saya belikan mukena malah…”

“Memang dididiknya gimana?”

“Kalau ga sholat, saya cubit atau pukul Ustad..”

Bunda, bunda baru saja membuat anak membenci sholat sepanjang hidupnya. Dengan kata lain cidera fitrahnya. Sadarkah kita perlahan kita sebagai orang tuanya sering mengubur fitrah keimanannya.

  • Bangun subuh itu syariat atau fitrah anak dari lahir, kita sebagai orang tuanya yang mengajarkan untuk tidur lagi.
  • Semua bayi tidak menyukai najis dan suka kebersihan (suka menangis ketika BAB atau BAK), kita yang mengajarkan memakai diapers.
  • Orang tua mengeluhkan anaknya malas gerak, main game dan nonton TV. Siapa yang dulu mengenalkan agar anak diam dan menonton gawai dari kecil.

Lalu Bagaimana Mendidik Fitrah Keimanan?

Mendidik fitrah keimanan, tentu bertahap sesuai tahapan usia. Pada artikel ini saya membahas pada dua tahap usia anak terlebih dahulu, yakni, mendidik fitrah keimanan pada anak usia 0-2 tahun dan 3-6 tahun. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas mendidik fitrah keimanan pada anak usai 7-10 tahun, 11-14 tahun dan lebih dari 15 tahun.

Mendidik fitrah keimanan pada anak usia 0-2 tahun.

Tahap pendidikan fitrah keimanan pada anak golongan usia 0-2 tahun adalah dengan memberikan ASI secara eksklusif, menghadirkan hati, perhatian, sentuhan, pandangan ketika menyusui. Bukan sekadar memberikan air susu, telah banyak penelitian baik dari timur hingga barat mengenai manfaat dari pemberian ASI secara langsung. Inilah tahap penguatan awal Tauhid Rubbubiyatullah.

Salah satu hikmah mengapa menyusui diwajibkan karena proses menyusui sebagai bentuk penguatan dan perawatan syahadah Rubbubiyatullah. Dalam pemberian ASI, sang bayi merasakan adanya Zat yang memberi rezeki, melindungi, merawat, menyayangi dan seterusnya.menumbuhkan fitrah iman

Mendidik fitrah keimanan pada anak usia 3-6 tahun.

Tahap pendidikan fitrah keimanan pada anak golongan usia 3-6 tahun adalah merawat fitrah keimanan dengan membangun imaji-imaji keindahan Allah. Membangun imaji keindahan dan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, tentang Islam dan kebaikan lainnya. Sehingga kita dapat melahirkan kesan dan cinta yang mendalam. Cinta sebelum Islam, Iman sebelum Amal.

Jangan sampai kita merusak imaji-imaji anak di golongan usia ini tentang indahnya Al-Haq.

Beberapa waktu lalu saya menemukan kawan saya yang menasihati anaknya belum genap berusia 5 tahun “Jangan mukul ya nanti dosa.”

Duh, sedih saya dengarnya. 

Ustad Harry Santosa menjelaskan saat workshop fitrah based education untuk menunda menceritakan tentang neraka, perang akhir zaman, Dajjal, qiyamat dan sebagainya.

Sampai kapan? Sampai anak benar-benar kuat fitrah keimanannya kira-kira di usia 7 tahun ke atas. Jika dilihat sisi perkembangan otak anak di usia 7 tahun sudah ditahap logika.

Adab diimajikan positif, bukan sebagai disiplin sehingga anak (0-7 tahun) suka melakukannya.

Sebagai orang tua jangan sampai mendidik adab dengan memaksa apalagi menyakitkan hati anak agar mereka tidak membenci adab. Mari kita mengupayakan adab berkesan indah. Jadi tahap ini sepenuhnya anak memiliki imaji baik dan cinta sehingga anak tidak memperturutkan yang tidak baik.

Mari kita ceritakanlah hal-hal indah yang membuat anak sangat tergugah, berkesan mendalam dan antusias pada kebenaran. Bangunlah suasana keshalihan dalam setiap momen dan kesempatan tanpa terasa dan formal.

iman anak

Tahap emas untuk mengenalkan Allah, Rasulullah SAW dan kebaikan kebaikan Islam.

Ketika anak sedang pada puncak imaji dan abstraksinya, alam bawah sadarnya masih terbuka lebar. Maka ketika kita mengenalkan apapun tentang kebaikan apalagi dengan cara berkesan akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan menguatkan fitrahnya. 

Sholat adalah Ibadah yang diwajibkan saat usia 7 tahun.

Tentu kita ingat bahwa sholat adalah ibadah yang diperintah saat usia 7 tahun.  Jadi ketika anak di bawah 7 tahun sholat diimajikan indah bukan dipaksa tertib gerakan, tertib bacaan dan tertib waktu. 

Contohnya kita bisa membangun atmosfer keshalihan dengan setiap azan berkumandang, dengan memperlihatkan wajah menjadi sumringah dan tersenyum seindah mungkin, bahkan memeluk dan mengucapkan kata kata indah di telinga ananda.

Dahulukan amar ma’ruf daripada nahi munkar. 

Misalnya jika anak naik ke atas meja, katakan saja “Sakha meja untuk apa? Untuk makan kan, kaki untuk ke masjid atau ke taman” daripada panik dan menyebut keburukan.

Diharapkan pada fase ini anak sudah antusias mengenal dan menyebut nama Allah di usia 3 tahun.

Nanti di usia 7 tahun, diharapkan ketika kita mengatakan, “Nak, sholat itu diperintah oleh Allah loh…” InsyaAllah anak akan menerima perintah Sholat dengan suka cita”.

Sekali lagi bahwa pada tahap usia 0-6 tahun adalah masa emas bagi mendidik fitrah keimanan, dengan menguatkan konsep Allah sebagai Rabb, melalui imaji-imaji indah yang melahirkan kecintaan kepada Allah, Rasulullah SAW, Islam. Metodenya adalah keteladanan dan suasana keshalihan yang berkesan mendalam.

Puisi seorang Ustadz :

Dahulu saat teman-temanku membanggakan anak-anaknya sudah hapal beberapa Juz Al Quran. Saya hanya bisa membanggakan anak-anak saya mencintai Quran dengan kisah-kisah di dalamnya.

Dahulu saat teman-temanku membanggakan anak-anaknya yang berusia 4 tahun sudah rajin sholatnya. Saya hanya bisa membuatnya jatuh cinta pada Allah dengan membawanya ke masjid ketika waktu sholat.

Dahulu saat anak temanku (7 tahun) sudah hapal hadist Arbain. Saya hanya bisa menceritakan betapa indahnya akhlak Rasulullah SAW

Kini…

Ketika anak-anak kami sudah menjadi pemuda. Teman-teman saya mengeluhkan perilaku anaknya, tapi saya tersenyum dengan keindahan akhlak anak-anak saya.

Kecintaan itu akan permanen sepanjang jalan hidupnya. insyaAllah.

Penutup

Kita sibuk membuat anak nampak sholeh. Kita sibuk dengan apa yang nampak bukan apa yang menancap di hati anak.

“Berapa juz hapalannya, Nak?”

Sementara kita lupa memikat hatinya. Kita lupa membuat dia cinta dengan Al-Quran.

Cinta dulu baru TAAT.

Kalau anak sudah cinta, akan dikejar itu semua tentang Islam dan Quran. Ketika cinta itu sudah datang tidak perlu disuruh-suruh lagi. Ketika cinta itu sudah datang dengan kebaikan, akan dikejar terus…insyaAllah.

Ingatkan kita tentang Rasul ketika sholat berjamaah diduduki kepalanya pas sedang sujud? Tidak tega memutus kebahagiaannya cucunya sedang bermain, Rasul membiarkannya. Bahkan di lain hari cucunya tersebut, Husein, menjadi ahli sujud, Masya Allah.

Jadi mendidik fitrah keimanan pada anak yang paling penting adalah membangun cintanya pada Allah, Rasul, dan Islam.

Salam, Semoga Bermanfaat. 

shafira adlina cerita mamah
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

41 komentar

  1. Wow tulisan yang bagus. Terimakasih atas sharing ilmunya, Bunda

    BalasHapus
  2. MasyaAllah, aku juga pernah nih ngerasain insecure sama anak sendiri, huhu.. Semoga kita bisa terus menjaga fitrah keimanan kita ya, mbak :)

    BalasHapus
  3. Masya Allah, smoga makin byk yg tau fitrah education ini ya mba..

    BalasHapus
  4. Tulisan bagus buat aku nih, sangat bermanfaat dan akan berguna nanti kalau sudah punya anak :)

    BalasHapus
  5. baca artikel ini jadi menambah semangatku untuk lebih sabar dalam membersamai proses tumbuh kembang kafa, bismillah...

    BalasHapus
  6. Setuju banget. Mendidik anak memang tidak mudah. Mencontoh rasul dalam banyak bidang kehidupan terutama anak itu bagus banget

    BalasHapus
  7. Betul sekali, membuat anak untuk mencintai apa yang diajarkan jauh lebih pentibg daripada teori semata. Ini pe-er banget buat Aku yang lagi menjalani fase ini Kak untuk anak-anakku. Semoga Allah selalu memudahkan setiap perjuangan ibu mendidik anak-anak ya.

    BalasHapus
  8. deeep banget pemaparannya teh ina, aku merasa ditampar nih

    pernah di keadaan begitu, ih anakku kok belum hafal bnyk surat2 pendek, eh tapi kita selama ini mencoba menyelami tafsir2nya juga kok. belajar dari pengalaman, hafalan anak jelas akan lebih mudah, tapi bagaimana yang diajarkan tertancap itu emang nggak cuma di mulut saja lewat hafalan, tapi lewat cerita. Makanya, bener nih aku juga konsepnya kayak teh ina, lebih suka cerita. semoga apa yang kita upayakan menjadi hal yang baik dan berbekas di hati anak ya teh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali teh gina, terkadng kita sibuk sama apa yang terlihat di luar. Namun, percayalah semua kebaikan dan kecintaan yang kita tanam perlahan jauh lebih penting darpada sekadar hapalan/

      Hapus
  9. Masih jadi PR untukku nih mba shaf. Baca baca soal parenting di blog ini rasanya adeeem banget. Jauh dari banyak teori yang bikin bingung kadang. Bahkan ada yg ngga sesuai hati nurani. Terimakasih udah berbagi ilmunya mba shaf ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak jihan...tetap semangat membersamai isya ya mbak

      Hapus
  10. Selalu deh pembahasan kak Inna soal parenting memang jagoan banget. Bakal aku inget kak, sebagai bekal nanti soal fitrah keimanan yang ternyata penerapannya berbeda di setiap jenjang usia anaj

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaALlah. enggak kak, ini cuma sharing aja kak arai...hehe

      Hapus
  11. Aku masih harus banyak belajar banget ini. Sering banget ngelakuin kesalahan dalam proses mendidik anak-anak.

    BalasHapus
  12. MasyaAllah tulisannya jadi reminder dan pelajaran buat saya dalam mendidik anak nih

    BalasHapus
  13. Maa syaa Allaah terima kasih sudah berbagi tulisan yang indah ini Mbak. Jadi pelajaran juga buat saya agar bisa mendidik anak sesuai dengan fitrah keimanan.

    Puisi seorang uztads itu bagus sekali. Pesannya nyampe. Noted. Cinta dulu baru taat😊

    BalasHapus
  14. Cinta dulu! Isi pikiran alam bawah sadar anak dengan kecintaan kepada Sang Rabb, bukan ketakutan. Ada saatnya setelah fitrah iman terbentuk, boleh bercerita kalau yang wajib gak dilakukan, Allah gak suka. Begitu ya, mah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. fitrah iman memang sudah terinstall mbak jul di setiap insan. tugas kita sebagai orang tua untuk membangkitkannya inside out, cinta dulu baru taat. teteap perhatikan tahapan umur dan karakter tiap anak ya mbokk

      Hapus
  15. Aku terharu pas baca saat anak lahir di dunia ini ia menangis karena merindukan Allah... Semoga kita semua bisa menjadi orang tua terbaik untuk anak2

    BalasHapus
  16. Artikelnya bermanfaat bgt mba. Sebagai ortu kita memang hrs lbh sabar dlm mengasuh dan membimbing. Krn jika salah, jusyru akn merusah fitrah anak. Semoga kita mampu jd ortu yg bs meneladani Rasul dlm mendidik ya mba

    BalasHapus
  17. Menurut saya sebagai ortu memang harus pnya kesabaran ekstra ketika membimbing anak mbak ..mungkin jika anak kemampuannya blm bisa seperti anak lain ada kendala pada psikis or piskis anak tanpa kita sadari menjadi penghalang anak untuk bisa cepat menangkap pelajaran yang diberikan.. semoga senantiasa sehat ya ananda tercinta

    BalasHapus
  18. Terus belajar mendidik sesuai fitrahnya. Terima kasih artikelnya sangat bermanfaat untuk para org tua yg menginginkan anaknya Soleh solihah

    BalasHapus
  19. MasyaAllah kak, indah banget ya tuntunan mengajari anak-anaknya ... Terima kasih banyak kak, merasa tertampar nih saya selama ini suka keras pada keponakan kalau urusan sholat, duh curiga saya sudah menciderai hatinya...

    BalasHapus
  20. Kadang itu keimanan kita sebagai manusia suka naik turun gitu ya, semoga kita selalu dalam keimanan yang baik hingga ajal menjemput Aamiinn

    BalasHapus
  21. Bagus banget dan dalem penjelasannya. Tulisan ini mrngingatkan kita sebagai orang tua agar tidak menjadi insecure terhadap anak

    BalasHapus
  22. Honestly, setuju banget kita sebagai orang tua gak boleh membandingkan anak kita dengan yang lain. Sebagai orang tua juga kita harus memberikan pondasi yang kuat akan keimanan sehingga anak tumbuh dan memiliki pondasi iman dan pengetahuan yang baik

    BalasHapus
  23. Ada satu lagi kak Ina..
    Ketika orangtua ingin mendapatkan anak yang sholih atau Sholihah, terkadang orangtua lupa menjadikan diri mereka Sholih terlebih dahulu. Padahal anak lebih suka keteladanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak icha. seperti yang kutuliskan di atas mengenai atmosfer keshalihan itu adalah keteladanan

      Hapus
  24. Maasya allah aku setuju banget. Mencintai ibadah itu bukan penerapan yang instan ya, kak. Butuh proses hingga apa ya, itu yang kakak tulis bener. Bagaimana cara seseorang cinta, kalau ngga paham mengenai ibadah yang dilakukan gitu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul ka ipeh, dari cinta lama2 pasti akan bisaaa..

      Hapus
  25. Wah, makasih banyak kak. Penting banget nih buat aku yg punya anak usia 3 tahun dan masih belajar sholat dan mengaji

    BalasHapus
  26. Masha Allah, sharingnya lengkap banget kak, ini penting buat saya yang bakal punya anak nih.

    BalasHapus
  27. Masya Allah, berasa ditabokin baca tulisan ini Mbak. Aku ijin share ya, sangat bagus ilmunya.

    BalasHapus
  28. setiap anak dilahirkan itu emang sudah ada fitrah terhadap penciptanya ya mba. makanya mudah banget anak kecil itu belajar tauhid dan itu yang utama untuk anak-anak agar tak tersesat nantinya. makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
  29. Kalau mengajarkan apapun kepada anak, apalagi soal adab, mestinya kita sebagai orangtua lebih dulu yg memberi contoh teladan dan ajarkan dengan cara yg lembut,

    BalasHapus
  30. Terimakasih kak tipsnya, memang sulit ya. Perlu dipelajarai dan dibiasakan. Seringnya orang tua yang lepas kontrol marah duluan. Aku masih sulit nih kak jelasin ke anak perempuanku yang umur 6 tahun, kalau aku gak shalat dia gak mau shalat juga.

    BalasHapus
  31. Masih perlu belajar banyak ini, thanks sharingnya kak

    BalasHapus
  32. Yup menerapkan metode pembelajaran yg baik jauh lebih berguna ketimbang membandingkan anak kita dgn anak lainnya..

    BalasHapus