-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Review Buku Tere Liye Selamat Tinggal

Sudah lama saya tidak tenggelam dalam buku fiksi. Sekitar bulan Mei saya memenangkan hadiah voucher Gramedia dari sebuah lomba blog. Mendekati masa berlaku voucher di bulan Desember ini, saya mencoba berbelanja buku bersama anak saya. Salah satu yang saya beli adalah buku Tere Liye yang berjudul Selamat Tinggal.

Tidak membutuhkan waktu lama, kurang lebih 3 hari saya menyelesaikan buku ini. Kali ini saya mau berbagi cerita tentang isi buku ini. Saya pribadi merasakan kesegaran ketika membacanya, mungkin karena latar belakangnya kehidupan kampus. Selain itu masalah yang dimunculkan di buku ini seputar dengan dunia kepenulisan dan bajakan.

Identitas Buku

Judul Buku: Selamat Tinggal

Penulis : Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 360 halaman

Kota dan Tahun Terbit : Jakarta, 2020

Harga : Rp85.000

tere liye selamat tinggal

Tokoh Utama Buku Selamat Tinggal-Tere Liye

Sintong Tinggal, seorang mahasiswa tahun ke-7 di Fakultas Sastra yang bekerja menjaga toko buku Pamannya. Bukan toko buku biasa, toko buku tersebut menjual buku-buku bajakan.

"Kata menarik dalam bahasa Melayu, salah satunya 'tinggal.' Kata itu bisa bermaksud tinggal menetap atau tinggal pergi. Satu kata memiliki dua arti yang seratus delapan derajat terbalik, tergantung konteksnya." 

Dilema yang Sintong alami karena Sintong berasal dari keluarga yang kurang mampu di Desa. Sepanjang hidup di perkuliahan semua kehidupannya ditanggung oleh Paman dan Bibinya yang menjadi Bos di toko buku bajakan ini. Sebagai wujud balas budinya, ia harus menjaga toko tersebut di luar waktu kuliah. 

“Fantastis sekali, mereka belajar tentang hukum dari buku-buku bajakan. Hukum seperti apa coba yang hendak mereka tegakkan? Sapunya kotor kok mau membersihkan lantai?”

Sintong bukan tak bisa mengerjakan tugas akhirnya. Hidupnya tidak memiliki gairah kembali semenjak patah hati karena cinta pertamanya. Ada suatu kejadian yang membuat Sintong Tinggal bangkit untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Semangatnya kembali membara, setelah kejadian itu. Kejadian apa? Silahkan baca bukunya ya. 

Dekan yang sekaligus pembimbing Skripsi Sintong memberi kesempatan padanya karena telah menemukan satu buku langka yang menjadi topik skripsinya. Buku tersebut diitulis oleh Sutan Pane. 

Siapakah Sutan Pane?

Penulis di era 1950-1965 yang tiba-tiba berhenti menulis dan menghilang. Seorang penulis terkenal yang biasa dimuat di surat kabar yang peduli dengan nasib bangsa dan negara. Ia pandai menulis multi genre mulai dari essay, puisi hingga cerpen. Meski Sutan Pane memiliki pemikiran yang tajam, beliau adalah seorang yang netral karena berani mengkritik bukan karena sekelompok orang manapun. 

Yang unik adalah Sintong dan Sutan Pane memiliki satu sifat yang sama. Mereka pribadi teguh dalam prinsip hidupnya. 

"Sutan Pane mencemaskan nasib bangsa. Apa yang akan diwariskan oleh pemerintah masa itu? Pejabat-pejabat yang mementingkan kelompok sendiri? Menggunakan sentimen kelompoknya untuk menggapai kekuasaan? Lantas menjadi pemimpin yang korup dan penuh pencitraan. Jika itu terjadi, maka 50 tahun, 100 tahun kemudian, nasib bangsa ini hanya akan jatuh di tangan elit politik yang itu itu saja, bergantian mereka mengangkangi rakyat."

Perjalanan Menemukan Alasan Sutan Pane Menghilang

Sintong mengumpulkan setiap informasi demi mendukung data di skripsinya. Dalam perjalanannya, Sintong menemukan banyak fakta menarik yang melengkapi puzzle-puzzle skripsinya. 

Selain harus menyelesaikan tugas akhirnya, sang pembimbing juga memberi tugas agar Sintong kembali menulis di surat kabar. Sintong kembali mengaum dalam tulisannya. Perlahan ia harus memutar otak bagaimana ia bisa keluar dari bisnis buku bajakan ini, karena sekali masuk susah sekali untuk keluar.

Bumbu Asmara di Buku Selamat Tinggal - Tere Liye

“Tragis. Sayap cinta Sintong telah patah. Dia terhunjam jatuh ke bumi. Sakit sekali. Terbangun dalam buai mimpi.”

Tentu khas dari buku-buku Tere Liye selalu menyuguhkan bumbu asmara di setiap halamannya. Hal yang sama dikisahkan dalam perjalan Sintong Tinggal yang patah hati karena ditinggal menikah Mawar. Lalu bertemu dengan Jess dan Bunga.

Namun, tenang saja ini buku novel yang menye-menye karena cinta. Jauh dari itu pelajaran berharga tentang kredibilitas kita dalam menggunakan karya orang lain baik dari menikmati buku sampai tontonan liga bola dimuat di novel ini.

review selamat tinggal

Hal yang Menarik pada "Selamat Tinggal"

  1. Terkenal, kaya dan hebat tidak bisa membuat bahagia. Salah satu tokoh di novel ini seorang influencer di sosial media juga penuh kepalsuan. Karena apa-apa yang dinampakkan belum tentu aslinya. 
  2. Penulis dan keluarga adalah orang yang paling terzholimi dalam kasus buku bajakan. Menghakimi penulis tidak ikhlas menulis, menhujatnya sebagai munafik hanya karena kita penikmat produk bajakan adalah perilaku keji. 

Sebagai penulis yang banyak menulis banyak novel, ini kali pertama saya menikmati latar kehidupan anak kuliah di buku Tere Liye. Kehidupan Sintong dalam kampus juga diceritakan ia adalah seorang aktivitas di redaksi  kampus dan senang mendaki gunung. 

Keadaan yang dipaparkan novel ini sesuai dengan kenyataan yang ada hari ini. Seperti banyak di antara kita yang terjebak dengan sosial media, toko online buku bajakan hinggga fenomena youtuber serta keseharian kita yang tanpa sadar penuh kepalsuan dan bajakan. 

"Namanya juga menjual merk, desain, prestise, maka nilai tambahnya tinggi. Seharusnya jika penduduk kita tidak mampu membelinya, mereka bisa menggunakan produk lokal. Toh banyak produk lokal yang tidak kalah kualitasnya, hanya soal merk saja yang tidak terkenal. Mungkin kerana penduduk kita suka pamer, simbol kesuksesan. Di negara dengan karakter konsumer suka pamer, produk tiruan laku keras."

Penutup 

Secara keseluruhan novel Tere Liye yang berjudul Selamat Tinggal ini menarik. Tere Liye sangat apik menghadirkan fenomena produk ini lewat kacamata Sintong Tinggal. Tere Liye seolah megutarakan seluruh pendapat dan kritikan terutama pada buku-buku bajakan karena buku-buku beliau pun banyak yang dibajak.

Nah, terakhir saya sangat merekomendasikan kalian membaca buku ini. Jangan lupa untuk membeli buku yang asli ya. Salam, semoga bermanfaat. 

shafira adlina cerita mamah

Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

44 komentar

  1. Tere Liye itu aku sukaaa banyak buku2nya, walopun blm semua terkumpul. Pelan2 mau aku lengkapi mba.

    Bicara buku bajakan, dr dulu aku ga akan mau beli buku2 begitu. Aku LBH memilih beli buku bekas asalkan asli drpd buku bajakan :(.

    Pernah sekali ketipu pas beli online, dan aku kecewa bgt Ama bentuk bukunya. Udahlah kertas murah warna abu2, cetakannya jelek, banyak typo. Dan aku lgs stop baca. Mnding cari yg asli. Dari kecil aku diajarin papa untuk mencintai buku. Jd buatku, membelj buku asli, walopun bekas, itu tanda nya aku menghargai buku2 ini dan juga penulisnya. Sama kayak penadah BRG curian sih kalo membeli buku bajakan itu.buatku loh yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak sedih banget lihat buku dibajak berapa banyak pihak yang dizholimi, dan baca buku ini mikir bgt aku jangan2 ada barang2 tiruan atau bajakan yg ada di hidupku ini.

      Hapus
  2. Saya belum baca ini buku Tere Liye yang satu ini. Paling baru ya Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak baru release desember kemarin kalau ga salah. rekomended mbak

      Hapus
  3. Tere Liye selalu menakjubkan!
    Aku syukaaakk hampir semua karya2nya
    terutama Negeri Para Bedebah
    Mantaabb!

    BalasHapus
  4. Dan beneran saya jadi penasaran pengin baca buku ini. Saya suka membaca buku yang berisi tentang cerita realita yang ada di masyarakat. Karena saya tidak mampu melihat sendiri, maka buku tersebut seperti menjadi wakil dari mata saya. Makasih untuk reviewnya.

    BalasHapus
  5. Belum pernah baca karyanya Tere Liye, tapi suka sama kutipan-kutipannya yang kerap beredar di media sosial. Kuotabel banget. Dia piawai bikin kata-kata yang bisa dikutip dan relateable sama kehidupan pembacanya. Kurasa itulah cara dia mempengaruhi pikiran pembacanya. Hal yang mesti dipelajari penulis dari Tere Liye.

    BalasHapus
  6. Saya salah satu penggembar Tere Liye, wah bukunya "Selamat TInggal" menggali Sintong plus Sutan Pane yang punya filosofi hidup yang kuat. Ditambah dengan asmara yang jadi bumbu, sangat menarik sekali. Perlu diburu buku ini. Terima kasih atas reviewnya.

    BalasHapus
  7. Saya belum pernah baca bukunya Tere Liye. Tapi sinopsis Selamat Tinggal ini membuat saya tergerak untuk mencari versi e-book-nya. Moga-moga ada yang dijual. Jarang banget ada novel yang menulis tentang industri buku bajakan.

    BalasHapus
  8. Pesan yang dalam. Bikin kita lebih memahami dan menghargai kerja keras orang lain. Apalagi sebuah karya.

    Aku suka dengan kutipannya.."sapunya kotor kok mau membersihkan lantai.." Duh..

    BalasHapus
  9. Wow ada tokohnya juga seorang influencer ya, sudut pandang yang menarik pembahasan soal influencer yang kalo di sosmed penuh kepalsuan. Namanya juga berusaha bekerja, ya begitulah kehidupan ini bak panggung sandiwara kan semuanya.

    BalasHapus
  10. Kalau dilihat dari nama penulisnya saya yakin pasti tulisan berbobot nih, cara menyampaikan pesannya pasti sangat kental namun mengena dan orang akan sangat menikmati karya--karyanya yang menarik

    BalasHapus
  11. isi ceritanya bermankna banget dan menceritakan tentang perbukuan, kebetulan saya suka banget dengan berbau hal-hal tentang buku seperti novel

    BalasHapus
  12. Tere Liye, buku-bukunya selalu manis di pasaran ya. Sayang banget aku belum punya bukunya satupun.

    BalasHapus
  13. Bagus ya ceritanya kayanya. Menyindir pembajak karya, ga cuma di buku. Mungkinkah nanti mau dibuat filmnya? Hmmm

    BalasHapus
  14. Aku belum pernah baca bukunya Tere Liye...hiks. Banyak review buku-bukunya bagus-bagus yah. Kayaknya menarik nih bukunya cerita tentang buku bajakan dan influencer...

    BalasHapus
  15. Tere Liye salah satu penulis favorit aku. Selalu suka filosofi tulisannya dan entah kenapa tiap baca bukunya pasti terbawa masuk ke dalam cerita.hihi... Menarik tentang bahasan influencer yang penuh kepalsuan di sosmed. Kalo saya pribadi lihatnya bukan kepalsuan tapi lebih ke personal branding. Bagaimana cara kita membranding diri di media sosial dan semua kembali ke pilihan personal influencer tersebut.

    BalasHapus
  16. ini buku terbarunya tere liye ya mbak? related dgn kehidupanny sbg penulis y into ceritanya

    BalasHapus
  17. Saya pembaca buku Tere Liye juga mba. Ini buku terbaru ya Mba? Jadi kepingin baca juga.

    Oh iya ngomongin buku bajakan aku pernah beli sekali tapi itupun ga sengaja. Beli di salah satu pasar buku terkenal di Kota Bandung. Sempat heran kok harganya murah banget ya, beda setengah harga dari Gramedia. Sampai di rumah ternyata kualitas kertasnya tipis, tulisan buram dan ada beberapa part cerita yang hilang. Kapok belu buku harga murah yang ternyata bajakan. Hiksss

    BalasHapus
  18. Awal mengenal Tere Liye, dari tulisan-tulisan atau quote-nya di Medsos, dan memang selalu memikat hati/rasa. Dari Beliau jadi lebih mengerti akan makna dari sebuah karya, terutama saat tulisanku sendiri ada yg copas, huhu nyesek rasanya.

    BalasHapus
  19. Tere Liye sejak mengumumkan menggunakan Ghost Writer, karyanya tiap tahun kian banyak yaa..
    Aku sampai salut. Belum selesai baca buku yang satu, uda keluar judul baru lagi.
    Di sini kisahnya sungguh menarik. Aku sering membayangkan bahwa penulisnya sendiri yang mengalami kejadian, sehingga karakter dan settingnya begitu nyata.

    BalasHapus
  20. Keren ya?
    Kritik social lewat buku
    Salah satu kelebihan seorang penulis, terlebih sekaliber Tere Liye

    BalasHapus
  21. Dulu pernah beberapa kali baca karyanya Tere Liye, sekarang belum sempat baca karyanya lagi. Bagus-bagus ya karya Tere Liye ini, sesuai dengan kondisi saat ini

    BalasHapus
  22. Tere Liye emang sangat vocal soal buku bajakan ini. Aku ngikutin medsosnya. Pas itu aku habis dikasih ebook kan. Dan ternyata kata dia semua ebook itu bajakan. Alhamdulillah aku jadi tobat 😊

    BalasHapus
  23. Ide mengangkat tentang bisnis buku bajakan ini relate banget ya dengan kehidupan penulisnya. Banyak buku Darwis yang telah keluar versi bajakannya. Di negara ber-flower ini memang perlu nih edukasi tiada henti bahwa membeli buku bajakan sangat merugikan penulisnya. Kritik yang bagus melalui kisah novel dengan tokoh Sintong Tinggal ini.

    BalasHapus
  24. Tema menarik, tentang buku bajakan..enggak kebayang bagaimana berada di posisi Sintong ya..Di tangan Tere Liye pasti bakal makin keren kisah ini diolah.
    Saya suka cara mereview bukunya, Mbak
    Jadi seolah ikut baca saya tanpa memberikan bocorannya. Keren!

    BalasHapus
  25. Senangnya sudah baca buku terbaru dari Tere Liye ini. Aih akhirnya dibuat jadi karya juga sama Tere Liye. Ingat betapa tajamnya beliau mengkritik para pembajak buku di fanpage dan IG nya setahun ke belakang.


    Semoga karya ini menyentuh titik hati pembacanya agar menghargai karya para penulis. Agar berhenti membajak karya.

    BalasHapus
  26. Jarang-jarang ada buku yang bicara tentang dunia buku itu sendiri. Masuk list buku terbaru Tere Liye ini. Sejauh ini saya baru baca beberapa saja karya Tere Liye

    BalasHapus
  27. Makasi bgt ulasannya ttg novel tere liye ini ya kak. Udah lama bgt ga baca novel tere liye, kyknya selamat tinggal ini wajib ku baca

    BalasHapus
  28. Jadi penasaran pengen beli bukunya , pasti yang aslinya dong.

    BalasHapus
  29. wa seru juga ada bagian soal influencerr yang penuh kepalsuan. Berat ternyata jadi influencer tuh. Hidup tak seindah Feed Instagram dkk

    BalasHapus
  30. Yah menye-menye karena cinta pasti akan menguras air mata, walau sih penasaran udah lama nggak baca novelnya tereliye

    BalasHapus
  31. Buku ini lagi in banget d kalangan teman-teman bookstagrammer hehe novel Tere Liye emang selalu menarik. Akupun baru baca Daun yang Jatuh, setelah sekian lama baru baca haha

    BalasHapus
  32. wah ceritanya menarik. awalnya kupikir Selamat Tinggal ini kelanjutan novel Pergi, ternyata bukan ya dan novel Pulang-Pergi juga ada judulnya tersendiri.

    BalasHapus
  33. Udah lama ga baca buku karyanya Tere Liye. Yang Selamat Tinggal ini juga malah baru tahu. Unik ya kalau mengangkat sisi kehidupan dari soal buku bajakan. Penasaran jadi skripsinya tentang penelitian sang sastrawan Pane itu bagaimana kelanjutannya

    BalasHapus
  34. Saya belum pernah membaca Tere Liye ini. Sempat melihat di Gramedia Digital juga sih, setelah saya cek barusan ada sekitar 27 judul. Mungkin nanti akan saya coba baca salah satu karyanya, semoga semenarik Selamat Tinggal ini

    BalasHapus
  35. Aku anak hukum dan aku pernah membeli buku buku bajakan nih, hiks

    Ceritanya menarik juga teh..jadib Influencer itu memang kudu hati-hari pisan, karna pengaruhnya emang luar biasa

    BalasHapus
  36. Udah lama banget ga baca buku Tere Liye, mantep ini ulasannya. nanti mau cari ah

    BalasHapus
  37. ringkasan yang menarik ini, sepertinya akan tertarik untuk membaca ini. apalagi ini ada hubungannya dengan dunia buku, bajakan dalam kepenulisan (buku). nanti coba cari ah. makasih infonya, mbak

    BalasHapus
  38. Aku sama sekali belum pernah baca buku Tere Liye, sekedar baca penggalannya aja di Twitter. Namun setelah baca blog ini sepertinya menarik. Thanks mba udah sharing.

    BalasHapus
  39. wah buku barunya terelliye y mba? aku koleksi semua bukunya dan suka, yg ini baru tau deh :)

    BalasHapus
  40. aku itu menemukan kutipan-kutipan tere liye dari sosial media. kalau langsung belum pernah baca, entah ini belum berminat membaca bukunya. Kisah yang apik mesti di buku ini ya

    BalasHapus
  41. Ini buku tere liye yang belum aku baca.makaih rekomendasinya kak...
    aku juga ogah beli bajakan..dulu sih pernah, pas masih jaman jahiliyah hahaha

    skrg mending pinjem perpus daerah kalau gak mau beli. dijamin asli dan lengkap perpus di kotaku kak..

    BalasHapus
  42. Aku tertarik baca postingan ini, karena judulnya ha ha ha. Tak kira isinya tentang kritikan untuk Tere Liye. Menarik dong. Ada apa gerangan? Eh, ternyata membahas slah satu bukunya. Novel-novel Tere memang menarik dan berhikmah. Saya juga suk membacanya.

    BalasHapus