-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Budaya Pernikahan Sunda

Pernikahan adalah sebuah perjanjian sakral tidak hanya dua manusia tetapi dua keluarga. Biasanya selain melaksanakan secara agama, pernikahan yang kita jumpai juga menggunakan adat istiadat baik dari keluarga mempelai laki-laki maupun perempuan.

Seperti dahulu saat menikah, mamah pernah bertanya :

“Mau pakai adat ga?”

Saya dan calon suami kala itu memutuskan tidak memakai adat apapun demi menghemat budget juga. hehe. Pada artikel ini saya ingin menjelaskan mengenai beberapa adat atau budaya sunda pada pernikahan. Keluarga mamah saya memiliki darah sunda, dan pernikahan saya dan suami pun dilaksanakan di Masjid Agung Sukabumi.

Pabetot Bakakak Hayam

Meskipun pernikahan kami tidak menggunakan adat sunda lengkap pada umumnya. Namun, dari paket pernikahan yang kami pilih saat itu kami mendapatkan makanan paket bakakak hayam.

Apa itu bakakak hayam? Bakakak hayam adalah ayam untuh yang telah dibumbui sebelumnya dibakar. Setelah prosesi akad nikah, kami memasuki panggung pernikahan di aula gedung beserta keluarga. Setelah mengambil dokumentasi, kami diberikan satu nampan yang berisi bakakak hayam untuk ditarik.

Ayamnya ditarik? Betul, nama adat ini lengkapnya adalah Pabetot Bakakak Hayam. Atau bahasa indonesianya adalah “rebutan ayam bakakak”

Pabetot bakakak hayam adalah prosesi adat sunda di mana pengantin pria dan wanita saling menarik ayam utuh yang sudah dimasak. Bagi yang mendapatkan bagian lebih besar harus berbagi kepada pasangannya. 

Saat itu saya yang mendapatkan bagian ayam yang lebih besar. Katanya arti dari adat pernikahan ini adalah melambangkan ketika menerima rezeki harus dibagi bersama. 

Prosesi Sawer Pengantin Sunda

Selain prosesi adat pabetot bakakak hayam, ada juga porsesi sawer pengantin. Tahun 2019 saat adik bungsu saya menikah, setelah akad diadakan prosesi sawer pengantin ini.

“Nanti siapin uang receh dan permen ya.” Ucap mamah di grup whatsapp keluarga.

Sejujurnya kami semua belum ngeh apa saja prosesi dari adat sunda itu. Nah,kebetulan adik saya memakai jasa tata rias dan catering yang berbeda dari saya 4 tahun yang lalu. Kala itu ia juga mendapatkan paket prosesi saweran ini. 

Saweran atau prosesi nyawer merupakan sebuah budaya menaburkan beberapa benda-benda kecil seperti beras, uang recehan dan permen. Proses saweran dapat dilakukan oleh orang tua kedua mempelai atau orang yang melantunkan syair sawer. 

Upacara sawer adat sunda ini dilakukan setelah akad nikah berlangsung. Pasangan pengantin akan dibawa ke tempat terbuka atau tempat penyaweran. Adik saya dan suaminya dibawa keluar ruangan akad, di depan panggung dan dihadapan banyak tamu mereka duduk sambil dipayungi paying besar. Kemudian petugas yang menjadi penyawer melantunkan syair sawer, sambil menabur beras yang bercampur uang receh dan permen ke tamu undangan.

Seketika tanpa perlu dikomando keponakan adik saya yang berjumlah 7 orang anak kecil saat itu heboh mengambil permen dan uang receh bersama anak-anak kecil lainnya.

Jangankan anak-anak bahkan beberapa orang dewasa langsung riuh memunguti saweran yang berada di sekitaran pasangan pengantin. Saya yang hamil besar saat itu hanya bisa tertawa sambil mendokumentasikan kelakuan mereka. 

Nah, itulah gambaran beberapa budaya pernikahan adat sunda. Kalau pernikahan (impian) kalian menggunakan adat apa? dan bagaimana ceritanya? boleh ya sharing di kolom komentar.

Semoga bermanfaat, salam. 


shafira adlina cerita mamah
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

2 komentar

  1. Aku pun dulu gak pake adat²an mah, gak mau juga, karena dulu akad nikahku itu beda hari dengan resepsi, dan resepsinya malam hari. Cuma ibuku aja yang pengin pernikahanku pake budaya jawa (yang bukan termasuk adat untuk nikah), jadi pake penari jawa dan nanti penari itu bawa boneka. Ya simbol biar cepet dikasih momongan itu. Begitu mah

    BalasHapus
  2. Aku pun dulu gak pake adat²an mah, gak mau juga, karena dulu akad nikahku itu beda hari dengan resepsi, dan resepsinya malam hari. Cuma ibuku aja yang pengin pernikahanku pake budaya jawa (yang bukan termasuk adat untuk nikah), jadi pake penari jawa dan nanti penari itu bawa boneka. Ya simbol biar cepet dikasih momongan itu. Begitu mah

    BalasHapus