-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Harapan Orang Tua adalah Jalan Hidupku?

Kita semua yakin bahwa setiap orang tua pasti mencintai anaknya. Begitu juga anak pasti sangat mencintai orang tuanya dan sekuat tenaganya untuk menyenangkan dan membanggakan mereka. Namun, beberapa anak merasa cinta itu tidak terbalas. 

"Saya selalu salah di mata Papa, padahal saya selalu megikuti apa yang diinginkan Papa."

Harapan dan Luka Pengasuhan

Kita tentu percaya bahwa setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dalam perjalannya orang tua juga sering berharap kepada anak. Namun, tidak semua harapan itu akan tersampaikan dengan baik jika cara penyampaiannya dengan baik. Kali ini saya akan bercerita tentang luka pengasuhan yang dapat terjadi karena harapan berlebihan orang tua kepada anak.

Sibling Rivalry yang Sering Kita jumpai 

“Tuh Ka, kaya Adek banyak temannya.”

“Lihat Adek dong nurut sama orang tua.”

Pernah mendengar kalimat seperti ini? Apa jangan kita mengalaminya sendiri, atau pernahkah kita mengucapkan kalimat seperti ini?

Bisa jadi maksud orang tua mengucapkan frasa ini untuk memotivasi. Namun, tanpa disadari ternyata malah melukai anak. Dibandingkan seperti ini bukan hanya dengan saudara sekandung, tapu bisa juga dengan sepupu atau teman sekolah. Anak akan merasa orang tua lebih sayang kepada adiknya.

“Anak emas versus anak tiri”

Anak emas merupakan anak yang diistimewakan dan anak tiri adalah anak yang direndahkan. Kita harusnya paham anak yang merasa direndahkan harga dirinya dapat terluka dan menyimpan banyak luka. Ia memendam amarah ke orang tua juga rasa cemburu, iri juga benci pada saudara si anak emas.

Banyak yang tidak sadar bukan saja anak tiri yang mendapatkan luka pengasuhan karena sering dibandingkan di tema luka pengasuhan sibling rivalry. Pada buku Membasuh Luka Pengasuhan (Diah Mahmudah,2020) menyebutkan bahwa si anak emas dapat mendapatkan luka.

Anak emas yang selalu diperlakukan istimewa dan dijadikan standar buat anaknya. Pada awalnya anak emas ini senang mendapatkan sanjungan dan pujian. Hanya saja, lambat laun ia akan menyadai dijadikan standar itu ternyata melelahkan.

Anak emas akan merasa harus selalu sempurna dan jangan sampai mengecewakan orang tua. Ini terjadi tanpa disadari karena ia selalu menuruti ekspetasi lingkungan. Kehendak dan aspirasi dirinya perlahan ia abaikan. Ia terus menyibukkan diri dengan menyenangkan orang lain.

Sibling Rivalry juga dialami langsung oleh Penulis buku tersebut bersama suaminya. Mereka berdua menulis tiga buku trilogy positive parenting. Teh Diah juga pernah mendapatkan luka pengasuhan bertema sibling rivalry ini.

Semenjak kecil Diah sudah menjadi anak emas. Ia diperlakukan istimewa dan harus menjadi contoh teladan. Namun tanpa disadari seperti yang dijelaskan di atas, Diah selalu berfouks untuk menyenangkan orang tua. Jangan sampai berbuat kesalahan atau hal yang mengecewakan. Oleh karena itu, perlahan namun pasti Diah seperti memakai “topeng emas” agar selalu menjadi anak emas orang tuanya. Perlahan sosoknya tumbuh menjadi pastif dan tidak mampu berkata “Tidak,” di saat sebenarnya ia ingin sekali mengatakan itu.

Tidak hanya itu, ia pun berkembang menjadi pribadi perfeksionis yang selalu harus berprestasi dan tidak boleh melakukan kesalahan. Padahal hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh manusia kan?

kutipan sibling rivalry

Parent Way, Harapan Orang Tua adalah Jalan Hidupku

 “Saya merasa orang tua saya tidak mencintai saya.”

Begitu kalimat yang terbeit di benak seorang anak. Padahal pada persfektif orang tua ia merasa sudah memberikan segalanya pada anak. Namun, apa yang diterima oleh anak tidak sejalan dengan tujuan orang tua.

“Kamu harus masuk jurusan kedokteran. Papa sudah banting tulang biayain kamu, sekarang waktunya berbakti.”

“Kalau kamu mau Papa Mamah biayain kuliah, kamu harus ambil Kedokteran, kalau bukan jurusan itu Papa angkat tangan.”

Kalimat-kalimat serupa itu sering menghantui anak. Bagaimana orang tua memutuskan urusan bagi kehidupannya, tanpa diberi celah untk berdiskusi. Jiwa anak akan merasa tertekan.

Harapan orang tua kepada anak saat disampaikan dengan cara yang salah pun dapat memberikan luka pada anak. Ada lagi seorang orang tua yang sering mengucapkan kalimat saktinya 

“Itu kalau kamu sayang Papa Mama…”

“Syurga di telapak kaki ibu, Nak.”

Dan kalimat serupa lainya.

Terlebih lagi seorang orang tua yang menaruh harapan anaknya agar dapat melaksanakan sholat. Orang tua menyuruh shalat sambil berkata “shalat sana..kalau ga nanti masuk neraka.”

Tanpa sadar harapan-harapan indah kita sebagai orang tua kepada anak membubuhkan luka pengasuhan. Dalam buku Teh Diah dijelaskan bahwa ini termasuk luka pengasuhan ke tema Parent Way. Artinya sebuah pemaksaan dari orang tua supaya anak menuruti keinginannya. Orang tipe ini cenderung menolak keinginan anaknya yang berbeda dan merasa pilihannya sebagai orang tua adalah yang terbaik.

Pemaksaannya tidak hanya hal-hal besar, bisa dimulai dari memilih baju anak, menu masakan sampai penjurusan kuliah, kantor hingga jodoh. Semua pilihannya tidak didahului dialog pada anak bahkan disertai ancaman. Pemaksaan tersebut tentu akan menimbulkan kecemasan dan rasa takut berkepanjangan.

“Tanpa disadari oleh orang tua, ancamannya itu akan terus membayangi jiwa anak dan akhirnya bisa membunuh masa depan anak sebelum ia sempat menginjaknya. "

Penutup

Parenting merupakan sebuah pola interaksi yang relatif dan konsisten dari orang tua kepada anaknya dalam dua aktivitas yaitu pengasuhan dan pendidikan di empat masa (kehamilan, pengasuhan , pendidikan dan pertemanan). Tentu dengan tujuan menhantarkan anak menuju dunia dewasa.

“Jika kita ingin mengubah perilaku mulailah dari mengubah paradigma.” (Steven Covey)

Ya, ketika ingin mengubah perilaku seseorang apalagi konteks parenting maka kita harus mengungkap dan mengubah paradigma yang keliru tentang parenting. Pada buku Membayar Utang Pengasuhan (Diah Mahmudah dan Dandi Birdy, 2020) dijabarkan secara lengkap 10 paradigma keliru mengenai parenting. Saya akan mencoba membahasnya di artikel berikutnya.

Jangan sampai kita masih memakai sepatu yang kesempitan karena kaki kita terus membesar tapi kita makasakan dengan sepatu yang sama. Tentu akan melangkahkan kaki menjadi tidak nyaman, kaki lecet, kapalan dan menimbulkan rasa sakit. 

Jika kamu termasuk seorang yang menjalani kehidupan dari orang tua tidak serta merta membuat kita harus menyalahkan dan membenci orang tua. Saat itu mungkin itulah pemahaman yang terbaik yang dimiliki orang tua kita saat mendidik kita di masa kecil.

Namun, bukan berarti kita harus mendiamkan luka pengasuhan. Membasuh luka pengasuhan diperlukan untuk menyembuhkan luka yang telah tertoreh di jiwa kita. Karena memaafkan bukan membenarkan perilaku tapi untuk kesehatan jiwa kita sendiri. 

Satu lagi, meskipun kita bukan anak yang merasa hidup dengan harapan orang tua seperti yang dijabarkan di atas, jangan sampai kita menorehkan luka pengasuhan kepada anak -anak kita. 

Mari kita sadari luka pengasuhan yang kita alami dan tidak meneruskan atau membuat luka kepada generasi selanjutnya. Selalu minta pertolongan kepada Allah dalam merawat generasi selanjutnya.

Semoga bermanfaat, salam.

membasuh luka pengasuhan
shafira adlina cerita mamah
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

15 komentar

  1. Balasan
    1. jangan sampai kita jadi pelakunya ya kak....

      Hapus
  2. membasuh luka lama parenting ini sekilas mirip dengan inner child kah kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. luka pengasuhan itu inner child yang negatif teh. aku bahas juga di artikel yang review buku trip to forgive teh

      Hapus
  3. parenting itu memang tidak mudah ya kak, sebelum kita menerapkan metode parenting memang sebaiknya luka lama kita sebagai orangtua diselesaikan terlebih dahulu agar hal yang sama yang terjadi pada kita tidak terulang

    BalasHapus
  4. Quotenya bagus bagus. Iya iya, jadi harus banyak belajar menahan diri agar tidak mudah membandingkan, menilai berlebihan. Innerchild ngaruh banget di sini.thank sharingnya

    BalasHapus
  5. aamiin, semoga kalau besok kafa punya adik aku bisa berusaha optimal untuk tidak membandingkan insan2 kamil yg dititipkan padaku, aamiin...

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, memang tanggungjawab jadi orangtua itu besar ya mbak, tapi ya kasih harapan yang sesuai sama kemampuan anak aja, jangan muluk-muluk.

    BalasHapus
  7. Berbicara tentang orang tua yang pengen banget anaknya jadi Dokter, aku pernah punya teman yang kayak gitu. Dipaksa buat Kedokteran kalau jurusan lain enggak terlalu didukung. Kasian sih. Aku alhamdulillah apa aja asal menghasilkan hahha

    BalasHapus
  8. Bahagia banget ya kakak. Semoga saya pun bisa

    BalasHapus
  9. Bener banget jangan sampe kita membuat luka penasuhan pada anak-anak karena dampaknya sampai kita dewasa.

    BalasHapus
  10. Semoga aku bisa mendidik anak nantinya dengan lebih baik lagi aaamiin. Makasih mamah sudah mengingatkan untuk menyadari.Dulu sering banget denger ungkapan begitu.

    BalasHapus
  11. Terkadang orang tua nggak sadar ya telah menorehkan luka dalam masa pengasuhan. Membanding2kan anak dengan saudara maupun teman2nya atau menuntut anak harus mengikuti kemauannya ..

    Tentunya ini jadi reminder juga buat saya agar jadi orang tua jangan egois dan memahami bahwa setiap anak itu unik dan punya kemampuannya sendiri yg patut dihargai dan didukung

    BalasHapus
  12. Terkadang kita mungkin juga pernah mengalami hal ini sama orang tua baik dulu maupun sekarang ini, dulu saya juga pernah mengalami kayak gini :)

    BalasHapus
  13. pernah liat film atau drama apa yaaaa
    yang si anak selalu pasang muka atau tampang emas juga buat bahagiain ortu

    eh lama2 hidupnya berasa palsu krna semua yg dilakuin nggak berasal dari keinginan dia,

    Bentar mikir dulu di drama apa hihi

    BalasHapus