-->
mOaB8SxtB0X1FfqkEcWCngeyJrUW9rkTfz5H9ziF

Zero Waste Cities, Stimulator Pemerintah untuk Pengelolaan Sampah dari Kawasan

zero waste cities adalah

Pernahkah kita berpikir, ketika usai membeli suatu barang; misalnya kardus paket belanja online jika sudah tidak terpakai, kemanakah sampah benda ini mendarat?

Setiap aktivitas manusia, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali tidak luput dari sampah dan limbah. Wajar apabila pertambahan penduduk berbanding lurus dengan pertambahan volume limbah dan sampah yang dihasilkan.

Selain pertambahan penduduk yang pesat, peningkatan timbulan masalah sampah juga ditambah dengan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat,baik dari segi konsumsi maupun produksi masyarakat yang semakin beranekaragam. Tengoklah jajanan anak-anak zaman sekarang yang didominasi dengan kemasan plastik. Belum lagi banyaknya keperluan rumah tangga yang dijual dengan ecer, seperti sampoo, sabun mandi dan detergen dalam kemasan sachet. Kemasan sachet tersebut tentu menghasilkan limbah yang tidak sedikit.

Peliknya Pengelolaan Sampah di Indonesia

Merupakan rahasia umum bahwa timbunan sampah menimbulkan banyak permasalahan, baik secara langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat sekitar. Mulai dari pemandangan yang tidak indah hingga bau busuk yang meraja rela. Hal tersebut merupakan dampak langsung dari tumbunan sampah tersebut. Sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah penyakit menular dari pernafasan dan kulit dan bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai.

Masihkah kita menemui masyarakat yang membuang sampah ke sungai atau penimbunan sampah sementara di lahan terbuka? Hal tersebut merupakan salah satu indikator bahwa pengelolaan sampah di negara kita ini belum baik. 

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan bahwa tahun 2020 sampah di Indonesia mencapai 67,8 juta ton.Kemen LHK, Tuti Hendrawati Mintarsih menjelaskan bahwa, produksi sampah terus meningkat setiap tahun, dengan rata-rata kenaikannya satu juta ton setiap tahunnya.

Penanganan sampah tersebut yang diangkut ke dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sebesar 4,2 %, yang dibakar sebesar 37,6 % , yang dibuang ke sungai 4,9 % dan tidak tertangani sebesar 53,3 % (BPS).

Perilaku masyarakat untuk mengolah sampah tersebut tentu bergantung dengan pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Paradigma tentang pengolahan sampah yang terukir di dalam kepala masyarakat Indonesia sampai pada saat ini masih mengandalkan proses kumpul-angkut-buang, jauh dari kata ramah lingkungan. Hal ini diperkuat dengan keterbatasan lahan untuk TPA dan manajemen pengolahan sampah yang belum baik.

Sebelum bicara tentang manajemen pengolahan sampah,kita bisa melakukan beberapa usaha di bawah ini untuk mengurangi produksi sampah.

3 Aktivitas di Rumah untuk Mengurangi Produksi Sampah

Harapan menuju perubahan lebih baik itu selalu ada, dengan syarat kita harus ambil peran dalam perubahan tersebut. Hal yang pertama dapat kita lakukan adalah dengan mengurangi sumber sampah dari segala aktivitas kita. 

1. Mulai dari memilih produk kemasan dengan ukuran lebih besar

Dewasa ini semua produk banyak memberikan alternatif kemasan dengan berbagai macam ukuran. Kita akan menjadi lebih bijak jika memilih ukuran yang lebih besar. Hal tersebut membantu mengurangi volume sampah yang akan timbul.

2. Menghindari barang dengan berumur pendek 

salah satunya adalah hindari untuk membungkus makanan dengan steroform, plastik atau kertas bungkus sekalipun. Ketiganya memiliki umur yang pendek dari segi pemakaian dan memiliki waktu yang lama dalam proses penguraian. Jika memang harus membungkus makanan, usahakan memakai tempat makanan tertutup yang bisa digunakan berulang kali.

3. Menghabiskan makanan dan mendaur ulang barang-barang

Selain hal-hal di atas kita dapat memisahkan sampah dari rumah kita sendiri. Dalam memisahkan sampah, mulai dari sampah yang mudah/tidaknya membusuk. Sampah yang mudah membusuk kita dapat membuat kompos secara mandiri ataupun kirim ke tempat pengomposan sementara sampah yang sulit membusuk dapat kita jual atau sumbangkan.

Sadar Diri Mengelola Sampah saja Tidak Cukup!

Tenyata tidak cukup jika hanya menuntut kesadaran Masyarakat untuk mengelola sampah. Perlu ada kerja sama yang solid dengan pemerintah juga swasta. Kenapa? Sadar atau tidak, kita sulit melebarkan proyek-proyek “ramah lingkungan” seperti ini.

Sekitar tahun 2010, saya pernah terlibat menjadi salah satu tim penerima dana Hibah dikti untuk program pengabdian masyarakat. Kurang lebih selama 6 bulan kami mengedukasi, membimbing, dan memonitor satu RT di kawasan Tangerang agar dapat membuat kompos sendiri di tiap rumah. Hasilnya memang hampir semua bisa melakukan pemilahan dan pengomposan. Sayangnya, setelah kegiatan itu selesai, kami mensurvei acak hanya beberapa keluarga yang meneruskan program pemilahan dan pengomposan ini. 

Senada apa yang disampaikan Teh Anil dari Yayasan Pengelolaan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) dalam "Talkshow Zero Waste Cities : Cegah Tragedi Leuwigajah Terulang". Mengelola sampah di Indonesia tidak cukup hanya membutuhkan kesadaran masyarakat memilah dan mengomposkan sampah rumah tangga. Kita perlu regulasi yang ketat dan kerja sama yang solid dari pemerintah dan swasta.

Manajemen pengolahan sampah di beberapa kota pada umumnya dilakukan dinas kebersihan kota dengan keterlibatan masyarakat maupun pihak swasta. Biasanya, masyarakat terlibat dalam sektor pengumpulan sedangkan pihak swasta mengelola persampahan pada kawasan elit.

Teh Anil mengatakan pengangkutan sampah memerlukan dana yang tidak sedikit. Di Bandung, setiap harinya memerlukan sekitar 100 juta rupiah sebagai ongkos pengangkutan. 

Sayangnya, kinerja dinas kebersihan cenderung menurun salah satunya dikarenakan adanya tumpang tindih fungsi di dalam dinas kebersihan itu sendiri. Dinas kebersihan memiliki fungsi sebagai pengelola, pengatur, pengawas, dan pembina pengelola persampahan. Suatu hal yang tidak efektif jika sebagai pihak pengatur yang seharusnya dapat mengukur kinerja keberhasilan operator pengelolaan sampah dan sekaligus menerapkan sangsi sebagai mana mestinya. Hal tersebut tidak akan pernah terlaksana dengan baik karena operator tersebut tidak lain adalah dirinya sendiri.

Memang hal utama yang dapat memayungi pengolahan sampah baik ditingkat pusat maupun daerah adalah kebijakan secara menyeluruh dari pemerintah kita sendiri. 

Dalam kebijakan ini kita memerlukan pemisahan yang jelas antara pembuat peraturan, pengatur dan pelaksana pengolaan sampah demi optimasi kinerja SDM pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah pada saat ini berdasarkan wilayah administrasi, optimasi dapat dilakukan dengan mengubahnya secara regional dengan menggabungkan beberapa kota dan kabupaten dalam pengelolaan persampahan. Hal ini akan menguntungkan karena lebih ekonomis dalam tingkat pengelolaan TPA dan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA. 

Oleh sebab itu, peraturan daerah bersama yang mengatur pengelolaan persampahan harus dibentuk. Peraturan tersebut tentu harus mempertimbangkan segala aspek, baik teknik pengolaan sampah, keuangan, hukum dan kelembagaan.

Sampai pada saat ini kebijakan pemerintah yang ada hanyalah pada tahap teknis yaitu dengan melakukan pengurangan timbulan sampah dengan menerapkan Reduce, Reuse dan Recycle ( 3 R ), dengan harapan pada tahun 2025 tercapai “zero waste“. Harapan itu akan menjadi hanya harapan apabila kita tidak memiliki kebijakan yang tepat dengan realita yang ada.

Kita menemukan semangat perubahan pengelolaan sampah nyata dari teman-teman yang memprakasai Zero Waste Cities dari YPBB. Apa itu Zero Waste Cities?

Mengenal Zero Waste Cities

Zero Waste Cities (ZWC) merupakan program pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistik dan berkelanjutan yang terdesentralisasi di kawasan pemukiman. Inisiator program Zero Waste Cities adalah Mother Earth Foundation di Filipina. Zero Waste Cities meliputi beberapa aspek, mulai dari edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi, hingga pembiayaan.

Sejak tahun 2017, YPBB telah mengadaptasi program tersebut di wilayah masing-masing di tiga kota, yaitu Kota Cimahi, Kota dan Kabupaten Bandung. 

YPBB merupakan sebuah organisasi non-profit profesional berlokasi di Kota Bandung yang konsisten mempromosikan dan mempraktikkan pola hidup selaras alam untuk mencapai kualitas hidup yang baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Program ini memiliki tujuan untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat Kota/ Kabupaten. Jika program ini diimplementasikan dalam skala luas, tentu dengan dukungan penuh dari Pemerintah daerah dan pusat dapat membantu pengelolaan sampah yang lebih baik. 

Program ZWC memiliki harapan untuk dapat membantu dalam mencapai target pengurangan sampah yang diamanatkan dalam Kebijakan Strategis Pengelolaan Sampah Nasional tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

ZWC mendorong tanggung jawab pemerintah untuk pengelolaan sampah dari kawasan.

Belajar dari ZWC Cimahi dan Bandung

Berkaca dengan Program ZWC di Bandung dan Cimahi . Kita sama-sama sadar bahwa tidak mudah untuk menumbuhkan kesadaran dalam pengelolaan sampah dari kawasan. Namun, tidak cukup kesadaran untuk mengelola sampah demi bumi yang lebih baik. Perlu ada jalan yang seirama antara kesadaran masyarakat dan aturan pemerintah. Seperti yang dijelaskan di awal artikel bahwa sikap dan aturan pemerintah juga bisa “memaksa” pengelolaan sampah dari kawasan ini.

Kang Pisman Bandung

Zero Waste Cities yang diadaptasi di Kota Bandung dikenal dengan Gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan). Gerakan Kang Pisman dicanangkan sejak tahun 17 Oktober 2018 oleh Pemerintah Kota Bandung. 

Sesuai pemaparan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Dr.Kamalia Purbani MT, sampai saat ini sudah ada 143 Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung yang sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, 

Gerakan Kang Pisman juga berkolaborasi dengan Gerakan Buruan Sae (buruan adalah halaman dalam bahasa Sunda) atau program Waste to Food. 

Pemilahan Sampah di RW 7 Kelurahan Lebakgede Bandung

Cimahi Barengras

Lain Bandung, Lain Cimahi. Cimahi mengadaptasi program Zero Waste Cities dengan nama Cimahi Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah), dengan filosofi logo 3R (reduce, reuse, recycle) dan matahari di tengahnya yang bisa membuat dunia bengras atau terang.

Sampai tahun 2019 Cimahi Barengras sudah melayani 19 ribu jiwa yang tersebar di 15 Kelurahan di Kota Cimahi. Tingkat partisipasi pemilahan di tahun 2019 mencapai rata-rata 63%. Pengurangan sampah ke TPA dari area yang sudah melakukan pengumpulan terpilah mencapai 35% (YPBB). 

Pengolahan sampah organik di RW 16 Kelurahan Utama Cimahi 

Kabar gembiranya selain Kota Cimahi, Kota dan Kabupaten Bandung, tahun 2019 Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) serta Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) juga menjalankan program Zero Waste Cities di Denpasar dan Surabaya. Zero Waste Cities ini juga sudah mulai dikembangkan di Medan bekerjasama dengan Walhi Sumatera Utara. 

Apa yang ingin disampaikan dengan program Zero Waste Cities ini? Zero Waste Cities ini ingin menyampaikan khususnya pemerintah setempat agar lebih serius dan ketat untuk melakukan regulasi pengelolaan sampah di Indonesia. 

Penutup

Model Pengelolaan Sampah Zero Waste Cities ini bertumpu pada pemilahan sampah dan pengolahan di skala lokal. Tidak cukup menambah kesadaran masyarakat untuk memilah sampah. Perlu regulasi yang serius dan ketat dalam mengelola sampah. Zero Waste Cities mendorong tanggung jawab pemerintah untuk pengelolaan sampah dari kawasan. 1000 langkah besar dimulai dari 1 langkah kecil, jika kita bisa memulainya hari ini dan saat ini juga. Kenapa tidak?


Semoga bermanfaat, salam.


shafira adlina cerita mamah
Related Posts
Shafira Adlina
Mamahnya Sakha dan Hafsah. Mamah yang suka nulis dan desain. Masih belajar jadi bloger, asessor dan fasilitator. Untuk kerja sama silahkan hubungi email : adaceritamamah at gmail dot com

Related Posts

7 komentar

  1. Penting banget ya Mba untuk mulai peduli sampah dengan memilah dari rumah. Zeri Waste ini perlu dukungan semua elemen pemerintah, perangkat kelurahan dan masyarakat. Salut sama kota yang sudah menjalankan Zero Waste Cities.

    BalasHapus
  2. nggak gampang ngelaksanain zero waste apalagi dalam lingkup masyarakat yg kadang beda kesadaran tiap orang. makanya pak RW nya yg harus berperan aktif. Kalau nggak bakal nggak jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak lita harus dari segala aspek dalam menangani sampah ini

      Hapus
  3. Saya akan mulai dari diri saya dan keluarga saya, memilah sampah yang da dan menggurangi penggunaan plastik.

    BalasHapus
  4. semoga makin banyak Kota yang terlibat dalam program seperti ini ya agar zero waste bukan sekedar wacana dan angan-angan lagi, tapi jadi kenyataan agar bumi jadi sehat kembali.

    BalasHapus
  5. Mulai dari rumah tangga ya, sehingga sampah mulai untuk awal dipilah. Kmd lanjut di tingkat lingkungan. Smoga ZWC diikuti oleh seluruh daerah di Indonesia

    BalasHapus