Pengalamanku Mengalami Covid-19 dan Isoman di Rumah

Photo of author

By Shafira Adlina

Pengalaman Covid dan Isolasi mandiri di Rumah. Hampir tak percaya hari itu tiba. Hari di mana aku mendapatkan diri ini menjadi rumah virus yang selama ini dibicarakan banyak orang, yang menjadi momok setiap orang. Apa perasaan yang berkecamuk di dalam dada ini ketika mendapatkan diri demikian?

Ketika pertama kali mengetahui kenyataan ini, saat disodorkan hasil test. Hanya ada air mata yang jatuh, entah sedih, marah kesal rasanya aku terjatuh tersungkur. Padahal sebelum test, aku seolah mempersiapkan hati jika ini terjadi apa yang harus kulakukan. Ternyata aku lemah, selemah-lemahnya manusia. ketika aku positif

Kronologi Sakit Mahkota Virus

Sebelumnya anak-anakku mengalami flu beberapa hari. Di minggu itu suamiku pulang dari luar kota kemudian demam, ia mengalami demam yang tidak biasa. Setelah berangsur baik, barulah aku yang mengalami demam.

Jika diihat ciri-cirinya sakit yang menderitaku sebetulnya termasuk gejala ringan. Aku demam di hari selasa, selama 1 hari 1 malam aku merasa sakit seperti flu tulang. Sakitnya terasa sampai ke setiap sendi, rasanya hampir mirip dahulu saat terkena DBD.

Namun, seusai sembuh dari demam tiba-tiba indra penciuman dan pengecapku hilang. Di hari itu aku memandikan putriku seperti biasa dan membalurkannya dengan minyak, namun tak ada bebauan yang bisa kuhirup.

Aku panik, lalu menceritakan pada suamiku. Ia menganggap itu hal yang biasa jika flu, mungkin pemulihan. Aku masih sangsi.

Di hari yang sama anak pertamaku mencuci truk dorongnya dengan sebotol kispray. Bukan marah atau shock karena kispray dibuang sebanyak 500 ml, namun aku heran wanginya tak ada yang kuhirup.

Aku beraktivitas seperti biasa, mencuci piring, memasak, bermain dengan anak-anak dan rebahan serta membaca chat whatsapp seperti biasa. Lalu kubaca grup satu per satu ternyata kerabat, teman-temanku mulai banyak yang terjangkit dengan virus yang memiliki morfologi makhota ini.

Kemudian aku bercerita di grup kuliah,bahwa aku mengalami anosmia atau hilangnya indera penciuman. Salah satu teman dan suaminya temanku juga memiliki gejala yang sama. Aku diarahkan untuk swab antigen atau PCR untuk memastikannya.

Kuambil smartphone dan mencari informasi, berharap bahwa ketika mengalami anosmia bukan hanya diagnosa covid yang menanti. Semakin banyak informasi yang dicari malah semakin mengerucut bahwa gejalaku ini adalah SARS COVID 19.

Aku masih denial, berharap ini bukan penyakit yang selama ini dibicarakan, ini flu biasa. Suami juga mengafirmasi terus bahwa saluran pernapasanku yang belum kembali.

Namun, badan ini terasa berbeda indra pengecapku pun makin menghilang. Pedas , asin, asam makanan semua terasa hambar.

Esoknya suamiku bertanya “Mami mau pesawat jam berapa hari senin?”

Kebetulan, senin depan sebenarnya ada jadwal mengajar di Kepulauan Bangka. Maka hatiku mulai bicara, mau bagaimana juga aku harus diswab nantinya.

“Mas, kita mending swab aja. Aku anosmia dua hari, kalau googling ini tanda covid.”

Suamipun setuju, sorenya kami langsung pergi ke Bandara Halim untuk swab karena paling dekat dengan rumah.

Berangkat Menuju Tempat Swab

Sebelum menuju tempat swab, aku menjemur cucian yang telah di spin beberapa jam lalu. Hari itu hafsah rewel sekali, ingin dipeluk ingin ikut. Seakan ia feeling bahwa mamahnya ini sedang sakit dan tak bisa bertemu lagi. Ternyata benar, hari itu hari terakhir aku mengendongnya sebelum 2 minggu di-isolasi.

Sepanjang perjalanan aku membesarkan hatiku bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik. Saat itu di kepalaku hanya ada kerjaan dan nasib anak-anak, apakah mereka terpapar? Kalau aku positif aku harus segera mencari penggantiku mengajar.

Swab woman hijab

Belajar Ikhlas

Hal yang paling menggelayuti otakku saat itu adalah pelatihan blogger di Kepulauan Bangka yang sudah direncanakan dari tahun lalu. Rencana tinggalah rencana. Belum lagi ada amanah pekerjaan proyek di salah satu perusahaan temanku.

Begitu hasil swab selesai, nama kami berdua dipanggil. Qodarulloh suami negatif, saya dinyatakan positif. Rasanya benar-benar dunia runtuh. Tak terasa aku meneteskan air mata. Semua perasaan menjadi satu, khawatir, kecewa, sedih, marah tapi tidak jelas kepada siapa.

Beruntungnya Allah memberikan suami di sampingku di saat seperti ini. Suami langsung seketika berucap “innalillahi wa inna ilaihi wa rojiun, Ayo ucapkan dulu.”

Kelu sekali menghadapinya. Pelan-pelan kucoba terus untuk memohon ampun pada Allah.

“Astagfirulloh”  sepanjang parkiran aku berjalan sambil memegang lengan suami seraya menangis tak kuasa. Ternyata rasanya sedown itu. Lupa semua skenario yang kususun.

Apa yang harus kulakukan ketika positif covid-19?

Setelah dinyatakan positif, aku pun bingung sebenarnya. Batinku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan?

Aku langsung mengabarkan kepada kedua temanku yang sedang berjuang isoman, Riyu dan Coco yang suaminya juga lagi isoman. Seharusnya memang menghubungi dokter terlebih dahulu agar tata laksana isoman kita lebih benar. Namun, aku butuh teman untuk bercerita saat itu juga.

Suami mengantarkanku di depan apotik. Sesungguhnya, aku takut bertemu dengan orang-orang saat itu. Aku takut menulari orang banyak karena di dalam diriku ada virus yang menjadi headline setiap situs berita online.

Aku mematung di depan pintu, aku izin untuk menelepon pada suamiku. Coco, teman semasa kuliahku dulu, menawarkan diri untuk menelepon setelah kuberitahu hasil testku. Smartphone menghubungkan kami, antara ciputat dan cililitan. Ia menenangkan juga berbagi resep vitamin apa-apa saja yang harus dibeli ketika suaminya harus isoman dengan gejala ringan yang sama denganku.Woman covid cartoon

Konsumsi Obat dan Vitamin Selama Isoman

Setelah mendapatkan pengalaman dan nasihat dari teman-temanku Coco dan Riyu. Aku juga berusaha untuk berkonsultasi via telemedicene dengan dokter di halodoc berikut apa saja yang kukonsumsi selama isoman.

1. Multivitamin, mineral dan zinc

Prinsipnya tubuh sedang  diserang oleh virus, dan harus membangun pertahanan, antibodi dan memperbaiki sel-sel. Multivitamin membantu proses tersebut. Coco memberikan saran untuk mengonsumsi multivitamin ini. Aku membeli merk BECAM ZET. Suplemen ini sudah mengandung multivitamin, mineral dan zinc.

2. Vitamin D 5000iu

Vitamin D biasanya kita konsumsi itu maksimal 1000iu. Saat mengalami infeksi virus corona ini kita diberi resep hingga 5000iu. Berdasarkan penelitian,

Vitamin D menghambat ekspresi dan mengurangi transkripsi beberapa sitokin proinflamasi. Di lain sisi, vitamin D juga meningkatkan sitokin T helper yang bersifat antiinflamasi. Vitamin ini juga memiliki efek antiproliferatif yang poten pada sel T, khususnya sel T helper, dan menurunkan produksi antibodi sel B.

Singkat kata vitamin D membantu sistem imun di dalam tubuh kita.

3. Vitamin c 1000

Sebagaimana kita tahu vitamin c juga membantu mengembalikan daya tahan tubuh ya.

4. Azitomycin

Saya diberikan resep antibiotik ini dari halodoc sehari 1 tablet selama 5 hari. Selain antibiotik ada juga temanku yang diberi resep Oseltamivir, namun ingat itu tergantung dengan gejalanya masing-masing ya.

5. Herbal penunjang imunitas

Berikut beberapa herbal yang aku konsumsi selama isolasi mandiri.

  • VCO

virgin coconut oil konsumsi 3 kali sehari sebanyak 1 sendok. Sebagai ikhtiar antivirus. Setelah saya isolasi mandiri, ternyata ada jurnal yang meneliti pengaruh VCO dan Virus Covid ini dan hasil mempengaruhi. Jika sudah ketemu insya Allah saya update blogpost ini ya.

  • Madu biomaag

Ini hasil rekomendasi mamah dan saudaraku karena hari kedua diagnosa aku muntah dan mual-mual terus.

  • Bee pollen dan madu clover HDI

Ini karena ada di rumah sebenarnya, sebagai ikhtiar meningkatkan imunitas. Hari ketujuh atau berapa ya, saya diberikan clover honey oleh teman saya yang merasa membaik mengonsumsi clover honey HDI saat isoman. Alhamdulillah biiznillah saya coba ikhtiar juga.

  • Kapsul Vermint

Karena mengandung asam amino dan membantu proses pemulihan.

Apa yang harus dilakukan ketika harus isolasi mandiri saat positif covid-19?

Layaknya orang sakit, dengan gejala ringan covid-19 ini memang harus istirahat dan makan yang sehat serta minim stress. Menerima bukan hal yang mudah. Sejujurnya, hari pertama begitu gelap. Rasanya berat sekali menerima keadaan ini. Kepalaku terasa berat, hatiku jauh lebih berat menerima keadaan ini.

Anak-anak dan suami langsung diusingkan ke lantai bawah tempat mertua. Oh rasanya seperti ini. Namun, aku berusaha mencoba bangkit setiap harinya meski hasil belum terlihat.

Jika ditanya apa saja yang harus dilakukan, dari beberapa sumber yang kubaca dan berdasarkan pengalaman.

1. Konsumsi makanan yang mengandung protein yang cukup

Protein adalah zat pembangun yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Dengan kata lain protein dapat berguna untuk mengganti sel tubuh yang rusak. Meskipun teman-teman sepertiku yang kehilangan indera penciuman dan pengecap, tetap semangat untuk konsumsi makanan yang berprotein ya.

Akupun mengalami benar-benar kehilangan nafsu makan. Aku teirngat setiap harinya, ibu mertua memasakkan makanan yang syarat akan gizi. Suami sering membelikan makanan kesukaanku lewat aplikasi ojek online. Mulai dari pecel ayam, kol goreng sampai hokben. Entah kenapa semua terlihat sama. Namun, teman-teman harus berjuang ya demi kesembuhan.

2. Booster dengan vitamin C dan D

Seperti yang dijelaskan di atas, konsumi vitamin dapat membantu tubuh memperbaiki diri. Jangan lupa untuk konsultasikan dulu ke dokter ya.

3. Konsumsi mpon-mpon

Mpon-mpon atau rempah-rempah Indonesia memang terkenal khasiatnya. Namun, mpon-mpon bukanlah obat untuk covid-19, mpon-mpon seperti jahe berfungsi memperkuat sistem imunitas tubuh. Saya bersyukur memiliki ibu mertua yang baik, setiap hari saya selalu dibuatkan air rebusan jahe, walaupun saat itu seperti meminum air putih, hambar.

4. Istirahat total

Ketika mengalami gejala ringan dan harus isoman. Jujur saya merasa lesu sekali, lemas. Aku hendak tidur saja dan berharap ini hanya mimpi. Meskipun kalian tanap gejala, harus tetap isoman dan istirahat penuh ya. Supaya tubuh benar-benar pulih.

Ternyata Aku Tidak Menyertakan Allah

Kini jika merenung, aku berpikir saat menghadapi kejadian ini, aku tidak langsung menyertakan Allah. Aku hanya berpikir obat apa, vitamin apa, konsultasi ke siapa. Tanpa meminta ampun dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa, Allah Ta’ala.

Hari-hari yang kulalui saat isoman memang terasa berat. Aku sendiri merasa lupa untuk bersyukur. Padahal ada banyak hal yang harus kusyukuri, mulai dari suami yang selalu mendukung. Suamiku memang benar-benar kaya radio yang di satu frekuensi. Iya sambil mengantar makanan, atau sesekali menengokku ke atas memberikan semangat “Ayo mom, semangat sekarang waktu praktik.”  “Jangandilawan, pasrah aja, hadapi, semangat.” dan sebagainya.

Ada mertua yang baik dan bisa menjaga anak-anak. Beberapa teman juga mengirim vitamin, makanan-makanan. Saat ini suami bertanya, kok bisa tahu ya teman-temanmu? Hihi.

Di setiap malam awal-awal isoman, mata ini sulit sekali untuk langsung merem. Padahal bisa saja nonton wishlist drakor, tapi rasanya tidak mood ga ingin nonton. Sampai-sampai kunyalakan semua ceramah ustad nuzul dzikri dan ayat-ayat ruqyah dari spotify untuk pengantar tidurku.

Sekitar hari ketiga aku divonis, aku mencoba mencari doa dari teman-teman online di instagram, walaupun beberapa minggu ini memang sudah sepi instagram dan blog karena aku tidak mengurusnya.

Tak disangka-sangka banyak orang baik di sekelilingku. Banyak doa dari orang-orang baik. Beberapa saudara, kerabat dan teman-teman mengirimkan aku vitamin, makanan yang jika dimakan orang normal yang memang mengunggah. Sejuurnya aku hanya makan sedikit, lebih banyak kuberi pada anak-anak dan suami.

Namun, niat baik mereka membuat aku lebih semangat setiap harinya.

Esok harinya aku mencoba healing dengan menulis, melupakan kaidah SEO untuk melepaskan curahan hati. Akupun sudah bersemangat membaca al quran.

Tak disangka teman-teman kuliah S1 dan kerabatnya juga sedang banyak terjangkit virus ini mengadakan zoom bersama untuk yasinan dan doa bersama. masyaAllah. Rasanya terkuatkan sekali.

Dari sini aku seperti ditoel, ah bukan ditoel. Mungkin disentil, bukan disentil lagi sih ditabok kali ya. “Sadar Na, ayo bersyukur, ayo bangkit.”

Anak Sakit Saat Isoman

Nah, salah satu boosterku untuk bangkit adalah anak-anak. Hari-hari pertama aku isoman memang lemah sekali, sampai-samapi suami mengirim pesan whatsapp dan foto anak-anak tidur supaya aku lebih semangat sembuh.

Di hari kesekian belas, tiba-tiba Hafsah panas. Rasanya sedih sekali tidak bisa merawat anak sakit,  mendengarnya menangis. Panasnya tinggi sekali selama beberapa hari, hingga dibawa ke bidan oleh mertua dan suami. Dari situ aku bertekad untuk cepat sembuh dan meminta bantuan pada Allah Yang Maha Kuasa.

Qodarulloh, saya diajak suami untuk bekam kepala di tempat terapis karena di sana ada alatnya tanpa harus cukur. Pada hari itu tepatnya di minggu kedua, saya juga test swab kembali karena beberapa hari ini sudah tidak ada gejala dan perlahan sudah pulih indera pengecap dan perasa.

Alhamdulillah, ketika melihat hasil testnya dinyatakan negatif. Baru pertama kali sayas merasa bahagia ketika melihat hasil test negatif. Namun, ketika hendak pulang kami mendapatkan kabar bahwa anak sulungku kami mengalami panas. Gejalanya seperti si bungsu, panasnya hingga 39 derajat celcius.

Dari sini saya harus bangkit karena setelah 2 minggu isoman, saya harus bergegas merawat mereka. Mereka menjadi boosterku sembuh dalam berjuang menghadapi penyakit covid-19 ini.

Penutup

Aku tahu rasanya ga mudah, aku tahu kalian pasti ingin menyerah. Namun, coba terima perasaan itu perasaan kalian yang ga baik-baik saja. Kadang orang langsung memaksakan untuk ikhlas, untuk menerima. Ingat Allah tidak melihat hasil akhir saja, Allah melihat segala proses kita dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Kita perlu memberikan jeda pada diri kita untuk menyangkal, kemudian menerima ini semua. Jangan lupa untuk selalu libatkan Allah.

“Ya Allah, aku sedang ga baik-baik saja. Bantu aku, lindungi aku ya Allah.”

Sebisa mungkin ambil mushafmu, biar Allah yang menolong. Jangan lupa untuk sertakan Allah di setiap kejadian. Semoga kita menjadi Hamba-Hamba yang selalu bersabar dan bersyukur.

Jika kalian memiliki kerabat ataupun teman yang sedang isoman tetap berikan semangat, senyuman dan bingkisan apapun karena itu sangat berarti untuk mereka yang sedang berjuang. Syukur-syukur kalian bisa berbicara lewat telepon.

Semoga bermanfaat, salam.

24 thoughts on “Pengalamanku Mengalami Covid-19 dan Isoman di Rumah”

  1. Ya Allah mbaa Shafira… aku baca cerita mba ikut sedih apalagi ketika harus membatalkan jadwal mengajar ya mbak. Semoga mba sehat terus ya.. alhamdulillah sudah sembuh ya mbak

    Reply
  2. Mbaaa Inaaa i feel youuuu. Aku juga sudah melewati masa-masa isoman dan bener-bener sendirian karena alhamdulillah suami dan anak-anak negatif, jadi nginep di eyangnya. Dan aku juga gejala awalnya beneran DBD. Sampai harus ngamar malah. Alhamdulillah kita sudah melewatinya dengan baik, insya Allah. Semoga sehat selalu sekeluarga yaaa. peluk dari jauh.. Sesama penyintas harus saling support 🙂

    Reply
  3. Mbak Inaaa.. Masya Allah, semoga nggak balik lagi ya itu virus. Ini cerita mbak Ina nggak jauh beda deh sama temenku yang di Medan.

    Btw, aku juga bakal mikirin anak dulu deh mbak kalo ada apa-apa, huhu..

    Sehat-sehat ya mbak *sunjauh..

    Reply
    • Aamiin Ya Allah, denger temennya temen juga ada yang sampe kena 3 kali virus. Ya Allah lindungi kami semua ya Allah. iya mbak jadi booster semangat sembuh juga anak-anak tuh. tapi memang baru merasa se drop itu hingga terbitlah tulisan curhat, dan semoga ga galau deh ya heheh

      Reply
  4. Pengalaman mbak Shafira sama kek yang aku alami saat ini. 3 hari aku demam dan flu, dan hari ini aku anosmia. Tapi alhamdulillah aku bisa rileks, sejak demam hari pertama, udah nyiapin diri kalau terpapar, cuma tetep berharap flu biasa aja sih hehe.

    Tinggal nunggu hasil Swab besok. Alhamdulillah baca artikel ini, jadi ada bayangan harus beli obat2an apa aja. Dan terima kasih pengingatnya untuk selalu menyertakan Allah…

    Reply
  5. Alhamdulillah.. Mba Ina so strooong. Kupikir waktu itu kan beberapa hari sblm mba Ina bilang + mba ina habis vaksin. Kupikir karena ituu. Ternyata positif beneran. Alhamdulillah anak2 juga bisa melalui semuanyaaaa. Jadi pelajaran berharga bangett. Setuju bangett kadang kalau panik ini itu karena sakit mikir gimana caranya biar segera sembuh. Lupa kalau Allah yg kasih sakit, Allah juga yang insyaAllah akan angkat penyakit kita. Huhuhuu sering juga aku lupa soal itu mba.
    Thankyouu sudah berbagiii

    Reply
    • iya Mbak Jihan, waktu itu suami dulu yang vaksin. aku ada kegiatan waktu itu, pas mau vaksin eh qodarulloh +. iya lupa euy praktiknya…alhamdulillah masih dikasih kesadaran pas nulis hehe. makasih mbak udah baca 😀

      Reply
  6. Peluk virtual ya mbak

    Ya Allah. Knapa ikut baper diriku.
    Sebagai seorang ibu hak terberat adalah gak bisa jauh dari anak2.
    Ehm, aku tertamoar mbak dg kalimat tidak melibatkan Allah.

    Iyup benr2 ..ini oengingat buat aku juga mbak.

    Allah maha besar maha baik. Harusnya minta tolong pertama tuh langsung k yang punya takdir ya mbak.

    Bismillah mbk jadi banyak hikmah buat kita semua. Tulisan mbak jadi reminder buat kami khususnya aku

    Reply
  7. Alhamdulillah akhirnya kini sudah membaik kondisinya. Mata sampai berkaca kaca sepanjang membaca pengalaman panjang melewati masa isoman.

    Dan ya … poin terakhir tentang menyertakan Allah Ta’ala langsung menyentak. Kadang kita sibuk begini begitu namun sering ada saja abainya pada keberadaan Allah.

    Semoga sehat terus sehat selalu Mba. Terima kasih banyak sudah berbagi pengalaman.

    Reply
  8. Alhamdulillah ya mbak Ina, sudah melewati itu semua. Waktu aku baca kabar mba Ina, ternyata suamiku kena juga. Dan betul, beberapa obat ada yang samaan. Memang mindset itu berpengaruh dan mendekatkan diri ke Tuhan itu penting banget. Semoga kita semua diberi perlindungan dari wabah ini ya

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You cannot copy content of this page